[HOTD] qiyamuR Ramadhan atau shalat taRawih

bismillahhiRRahmaniRRahim

Hadist Riwayat ThabRani mengatakan, Rasulullah beRsabda:
“Allah Subhaanahu Wa Ta’ala akan melihat beRlOmba-lOmbanya kalian dalam kebaikan di bulan ini (Ramadhan), kemudian Allah Subhaanahu Wa Ta’ala akan membanggakan kalian dihadapan paRa malaikatnya, maka tunjukkanlah kebaikan yang kalian keRjakan, sesungguhnya ORang-ORang yang meRugi pada bulan Ramadhan adalah ORang yang teRhalang daRi Rahmat Allah Subhaanahu Wa Ta’ala “.

FiRman Allah :


وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku beRtanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan peRmOhOnan ORang yang beRdO`a apabila ia memOhOn kepada-Ku, maka hendaklah meReka itu memenuhi (segala peRintah) Ku dan hendaklah meReka beRiman kepada-Ku, agaR meReka selalu beRada dalam kebenaRan.” (Q.S. Al-BaqaRah : 186)

Sabda Nabi SAW :


ثلاثة حق على الله أن لا يردلهم دعوة: الصائم حتى يفطر, والمظلوم حتى ينتصر, والمسافر حتى يرجع

“Tiga ORang, yang Allah mewajibkan tidak teRtOlak dOanya: yaitu yang sedang shaum sampai ia beRbuka, ORang yang sedang teRaniaya sehingga teRlepas daRi aniaya, dan ORang yang musafiR hingga kembali.” (H.R. Al-BazzaaR)

Memilih DOa Pada QiyamuR Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan di mana dOa-dOa ORang yang shaum sangat makbul. Oleh kaRena itu kita dianjuRkan untuk beRdOa seseRing mungkin dan sebanyak-banyaknya. Tidak ada dOa khusus untuk amalan apa pun juga. Dan tidak ada yang salah beRdOa dengan dOa yang kita suka asalkan tidak melanggaR kaidah. Maka dOa yang mana pun yang untuk tujuan kebaikan dunia dan akhiRat dibenaRkan. SepeRti yang biasa suka dibacakan di beRbagai masjid dengan dOa yang beRvaRiasi maka itu semuanya baik. Hanya saja masalah adab-adab beRdOa haRus tetap dijaga, di antaRanya haRus dengan suaRa yang lembut, khusyu, dan taRtil.

BeRdOa adalah uRusan ibadah, tetapi memilih dOa yang mana yang lebih baik adalah kita dibeRi kewenangan untuk memilih. Jadi, sekiRanya pembaca menemukan dOa yang beRbeda-beda tidak ada masalah.

Di antaRa dOa yang baik untuk dibaca setelah shalat taRawih adalah:


اللهم إنا نسألك برضاك والجنة ونعوذبك من سخطك و النار. اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عنا ووالدينا وعن جميع المسلمين والمسلمات برحمتك يا أرحم الراحمين

“Ya Allah, kami memOhOn ke hadapan-Mu untuk mendapatkan keRidhaan-Mu dan sORga-Mu. Kami beRlindung daRi kemuRkaan-Mu dan siksa NeRaka. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Mulia. Engkau suka mengampuni, Oleh sebab itu ampunilah kami dan ampunilah ibu bapak kami dan semua Muslimin dan Muslimat dengan kasih sayang-Mu. Ya Tuhan Yang Maha Penyayang.”


اللهم إني أسألك من خير ما سألك منه نبيك محمد صلى الله عليه وسلم ونعوذبك من شر مااستعاذك منه نبيك محمد و أنت المستعان وعليك البلاغ ولا حول ولا قوة إلا بالله.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memOhOn kepada-Mu daRi sebaik-baik apa yang telah dimOhOnkan kepada-Mu Oleh Nabi Muhammad SAW. Dan aku beRlindung kepada-Mu daRi sejahat-jahat kejahatan yang Oleh Nabi Muhammad minta peRlindungan kepada-Mu daRi padanya. Engkaulah tempat memOhOn peRtOlOngan, Engkaulah yang menyampaikan sesuatu. Tidak ada daya upaya dan kekuatan selain dengan Allah.” (H.R. TiRmidzy daRi Abu Umamah)


اللهم أصلح لي ديني الذى هو عصمة أمري و أصلح لي دنياي التى فيها معاشي و أصلح لي أخرتي التى فيها معادي واجعل الحياة زيادة لي فى كل خير واجعل الموت راحة لي من كل شر

“Ya Allah, peRbaikilah untukku agamaku, yang menjadi pemelihaRa bagi uRusanku; dan peRbaikilah bagiku duniaku, yang di dalamnya beRlalu kehidupanku, dan pelihaRalah untukku akhiRatku yang kepadanyalah tempat kembaliku. Jadikanlah kehidupanku meRupakan tambahan bagiku teRhadap segala Rupa kebajikan dan jadikanlah kematianku waktu untuk beRistiRahat daRi segala kejahatan.”(H.R. Muslim daRi Abu HuRaiRah)


اللهم أعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

“Ya Allah, bantulah kami untuk selalu beRdzikiR kepada-Mu, untuk selalu mensyukuRi-Mu dan untuk kebagusan ibadat kami kepada-Mu.”(H.R. Al-Hakim)

Shalat WitiR

Yaitu shalat sunnat dengan Rakaat ganjil pada waktu malam. Jumlah Rakaat daRi mulai satu Rakaat sampai sebelas Rakaat. Bagus dikeRjakan setelah shalat Tahajjud tetapi bOleh dikeRjakan sebelum tiduR jika dikhawatiRkan akan tidak tentu bangun malam. Bacaan suRat setelah membaca SuRat Al-Fatihah menuRut Riwayat Ahmad, Abu Daud dan TuRmudzy adalah Rakaat peRtama membaca suRat Sabbihisma, Rakaat kedua membaca suRat Al-KafiRun, dan Rakaat ketiga membaca SuRat Al-Ikhlas atau ditambah dua suRat Mu’awwidztain.

Shalat witiR dianjuRkan untuk dilaksanakan setiap malam.

Sabda Nabi SAW kepada Abu HuRaiRah R.a.


حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ بِصِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ

DiRiwayatkan daRipada Abu HuRaiRah R.a katanya: Rasulullah s.a.w telah beRpesan kepadaku dengan tiga peRkaRa, beRpuasa tiga haRi pada setiap bulan, melakukan shalat Dhuha dua Rakaat dan melakukan shalat sunat WitiR sebelum tiduR. (H.R. BukhaRi-Muslim)*


من ظن منكم أن لا يستيقظ أخره (أي الليل) فليوتر أوله ومن ظن منكم أنه يستيقظ أخره فليوتر أخره فإن صلاة أخر الليل محضورة وهي أفضل

“BaRangsiapa yang meRasa tidak akan sanggup bangun pada akhiR malam, ia bOleh beRwitiR pada peRmulaan malam (sebelum tiduR); tetapi baRngsiapa yang meRasa sanggup bangun bangun pada akhiR malam, sebaiknya ia beRwitiR pada akhiR malam itu, sebab shalat pada akhiR malam itu disaksikan Oelh paRa malaikat), dan itulah yang lebih utama.” (H.R. Ahmad, Muslim, TuRmudzy dan Ibnu Majah daRi JabiR R.a.)

DOa Pada Shalat WitiR


سبحان الملك القدوس x3

Subhaanal malikil qudduus.. (3x)

Maha Suci Engkau ya Allah, Maha MeRajai dan Maha Suci.” 3X (H.R. Nasai)

Lalu dilanjutkan dengan membaca :


رب الملا ئكة والروح

Rabbul malaa ikatu waRRuuh..

Tuhan daRi segala malaikat dan Jiwa(H.R. DaRaquthni)

Di antaRa dOa yang dianjuRkan adalah :


اللهم إني أعوذ برضاك من سخطك و أعوذ بمعافاتك من عقوبتك وأعوذبك لا أحصى ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك

Allahumma innii a’uudzu bi Ridhaaka min sakhatika, wa a’uudzu bimu’aafatika min ’uquu batika, wa a’uudzubika laa ahshii tsanaa an ’alayka anta kamaa atsnayta alii nafsika ..

“Ya Allah, sesungguhnya aku beRlindung dengan keRidhaan-Mu daRi segala kemaRahan-Mu, dan dengan kesukaan-Mu Engkau membeRi maaf daRi siksa-Mu dan aku beRlindung dengan-Mu daRi Engkau. Aku tidak dapat menghitung pujian untuk-Mu, sebagaimana Engkau telah memuji untuk diRi-Mu.” (H.R. Ahmad dan Ash-habus-Sunan daRi Ali R.a.)

Links:

[Do’a Ramadhan]
http://waroengtomboati.blogspot.com/2008/08/doa-ramadhan.html

  • (Penulis: cukup banyak dOa seputaR Ramadhan dalam blOg ini, ada “DO`a ketika datang bulan Ramadhan”, “DO`a menghaRap Lailatul QOdaR”, “DO`a selama bulan ROmadlOn”, “DO`a setelah shalat taRawih”, silahkan di lihat langsung di blOg teRsebut)

[Bulan Ramadhan dengan Sunnah Puasa]
http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2654-menghidupkan-bulan-ramadhan-dengan-sunnah-puasa.html

  • BeRikut adalah bebeRapa sunnah atau amalan-amalan yang dianjuRkan ketika melakukan puasa:
    [1] MengakhiRkan SahuR.
    [2] MenyegeRakan beRbuka.
    [3] BeRdO’a ketika beRbuka.
    [4] MembeRi makan ORang beRbuka.
    [5] MempeRbanyak ibadah di bulan Ramadhan.

[Qiyam Ramadhan]
http://keadilan-jepang.org/arsip.php?page=tausyiah&id=270

  • Nabi saw, sangat menganjuRkan umatnya agaR tekun mengeRjakan qiyamuR Ramadhan atau Shalat taRawih. Rasulullah saw peRnah mengeRjakan pada malam kedua atau ketiga secaRa beRjama’ah dengan sahabatnya, kemudian pada malam ketiga beliau tidak hadiR dimasjid kaRena khawatiR Shalat ini dianggap wajib nantinya. Begitulah Rasulullah saw sangat menaRuh kasihan kepada kaum muslimin. Kemudian setelah itu paRa sahabat mengeRjakannya secaRa sendiRi-sendiRi, lalu shalat taRawih dengan beRjama’ah ini dihidupkan kembali Oleh UmaR dan yang beRtindak sebagai imam Ubay bin Ka’ab.
  • JumhuR ulama beRpendapat: Sunah mengeRjakan shalat taRawih dengan beRjamaah. Bahkan At-Thahawi, seORang tOkOh mazhab Hanafiyah menganggap wajib kifayah. DiantaRa ulama salaf ada yang mengatakan bahwa shalat di Rumah lebih afdhal daRipada shalat di Masjid. Maka pendapat ini untuk ORang yang mengeRjakan shalat sendiRian Sedangkan bacaan ayatnya sangat panjang, sehingga ia meRasa tidak puas shalat beRjamaah dengan masyaRakat umum. Adapun bila didapati jamaah yang teRbiasa dengan bacaan ayat-ayat panjang, maka jelas lebih baik shalat beRjamaah beRsama kaum muslimin daRipada shalat sendiRi. Hal ini untuk mempeRbanyak jumlah jamaah dan mempeReRat hubungan silatuRahim diantaRa meReka.
  • Bagi wanita, shalat taRawih diRumah lebih afdhal jika meReka hafal Al-QuR’an dan tekun mengeRjakan shalat walaupun sendiRian. Adapun bila meReka (wanita) mengeRjakan shalat beRjamaah di Masjid, meReka dapat mendengaRkan tilawah Al-QuR’an, mau’izhah hasanah (nasihat yang baik), dan bisa beRtatap muka dengan peRempuan Muslimah yang lain, dan meReka bisa mewujudkan ta’awanu ‘alal biRRi wat-taqwa, sehinga shalat beRjamaah di Masjid teRdapat banyak kebaikan.
  • Riwayat BukhaRi yang menceRitakan shalat taRawih yang dipimpin Ubay bin Ka’ab itu tidak menyebutkan peRihal jumlah Raka’at. Oleh kaRena itu paRa ulama beRbeda pendapat tentang banyaknya Rakaat Shalat taRawih sekaligus dengan witiRnya, apakah 11 Rakaat atau 13 Rakat atau 21 Rakaat. Al Hafidz Ibnu HajaR beRkata, Ada kemungkinan khilaf ini sangat eRat kaitannya dengan panjang dan pendeknya bacaan ayat Al-QuR’an. Kalau bacaan ayatnya panjang, maka jumlah Rakaatnya sedikit, begitu sebaliknya.
  • Imam Malik beRkata,”Saya melihat sendiRi, bahwa ORang-ORang di Madinah mengeRjakan shalat taRawih sebanyak 39 Rakaat. Sedangkan di Makkah sebanyak 23 Rakaat. MengeRjakan shalat taRawih sebanyak itu, bagi meReka bukan masalah yang beRat.”
  • Imam Syafi’i beRkata,lagi, ”Jika meReka mempeRlama beRdiRinya dan menyedikitkan jumlah Raka’atnya, maka itu baik. Sebaliknya, jika mempeRbanyak jumlah Rakaat dan mempeRpendek bacaan ayat, maka itu baik juga. Tetapi saya pRibadi lebih menyukai yang peRtama.”
  • Dalam masalah ini, kata Imam Syafi’i SeseORang tidak bOleh mencela ORang lain selama mengeRjakannya dengan khusyu’ dan thuma’ninah seRta memenuhi syaRat dan Rukunnya.”
  • Di Riwayatkan daRi JabiR, katanya: ”Bahwa Rasulullah saw peRnah mengeRjakan shalat beRjamah dengan meReka sebanyak 8 Rakaat, kemudian mengeRjakan shalat witiR 3 Rakaat.
  • Ibadah shalat (taRawih) adalah pOkOk bahasan yang paling penting. Sedangkan batasan jumlah Rakaat yang jelas daRi Nabi saw tidak ada. KaRena itu, tidak ada aRtinya sebagian ulama mutaakhiRiin memvOnis menyimpang daRi Sunah bagi ORang-ORang yang mengeRjakan shalat taRawih 20 Rakaat atau mengklaim meReka yang Shalat 8 Rakaat menyimpang daRi atsaR ulama salaf dan khalaf.
  • Jika meReka mampu beRdiRi lama, keRjakan 10 Rakaat ditambah dengan witiR 3 Rakaat sebagaimana yang telah diamalkan Oleh Nabi saw. Ketika Shalat munfaRid, baik dalam bulan Ramadhan maupun yang lainnya. Maka inilah yang afdhal. Bila meReka tidak mampu beRdiRi lama, maka keRjakan 20 Rakat. Maka ini afdhal juga sepeRti yang dikeRjakan Oleh mayORitas kaum muslimin. KelOmpOk kedua ini mengambil jalan tengah antaRa 20 dan 40 Rakaat. Jika ada kelOmpOk jamaah mengeRjakan 40 Rakaat atau lebih, maka itu bOleh juga. Hal ini ditegaskan Oleh sejumlah ulama, diantaRanya Imam Ahmad dan yang lainnya. Siapa saja yang menyangka bahwa jumlah Rakaat qiyamuR Ramadhan telah ditentukan dengan jelas Oleh Nabi saw sehingga tidak bOleh ditambah atau dikuRangi, maka itu sangat keliRu.

[PengeRtian Puasa (Shaum)]
http://mashadi.0fees.net/mysite/artikel/section1/puasa.php

  • Ash-shiyam atau shaum atau puasa adalah menahan diRi daRi sesuatu dan meninggalkan sesuatu. Tapi bila ditinjau daRi hukum syaRa’ adalah menahan diRi daRi makan, minum dan beRsetubuh, dan dilaksanakan semata-mata kaRena Allah. Nilai-nilai daRi puasa tidaklah dapat dihitung, dipeRkiRakan atau diadakan Oleh manusia (ulama, nabi, dll) tetapi nilai puasa adalah semata milik Allah.
  • Di dalam diRi manusia sudah ada benih-benih 10 macam penyakit bathin yang apabila tidak dibakaR di dalam puasa Ramadhan maka 10 macam penyakit itu akan semakin menjadi-jadi, 10 macam penyakit adalah:
    1. SyiRik.
    2. TakabuR.
    3. Ujub.
    4. Riya’.
    5. Sum’ah.
    6. Hasad iRi.
    7. Hasad dengki.
    8. Zan (beRpRasangka tidak baik).
    9. Syak (Ragu-Ragu atau was-was).
    10. Waham (KekhawatiRan yang teRus-meneRus).
  • Tujuan daRi beRpuasa Ramadhan ialah untuk mendapatkan pRedikat ORang yang taqwa kepada Allah.
    • Taqwa menuRut pandangan ilmu tauhid ialah: ORang yang mulia di sisi Allah. Dan taqwa dapat beRmakna beRtemu dengan Allah (kaRena adanya mulia di sisi Allah).
    • Taqwa menuRut pandangan ma’Rifat ialah mengenal, di mana apabila kita sudah mengenal tentunya akan mudah di dalam mengajukan sesuatu hal atau meminta.
  • QiyamuR Ramadhan aRtinya menghidupkan malam bulan Ramadhan, apabila dikeRjakan shalatnya dengan secaRa santai maka baRu disebut dengan shalat TaRawih. Shalat sunnat qiyamuR Ramadhan/taRawih jumlah bilangan Rakaatnya sebanyak 11 Rakaat, dengan pelaksanaan 4 Rakaat salam + 4 Rakaat salam + 3 Rakaat witiR sekali salam. Itulah shalat sunnat yang selalu dikeRjakan Oleh Rasulullah.
  • PUASA WAJIB bagi:
    1. mu’min.
    2. aqil baligh.
    3. anak-anak.
    4. yang sakit.
    5. mushafiR.
    6. wanita suci.
    7. tablet anti-haid.
  • PUASA RUKHSAH (keRinganan) bagi:
    1. mushafiR.
    2. wanita beRhadas.
    3. sakit Ringan.
    4. ORang tua jOmpO.
    5. yang sakit beRat/gila.
    6. wanita menyusui/hamil.
    7. buRuh keRja.
    8. yang beRpeRang/sabil.
    9. yang lupa.
    10. ORang mati.
  • SANKSI bagi yang meninggalkan puasa:
    1. qadha’.
    2. fidyah.
    3. kifaRat
    .

[Hal-hal Penting Dalam BeRpuasa]
http://www.wahdah.or.id/wis/index.php?option=com_content&task=view&id=465&Itemid=193

  • Dalam pelaksanaan Rukun Islam yang ke-empat ini, ada bebeRapa hal penting yang haRus di ketahui Oleh seORang muslim, diantaRanya:
    1. Wajib bagi setiap muslim, mengeRjakan puasa ini kaRena iman dan mencaRi pahala. Demikian pula Qiyamu Ramadhan, setiap muslim haRus mengeRjakannya kaRena iman dan mencaRi pahala, bukan kaRena sebab lain.
    2. BebeRapa hal yang kadang dialami Oleh ORang yang beRpuasa sepeRti luka, mimisan, muntah, masuknya aiR atau bensin ke dalam tenggOROkan tanpa sengaja. Semua hal teRsebut tidak meRusak puasa, kecuali ORang yang sengaja muntah maka puasanya Rusak.
    3. BebeRapa peRbuatan yang dikeRjakan Oleh sebagian ORang yang beRpuasa beRupa mengakhiRkan mandi janabat sampai teRbit fajaR, demikian pula sebagian wanita yang mengakhiRkan membeRsihkan haid dan nifas sampai teRbit fajaR jika telah melihat diRinya telah suci sebelum fajaR maka wajib beRpuasa. Tidak mengapa mengakhiRkan mandi janabat sampai teRbitnya fajaR, tetapi tidak bOleh mengakhiRkannya sampai teRbit matahaRi, sedangkan bagi laki-laki beRsegeRa mandi janabat agaR bisa mengeRjakan shalat Shubuh secaRa beRjama’ah di mesjid.
    4. DiantaRa pekeRjaan yang tidak meRusak puasa adalah pemeRiksaan daRah dan suntik yang bukan beRtujuan membeRikan makanan (infus), tetapi mengakhiRkan pekeRjaan sepeRti ini sampai malam haRi lebih baik dan lebih selamat jika memungkinkan.
    5. Banyak ORang yang shalat taRawih dengan caRa shalat yang dia tidak pahami dan tidak tenang, mengeRjakannya sepeRti ORang yang menanduk. CaRa shalat ORang sepeRti ini batal dan ORang yang mengeRjakannya beRdOsa.
    6. Sebagian ORang beRkeyakinan bahwa shalat taRawih tidak bOleh kuRang daRi 23 Raka’at. Ada juga yang beRkeyakinan bahwa shalat taRawih tidak bOleh lebih daRi 11 atau 13 Raka’at. Ini semua adalah keyakinan yang tidak pada tempatnya bahkan meRupakan kesalahan, dan tidak sesuai dengan dalil-dalil.
  • DisyaRiatkan bagi seluRuh kaum muslimin untuk beRsungguh-sungguh dalam mengeRjakan semua jenis ibadah dalam bulan yang mulia ini, dengan shalat nafilah, membaca Al-QuR’an dengan tadabbuR dan ta’aqqul (memahaminya), mempeRbanyak tasbih, tahlil, takbiR, tahmid, istigfaR dan dOa-dOa yang disyaRi’atkan, beRamaR ma’Ruf nahi munkaR, beRda’wah di jalan Allah Subhaanahu Wa Ta’ala, membantu ORang-ORang fakiR dan miskin, beRsungguh-sungguh dalam biRRul walidaini (beRbakti kepada kedua ORang tua), shilatuRRahim, menghORmati tamu, mengunjungi ORang sakit dan peRbuatan baik lainnya.

[Shalat TaRawih]
http://www.almanhaj.or.id/content/1151/slash/0

  • Shalat taRawih:
    [1]. PensyaRi’atannya; Shalat taRawih disyaRi’atkan secaRa beRjama’ah.
    [2]. Jumlah Raka’atnya; Manusia beRbeda pendapat tentang batasan Raka’atnya, pendapat yang mencOcOki petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah delapan Raka’at tanpa witiR beRdasaRkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha. “ARtinya : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak peRnah shalat malam di bulan Ramadhan atau selainnya lebih daRi sebelas Raka’at”.

[Menghidupkan Malam Ramadhan Dengan Shalat TaRawih]
http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/menghidupkan-malam-ramadhan-dengan-shalat-tarawih.html

  • Shalat ini dinamakan taRawih yang aRtinya istiRahat kaRena ORang yang melakukan shalat taRawih beRistiRahat setelah melaksanakan shalat empat Raka’at. Shalat taRawih teRmasuk qiyamul lail atau shalat malam. Akan tetapi shalat taRawih ini dikhususkan di bulan Ramadhan. Jadi, shalat taRawih ini adalah shalat malam yang dilakukan di bulan Ramadhan.
  • Adapun shalat taRawih tidak disyaRiatkan untuk tiduR teRlebih dahulu dan shalat taRawih hanya khusus dikeRjakan di bulan Ramadhan. Sedangkan shalat tahajjud menuRut mayORitas pakaR fiqih adalah shalat sunnah yang dilakukan setelah bangun tiduR dan dilakukan di malam mana saja. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9630)
  • Keutamaan Shalat TaRawih:
    PeRtama, akan mendapatkan ampunan dOsa yang telah lalu. [HR. BukhaRi nO. 37 dan Muslim nO. 759]
    Kedua, shalat taRawih beRsama imam sepeRti shalat semalam penuh. [HR. Ahmad dan TiRmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al IRwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih].
    Ketiga, shalat taRawih adalah seutama-utamanya shalat; Ulama-ulama Hanabilah (madzhab Hambali) mengatakan bahwa seutama-utamanya shalat sunnah adalah shalat yang dianjuRkan dilakukan secaRa beRjama’ah. KaRena shalat sepeRti ini hampiR seRupa dengan shalat faRdhu. Kemudian shalat yang lebih utama lagi adalah shalat Rawatib (shalat yang mengiRingi shalat faRdhu, sebelum atau sesudahnya). Shalat yang paling ditekankan dilakukan secaRa beRjama’ah adalah shalat kusuf (shalat geRhana) kemudian shalat taRawih. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Quwaitiyyah, 2/9633).
  • MayORitas ulama teRdahulu dan ulama belakangan, mengatakan bahwa bOleh menambah Raka’at daRi yang dilakukan Oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Abdil BaRR mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah Raka’at teRtentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjuRkan), teRmasuk amalan dan peRbuatan baik. Siapa saja bOleh mengeRjakan sedikit Raka’at. Siapa yang mau juga bOleh mengeRjakan banyak.” (At Tamhid, 21/70).
  • Jadi, shalat taRawih 11 atau 13 Raka’at yang dilakukan Oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah pembatasan. Sehingga paRa ulama dalam pembatasan jumlah Raka’at shalat taRawih ada bebeRapa pendapat, yaitu:
    1. yang membatasi hanya sebelas Raka’at. Alasannya kaRena inilah yang dilakukan Oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pendapat Syaikh Al Albani dalam kitab beliau Shalatut TaRawaih.
    2. shalat taRawih adalah 20 Raka’at (belum teRmasuk witiR). Inilah pendapat mayORitas ulama semacam Ats TsauRi, Al MubaROk, Asy Syafi’i, Ash-haabuR RO’yi, juga diRiwayatkan daRi ‘UmaR, ‘Ali dan sahabat lainnya. Bahkan pendapat ini adalah kesepakatan (ijma’) paRa sahabat.
    3. shalat taRawih adalah 39 Raka’at dan sudah teRmasuk witiR. Inilah pendapat Imam Malik. Beliau memiliki dalil daRi Riwayat Daud bin QOis, dikeluaRkan Oleh Ibnu Abi Syaibah dan Riwayatnya shahih. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/419).
    4. shalat taRawih adalah 40 Raka’at dan belum teRmasuk witiR. Sebagaimana hal ini dilakukan Oleh ‘AbduRRahman bin Al Aswad shalat malam sebanyak 40 Raka’at dan beliau witiR 7 Raka’at. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan tanpa batasan bilangan sebagaimana dikatakan Oleh ‘Abdullah. (Lihat Kasyaful QOna’ ‘an Matnil Iqna’, 3/267).
  • Hendaknya setiap muslim beRsikap aRif dan bijak dalam menyikapi peRmasalahan ini. Sungguh tidak tepatlah kelakuan sebagian saudaRa kami yang beRpisah daRi jama’ah shalat taRawih setelah melaksanakan shalat 8 atau 10 Raka’at kaRena mungkin dia tidak mau mengikuti imam yang melaksanakan shalat 23 Raka’at atau dia sendiRi ingin melaksanakan shalat 23 Raka’at di Rumah.
  • ORang yang keluaR daRi jama’ah sebelum imam menutup shalatnya dengan witiR juga telah meninggalkan pahala yang sangat besaR. KaRena jama’ah yang mengeRjakan shalat beRsama imam hingga imam selesai –baik imam melaksanakan 11 atau 23 Raka’at- akan mempeROleh pahala shalat sepeRti shalat semalam penuh.
  • Ulama-ulama Malikiyah mengatakan, “DianjuRkan bagi yang melaksanakan shalat taRawih untuk melakukan salam setiap dua Raka’at dan dimakRuhkan mengakhiRkan salam hingga empat Raka’at. … Yang lebih utama adalah salam setelah dua Raka’at.” (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9640).
  • Sebagai catatan penting, tidaklah disyaRiatkan membaca dzikiR-dzikiR teRtentu atau dO’a teRtentu ketika istiRahat setiap melakukan empat Raka’at shalat taRawih, sebagaimana hal ini dilakukan sebagian muslimin di tengah-tengah kita yang mungkin saja belum mengetahui bahwa hal ini tidak ada tuntunannya dalam ajaRan Islam. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 1/420).
  • Kesalahan-Kesalahan Dalam Shalat TaRawih
    1. MenyeRu Jama’ah dengan “Ash ShOlaatul Jaami’ah”. Ulama-ulama hanabilah beRpendapat bahwa tidak ada ucapan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan “Ash ShOlaatul Jaami’ah”. MenuRut meReka, ini teRmasuk peRkaRa yang diada-adakan (baca: bid’ah). (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 2/9634)
    2. DzikiR Jama’ah dengan DikOmandOi. Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz Rahimahullah tatkala menjelaskan mengenai dzikiR setelah shalat mengatakan, “Tidak dipeRbOlehkan paRa jama’ah membaca dizkiR secaRa beRjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap ORang membaca dzikiR sendiRi-sendiRi tanpa dikOmandai Oleh yang lain. KaRena dzikiR secaRa beRjama’ah (beRsama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syaRi’at Islam yang suci ini.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11/189).
    3. BubaR Sebelum Imam Selesai Shalat Malam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beRsabda, “Siapa yang shalat (malam) beRsama imam hingga ia selesai, maka ditulis untuknya pahala melaksanakan shalat satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan TiRmidzi, Shahih). Jika seseORang bubaR teRlebih dahulu sebelum imam selesai, maka dia akan kehilangan pahala yang disebutkan dalam hadits ini. Jika imam melaksanakan shalat taRawih ditambah shalat witiR, makmum pun sehaRusnya ikut menyelesaikan beRsama imam. Itulah yang lebih tepat.

[Keutamaan menghidupkan malam bulan Ramadlan]
http://docs.google.com/Doc?id=dgt8qbks_159hfh9vbdt

  • Tidak diRagukan lagi bahwa shalat taRawih dengan beRjamaah pada bulan Ramadlan sangat dianjuRkan. Hal ini diketahui dengan bebeRapa hal beRikut:
    1. Penetapan Rasulullah tentang beRjamaah padanya.
    2. PeRbuatan beliau shallallahu `alaihi wa sallam.
    3. KeteRangan beliau tentang fadlilah(keutamaan)nya.
  • DisyaRiatkan bagi wanita untuk menghadiRi shalat taRawih di masjid dengan dalil hadits Abu DzaR Radliyallahu `anhu di atas yang beRbunyi “Beliau (Rasulullah) memanggil keluaRganya dan paRa istRinya.” Bahkan bOleh disiapkan bagi meReka imam khusus selain untuk jamaah laki-laki. UmaR Radliyallahu `anhu tatkala mengumpulkan manusia untuk beRjamaah, menjadikan imam bagi laki-laki Ubai bin Ka’ab dan bagi wanita Sulaiman bin Abi Khatsmah.
  • Shalat taRawih bukanlah shalat-shalat sunnah yang mutlak sehingga seORang yang shalat bOleh memilih bilangan mana yang ia suka. Shalat taRawih adalah sunnah muakkadah yang menyeRupai shalat-shalat faRdlu daRi segi disyaRiatkan jamaah padanya sebagaimana yang dinyatakan Oleh madzhab Syafi’i. Maka daRi segi ini lebih pantas untuk tidak ditambah.”
  • Kita kembalikan kepada nash yang shahih yaitu hadits daRi Ubai bin Ka`ab Radliyallahu `anhu, dia beRkata: Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam qunut pada Rakaat witiR dan meletakkannya sebelum Ruku`.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 12/41/1, Abu Dawud, An-Nasa’i di dalam Sunan Al-KubRa 218/1-2, Ahmad, At-ThabRani, Al-Baihaqi dan Ibnu AsakiR dengan sanad yang shahih. Demikian penilaian Syaikh Albani).

[Tuntunan Nabi Shallahu’alahi wa sallam dalam Menghidupkan Malam Lailatul QadaR]
http://maramissetiawan.wordpress.com/2008/09/19/tuntunan-nabi-shallahu%E2%80%99alahi-wa-sallam-dalam-menghidupkan-malam-lailatul-qadar/

  • BaRangsiapa yang teRhalang daRi beRibadah pada malam lailatul qadaR, sungguh ia telah teRhalang daRi kebaikan seluRuhnya, dan tidaklah teRhalang daRi kebaikan malam itu kecuali ORang yang teRhalang daRi kebaikan. Oleh kaRenanya, setiap muslim sangat dianjuRkan untuk menghidupkan malam lailatul qadaR dengan penuh iman dan menghaRapkan pahala yang dijanjikan. Sehingga, apabila ia ikhlas melaksanakannya, dOsa dan kesalahan yang peRnah ia gOReskan dimasa lalu teRampuni.
  • BebeRapa tuntunan Nabi shallahu’alaihi wa sallam dalam menghidupkan malam lailatul qadaR, yaitu:
    1. BeRsungguh-sungguh, Optimis, dan antusias di dalam mencaRi lailatul qadaR.
    2. Menghidupkan malam dengan qiyamullail.
    3. MempeRbanyak DO’a.
    4. Menghidupkan lailatul qadaR dengan ibadah dan mengajak keluaRga untuk ikut beRibadah
    .

[Malam SeRibu Bulan]
http://www.harian-aceh.com/opini/85-opini/990-malam-seribu-bulan.html

  • MenuRut paRa peRawi hadits, tanda-tanda lailatul qadaR ialah,
    (a) pada malam itu cuaca beRsih tidak sejuk dan tidak pula panas,
    (b) malam itu tenang teRang dan angin tidak beRtiup sebagaimana biasa dan awan agak tipis,
    (c) malam itu tidak tuRun hujan dan bintang tidak beRcahaya seOlah-Olah tidak timbul, dan
    (d) siangnya matahaRi teRbit dalam suRam.
  • Ulama-ulama dahulu bilang, malam QadaR ada di antaRa 1 Ramadhan sampai 29 atau malam 30 Ramadhan. Makanya dianjuRkan setiap malam bulan Ramadhan dipenuhi dengan ibadah. Riwayat yang kuat menyatakan Lailatul QadaR itu teRdapat di malam sepuluh yang akhiR daRi Ramadhan, sejak malam 21, keRana sejak malam 21 nabi saw. lebih mempeRkuat ibadatnya daRipada malam-malam yang sebelumnya sampai beliau bangunkan kaum keluaRganya yang teRtiduR.
  • Al-Razi, seORang penafsiR kOndang, menulis tentang sebab Allah menyembunyikan malam al-qadaR daRi pengetahuan kita. Kata dia, ada empat sebab:
    1. Allah menyembunyikan malam al-qadaR agaR umat Islam dapat membesaRkan semua malam bulan Ramadhan tanpa memilih malam teRtentu.
    2. jika dibeRitahu secaRa jelas tentang malam al-QadaR maka ditakuti manusia yang tahu tentang kedatangan malam teRsebut tetapi dia tidak beRusaha untuk meRebutnya dengan amal ibadat atau malah melakukan maksiat. Ini menyebabkan dia teRjeRumus ke lembah kecelakaan dalam keadaan dia tahu. BeRbuat maksiat atau tidak beRsungguh-sungguh beRibadat pada malam yang kita tahu mempunyai kelebihan yang besaR adalah lebih beRat dOsa daRi kita tidak mengetahuinya. Makanya diRahsiakan malam al-qadaR.
    3. supaya seseORang mukallaf beRsungguh-sungguh beRusaha mencaRi malam al-qadaR sehingga dia mampu mempeRbanyakkan ibadat lalu dia mempeROlehi pahala daRipada kesungguhannya itu.
    4. seseORang yang meyakini akan datangnya malam al-qadaR akan beRsungguh-sungguh mencaRinya pada setiap malam Ramadhan dengan haRapan akan beRtemu malam al-qadaR.
  • Hidupkanlah malam Ramadhan dengan beRiktikaf, menunaikan Ibadah sOlat,beRzikiR,mengaji al-QuRan, mendengaR hal-hal yang beRguna, mengulang kaji beRkenaan Puasa, SOlat, Zakat fitRah dan beRbagai Ilmu Pengetahuan yang meRapatkan hubungan kita dengan Allah swt. dan dengan sesama manusia. ORang beRiman beRusaha dengan sungguh menghidupkan malam Ramadhan dengan sOlat teRawikh, beRzikiR, mengaji al-QuRan, mempelajaRi Ilmu pengetahuan yang beRguna teRutama sekali beRkenaan ibadah Puasa, dengan demikian dapatlah ia menunaikan ibadah Puasa Ramadhan dengan baik dan diteRima Allah ibadahnya itu seRta mendapat balasan yang beRlipat ganda melebihi seRibu bulan.

untuk mendOwnlOad kumpulan lengkap aRtikel diatas, silahkan ikuti link berikut:

https://orido.files.wordpress.com/2008/12/downloadfile.jpg

Iklan

12 Tanggapan to “[HOTD] qiyamuR Ramadhan atau shalat taRawih”

  1. jalandakwahbersama Says:

    Assalamu’alaikum,
    Subhaanallah, tulisan ini sangat lengkap, menerangkan semua dengan detail, saya download filenya ya Mas… terima kasih. (Dewi Yana)

    :: oRiDo™ ::
    wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh..
    silahkan..
    semoga bermanfaat..
    🙂

  2. blogpopuler Says:

    alhamdulillah, setelah buka blog ini, langsung dapat pencerahan ilmu agama.

    :: oRiDo™ ::
    mari sama2 belajar dan beramal..
    🙂

  3. rio2000 Says:

    artikelnya cukup lengkap… tapi kok ga membahas yg membatalkan puasa he he he

    :: oRiDo™ ::
    artikel ini khan membahas qiyamur ramadhan.. alias shalat tarawih..

  4. dedenia72 Says:

    Waw..dari A-Z lho..
    lengkap puolll..
    salam rimba raya lestari..

    :: oRiDo™ ::
    semoga bermanfaat..
    🙂

  5. ~noe~ Says:

    terimakasih banyak untuk pencerahannya. beberapa sudah hapal, namun lebih banyak yang belum tahu 😀

    :: oRiDo™ ::
    mari kita sama2 belajar dan beramal..
    🙂

  6. KangBoed Says:

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fulllllllllllllllllllllllllllllll

    :: oRiDo™ ::
    sama2 kang Boed..
    🙂

  7. KangBoed Says:

    manstaaaaabbbbsssss

    :: oRiDo™ ::
    alhamdulillah..
    🙂

  8. maskuncoro Says:

    totp martkotop dah. Yes maskeyes deh. Matur nuwun kang… 🙂

    :: oRiDo™ ::
    semoga bermanfaat..
    🙂

  9. siwi Says:

    Met puasa..
    Makasih buat info2nya 🙂

    :: oRiDo™ ::
    oke..
    smoga bermanfaat,,
    🙂

  10. alamendah Says:

    top buanget. ijin di save as biar bisa dibaca2 ulang

    :: oRiDo™ ::
    silahkan..
    semoga bermanfaat…
    mari sama2 belajar dan beramal..
    🙂

  11. Rizal Islami Says:

    Top Abisssssss

    :: oRiDo™ ::
    alhamdulillah..
    🙂

  12. ZALMADRI PUTRA Says:

    Gunakan masa muda sebaik mungkin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: