[RASUL] mencintai istRi shalehah

bismillahhiRRahmaniRRahim

Di bawah naungan Rumah tangga yang beRsahaja di situlah tinggal sang istRi, pahlawan di balik layaR pembawa ketenangan dan kesejukan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beRsabda:
“Dunia itu penuh dengan kenikmatan. Dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah istRi yang shalihah.” (Lihat Shahih Jami’ ShaghiR kaRya Al-Albani)

Di antaRa keelOkan budi pekeRti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kehaRmOnisan Rumah tangga beliau ialah memanggil ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha dengan nama kesayangan dan mengabaRkan kepadanya beRita yang membuat jiwa seRasa melayang-layang.

Aisyah Radhiyallah ‘anha menutuRkan: “Pada suatu haRi Rasu-lullah shallallahu ‘alaihi wasallam beRkata kepadanya:
Wahai ‘Aisy (panggilan kesayangan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha ), Malaikat JibRil ‘alaihissalam tadi menyampaikan salam buatmu.” (Muttafaq ‘alaih)

Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam selaku Nabi umat ini yang paling sempuRna akhlaknya dan paling tinggi deRajatnya telah membeRikan sebuah cOntOh yang beRhaRga dalam hal beRlaku baik kepada sang istRi dan dalam hal keRendahan hati, seRta dalam hal mengetahui keinginan dan kecembuRuan wanita. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menempatkan meReka pada kedudukan yang diidam-idamkan Oleh seluRuh kaum hawa. Yaitu menjadi seORang istRi yang memiliki kedudukan teRhORmat di samping suaminya.

Aisyah Radhiyallahu ‘anha menutuRkan:

Suatu ketika aku minum, dan aku sedang haidh, lantas aku membeRikan gelasku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau meminumnya daRi mulut gelas tempat aku minum. Dalam kesempatan lain aku memakan sepOtOng daging, lantas beliau mengambil pOtOngan daging itu dan memakannya tepat di tempat aku memakannya.” (HR. Muslim)

Links:
[istRi Rasulullah ‘aisyah binti abu bakaR ROdhiallahu ‘anha]
http://dangdoank.multiply.com/reviews/item/28
http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=889

  • ‘Aisyah adalah guRunya kaum laki-laki, seORang wanita yang suka kebenaRan, putRi daRi seORang laki-laki yang suka kebenaRan, yaitu Khalifah Abu BakaR daRi suku QuRaisy At-Taimiyyah di Makkah, ibunda kaum mukmin, istRi pemimpin seluRuh manusia, istRi Nabi yang paling dicintai, sekaligus putRi daRi laki-laki yang paling dicintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
  • Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menikahi ‘Aisyah dan Saudah pada waktu yang beRsamaan. Hanya saja pada saat itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak langsung hidup seRumah dengan ‘Aisyah. Setelah kuRang lebih tiga tahun hidup seRumah dengan Saudah, tepatnya pada bulan Syawal setelah peRang BadaR, baRulah beliau hidup seRumah dengan ‘Aisyah. ‘Aisyah menempati salah satu kamaR yang teRletak di kOmplek Masjid Nabawi. yang teRbuat daRi batu bata dan beRatapkan pelepah kuRma. Alas tiduRnya hanyalah kulit hewan yang diisi Rumput keRing; alas duduknya beRupa tikaR; sedang tiRai kamaRnya teRbuat daRi bulu hewan. Di Rumah yang sedeRhana itulah ‘Aisyah memulai kehidupan sebagai istRi yang kelak akan menjadi peRbincangan dalam sejaRah.
  • Dalam kehidupan beRumah tangga, ‘Aisyah meRupakan guRu bagi setiap wanita di dunia sepanjang masa. Ia adalah sebaik-baik istRi dalam beRsikap Ramah kepada suami, menghibuR hatinya, dan menghilangkan deRita suami yang beRasal daRi luaR Rumah, baik yang disebabkan kaRena pahitnya kehidupan maupun kaRena Rintangan dan hambatan yaRig ditemui ketika menjalankan tugas agama. ‘Aisyah adalah seORang istRi yang paling beRjiwa mulia, deRmawan, dan sabaR dalam mengaRungi kehidupan beRsama Rasulullah ShOlallahu ‘alaihi wasallam yang seRba kekuRangan.
  • Dia adalah wanita yang tidak disengsaRakan Oleh kemis¬kinan dan tidak dilalaikan Oleh kekayaan. Ia selalu menjaga kemuliaan diRinya, sehingga dunia dalam pandangannya adalah Rendah nilainya. Datang dan peRginya dunia tidaklah dihiRaukannya. Dia adalah sebaik-baik istRi yang amat mempeRhatikan dan memanfaatkan peRtemuan langsung dengan Rasulullah ShOlallahu ‘alaihi wasallam, sehingga dia menguasai beRbagai ilmu dan memiliki kefasihan beRbicaRa yang menjadikan diRinya sebagai guRu paRa shahabat dan sebagai Rujukan untuk memahami Hadits, sunnah, dan fiqih. Az-ZuhRi beRkata: “Seandainya ilmu semua wanita disatu¬kan, lalu dibandingkan dengan ilmu ‘Aisyah, tentulah ilmu ‘Aisyah lebih utama daRipada ilmu meReka.
  • Selain memiliki beRbagai keutamaan dan kemuliaan, ‘Aisyah juga memiliki kekuRangan, yakni memiliki sifat gampang cembuRu. Bahkan dia teRmasuk istRi Nabi ShOlallahu ‘alaihi wasallam yang paling besaR Rasa cembuRunya. Rasa cembuRu memang teRmasuk sifat pembawaan seORang wanita. Namun demikian, peRasaan cembuRu yang ada pada ‘Aisyah masih beRada dalam batas yang wajaR dan selalu mendapat bimbingan daRi Nabi, sehingga tidak sampai melampaui batas dan tidak sampai menyakiti istRi Nabi ShOlallahu ‘alaihi wasallam yang lain.
  • Ketika Rasulullah ShOlallahu ‘alaihi wasallam sakit sekembalinya daRi haji Wada’ dan meRasa bahwa ajalnya sudah dekat, setelah diRasa selesai dalam menunaikan amanat dan menyampaikan Risalah, ‘Aisyah dengan setia menjaga dan meRawat beliau. Bahkan saking cintanya, sakit yang dideRita Nabi itu Rela ‘Aisyah tebus dengan diRinya kalau memang hal itu memungkinkan. ‘Aisyah beRkata: “Aku Rela menjadikan diRiku, ayahku, dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah.” Tak lama kemudian Rasul pun wafat di atas pangkuan ‘Aisyah.
  • ‘Aisyah melukiskan detik-detik teRakhiR daRi kehidupan Rasulullah ShOlallahu ‘alaihi wasallam sebagai beRikut: “Rasulullah ShOlallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia di Rumahku, pada haRi giliRanku, dan beliau beRsandaR di dadaku. Sesaat sebelum beliau wafat, ‘AbduR Rahman bin Abu BakaR (saudaRaku) datang menemuiku sambil membawa siwak, kemudian Rasulullah ShOlallahu ‘alaihi wasallam melihat siwak teRsebut, sehingga aku mengiRa bahwa beliau menginginkannya. Siwak itu pun aku minta, lalu kukunyah (supaya halus), kukebutkan, dan kubeReskan sebaik-baiknya sehingga siap dipakai. Selanjutnya, siwak itu kubeRikan kepada Nabi ShOlallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pun beRsiwak dengan sebaik-baiknya, sehingga belum peRnah aku melihat caRa beR¬siwak beliau sebaik itu. Setelah itu beliau beRmaksud membeRi¬kannya kembali kepadaku, namun tangan beliau lemas. Aku pun mendO’akan beliau dengan dO’a yang biasa diucapkan JibRil untuk beliau dan yang selalu beliau baca bila beliau sedang sakit. (AllOOhumma RObban naasi… dst.) Akan tetapi, saat itu beliau tidak membaca dO’a teRsebut, melainkan beliau mengaRahkan pandangannya ke atas, lalu membaca dO’a: ‘ARROfiiqOl a’laa (Ya Allah, kumpulkanlah aku di suRga beRsama meReka yang deRajatnya paling tinggi: paRa nabi, shiddiqin, syuhada’, dan shalihin). Segala puji bagi Allah yang telah menyatukan aiR liuRku dengan aiR liuR beliau pada penghabisan haRi beliau di dunia.

[cOntOh untuk diteladani : syuRaih al-qadhi, badR al-maghazili, Riyah al-qaisi dan isteRi-isteRinya]
http://www.almanhaj.or.id/content/2373/slash/0

  • DiRiwayatkan bahwa SyuRaih al-Qadhi beRtemu dengan asy-Sya’bi pada suatu haRi, lalu asy-Sya’bi beRtanya kepadanya tentang keadaannya di Rumahnya. Ia menjawab: “Selama 20 tahun aku tidak melihat sesuatu yang membuatku maRah teRhadap isteRiku.” Asy-Sya’bi beRtanya, “Bagaimana itu teRjadi?” SyuRaih menjawab, “Sejak malam peRtama aku beRsua dengan isteRiku, aku melihat padanya kecantikan yang menggOda dan kecantikan yang langka. Aku beRkata dalam hatiku: “Aku akan beRsuci dan shalat dua Rakaat sebagai tanda syukuR kepada Allah. Ketika aku salam dan mendapati isteRiku menunaikan shalat dengan shalatku dan salam dengan salamku.
  • SyuRaih beRkata, “Kemudian aku beRmalam beRsamanya pada malam yang sangat nikmat (baik). Aku hidup beRsamanya selama setahun dan aku tidak melihat melainkan sesuatu yang aku sukai.
  • Wanita tidak menjadi lebih buRuk keadaannya daRinya dalam dua keadaan: jika melahiRkan anak, atau dimuliakan di sisi suaminya. Demi Allah, laki-laki tidak menemui di Rumahnya yang lebih buRuk daRipada wanita yang manja. Oleh kaRena itu, hukumlah dengan hukuman yang engkau suka, dan didiklah dengan didikan yang engkau suka.’ Lalu aku tinggal beRsamanya selama 20 tahun, dan aku tidak peRnah menghukumnya mengenai sesuatu pun, kecuali sekali, dan aku meRasa telah menzhaliminya.
  • Kisah Riyah al-Qaisi dan istRinya yang selalu membangunkan nya untuk shalat malam.
    ‘IsteRi Hubaib, yakni Ummu Muhammad mengatakan bahwa ia teRjaga pada suatu malam sedangkan suaminya tiduR, lalu ia membangunkannya pada waktu sahuR seRaya mengatakan, ‘Bangunlah wahai pRia, sebab malam telah beRlalu dan siang pun tiba, sedangkan di hadapanmu ada jalan yang panjang dan peRbekalan yang sedikit. PaRa kafilah ORang-ORang shalih di depan kita, sedangkan kita di belakang.’

[bila suami beRpeRangai kasaR]
http://www.asysyaRiah.com/print.php?id_online=500

  • Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah beRtitah: “Janganlah kalian memukul hamba-hamba peRempuan Allah“.
  • Kata Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meReka bukanlah ORang yang teRbaik, kaRena suami yang teRbaik tidak akan memukul istRinya. JustRu ia beRsabaR dengan kekuRangan yang ada pada istRinya. Kalaupun ingin membeRi (pukulan) pendidikan kepada istRinya, ia tidak akan memukulnya dengan keRas hingga membuatnya mengadu/mengeluh.
  • Al-Imam Al-Baghawi Rahimahullahu menjelaskan bahwa sekalipun memukul istRi dibOlehkan kaRena akhlak meReka yang jelek misalnya, namun menahan diRi dan beRsabaR atas kejelekan meReka seRta tidak memukul meReka justRu lebih utama dan lebih bagus.
  • Bila istRi beRbuat nusyuz, duRhaka kepada suaminya dan tidak mempan dinasihati dengan baik, tidak pula beRubah setelah ‘dibOikOt’ di tempat tiduRnya, ketika itu suami dibOlehkan menempuh tahapan ketiga untuk meluRuskan kebengkOkan istRinya, yaitu dengan memukulnya.
  • Apabila seORang suami teRpaksa memukul istRi maka pukulan teRsebut tidak bOleh sampai membuat cacat. Hendaklah ia memukul dengan pukulan yang Ringan, sehingga tidak membuat si istRi menjauh ataupun mendendam kepada suaminya.
  • “Janganlah engkau memukul wajah (istRimu), jangan menjelekkannya, dan jangan membOikOt (mendiamkan)-nya kecuali di dalam Rumah.” (HR. Abu Dawud nO. 2142 dan selainnya, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil Rahimahullahu dalam Al-Jami’ush Shahih, 3/86)
  • Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suami yang sangat lembut. Tak peRnah melakukan kekeRasan teRhadap istRinya, dan tak peRnah memukul seORang pun.
  • Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak peRnah memukul seORang pun dengan tangannya. Tidak peRnah memukul seORang wanita, tidak peRnah pula memukul pembantunya, kecuali bila beliau beRjihad fi sabilillah….” (HR. Muslim nO. 6004)
  • Nasihat SeORang Ulama dalam Menghadapi Suami yang KasaR: “Sungguh anda telah melakukan peRkaRa yang baik dengan kesabaRan dan ketabahan anda dalam menanggung kekakuan dan jeleknya akhlak suami anda. Saya pesankan kepada anda untuk teRus menambah kesabaRan dan jangan meninggalkan Rumah suami anda. KaRena dengan teRus beRtahan dalam kesabaRan Insya Allah ada kebaikan yang besaR dan akhiR yang baik. Tidak ada laRangan bagi anda untuk mengajaknya beRcanda dan beRbincang dengan menggunakan kata-kata yang bisa melunakkan hatinya. Yang menyebabkannya senang kepada anda dan membuatnya menyadaRi hak anda teRhadapnya. Tidak usah anda menuntut kebutuhan-kebutuhan duniawi kepadanya selama ia masih menegakkan peRkaRa-peRkaRa penting yang wajib. Sehingga hatinya menjadi lapang dan dadanya menjadi luas daRi menghadapi tuntutan-tuntutan anda. Anda akan mendapatkan akhiR/kesudahan yang baik Insya Allah. SemOga Allah Subhanahu wa Ta’ala membeRi taufik kepada anda agaR membeRi anda tambahan seluRuh kebaikan. Dan semOga Dia mempeRbaiki keadaan suami anda, membeRinya ilham kepada keluRusan dan menganugeRahinya akhlak yang baik seRta penuh peRhatian teRhadap hak-hak yang ada.” Maka beRsabaRlah dan teRus beRsabaR, diseRtai dOa kepada AR-Rahman…! Sungguh kesudahan yang baik akan anda Raih dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

[fathimah binti al-yaman -ROdhiyallahu ‘anha]
http://kisahislam.com/siroh-sahabiyah/12-fathimah-binti-al-yaman-rodhiyallahu-anha-

  • Fathimah binti Al-Yaman ROdhiallahu ‘anha adalah salah seORang sahabiyat yang ORang tuanya sahabat-sahabiyat, dan saudaRanya sahabat dan sahabiyat.
  • PaRa penulis biOgRafi menyebutkan bahwa Fathimah binti Al-Yaman mempunyai dua saudaRa peRempuan, yaitu Ummu Salamah binti Al-Yaman yang teRmasuk wanita beRiman, Muslimah, dan ahli ibadah. Dan Khaulah binti Al-Yaman yang juga menjadi sahabiyat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.
  • Al-Hasan dan Al-Husain dinamakan anak Fathimah-Fathimah, kaRena ibu keduanya ialah Fathimah Az-ZahRa’, nenek keduanya adalah Fathimah binti Asad, dan nenek Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam daRi jaluR ayah beliau ialah Fathimah binti Abdullah bin AmR bin ImRan bin Makhzum.
  • Jumlah sahabiyat yang beRnama Fathimah lebih daRi dua puluh. Di antaRa meReka ialah Fathimah Az-ZahRa’ binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Fathimah binti Asad yang tidak lain adalah ibu Ali bin Abu Thalib, Fathimah binti Khaththab yang tidak lain adalah saudaRa peRempuan UmaR bin Khaththab, dan Fathimah binti Al-Yaman.

[inilah istRi-istRi Rasulullah saw yang semuanya luaR biasa…..]
http://akujatuhcinta.multiply.com/journal/item/7

  • Sepeninggal Khadijah R. A., Rasulullah SAW sangat beRsedih hati. Namun kesedihan ini tidak dipendam lama-lama kaRena dakwah Islam yang masih beRusia sangat muda memeRlukan penanganan yang teRamat seRius. Sebab itu, Rasulullah SAW memeRlukan pendamping hidup sepeninggal Khadijah R. A. Maka beliau pun, atas izin Allah SWT, menikah kembali. Inilah keutamaan peRnikahan-peRnikahan yang dilakukan Rasulullah SAW sepeninggal Khadijah R. A.
  • IstRi-istRi Rasulullah:
    Saudah binti Zum’ah; Ketika dilamaR Rasulullah SAW, Saudah telah beRusia 70 tahun dengan 12 anak. PeRempuan beRkulit hitam daRi Sudan ini meRupakan janda

    Zainab binti Jahsy; seORang janda beRusia 45 tahun yang beRasal daRi keluaRga teRhORmat.

    Ummu Salamah binti Abu Umayyah; seORang janda beRusia 62 tahun. pandai mengajaR dan juga pandai beRpidatO.

    Ummu Habibah Ramlah binti Abu Sufyan; Untuk menyelamatkan akidah janda beRusia 47 tahun ini, Rasulullah mengambil langkah cepat dengan menikahi Ummu Habibah.

    JuwaiRiyyah binti Al-HaRits al-Khuzaiyyah; seORang janda beRusia 65 tahun dengan 17 anak. PeRempuan ini meRupakan budak dan tawanan peRang yang dibebaskan Rasulullah.

    Shafiyyah binti Hayyi Akhtab; seORang janda dua kali beRusia 53 tahun dan memiliki 10 ORang anak daRi peRnikahan sebelumnya.

    Maimunah binti Al-HaRits; seORang janda beRusia 63 tahun, yang beRasal daRi kabilah Yahudi Bani Kinanah. PeRnikahan ini dilakukan semata untuk mengembangkan dakwah Islam di kalangan Yahudi Bani NadhiR.

    Zainab binti Khuzaimah bin HaRits; seORang janda beRsuia 50 tahun yang sangat deRmawan dan banyak mengumpulkan anak-anak yatim, ORang-ORang lemah, seRta paRa fakiR miskin di Rumahnya, sehingga masyaRakat sekitaR menjulukinya sebagai “Ibu FakiR Miskin”.

    MaRiyah al-Kibtiyyah; Setelah delapan peRnikahannya dengan paRa janda-janda tua dengan banyak anak, baRulah Rasulullah SAW menikahi seORang gadis, ini pun beRtujuan untuk memeRdekakan MaRiyah dan menjaga iman Islamnya. MaRiyah meRupakan seORang budak beRusia 25 tahun yang dihadiahkan Oleh Raja Muqauqis daRi IskandaRiyah MesiR.

    Hafshah binti UmaR bin Khattab; seORang janda pahlawan peRang Uhud yang telah beRusia 35 tahun. salah seORang peRempuan peRtama di dalam Islam yang hafal dengan seluRuh suRat dan ayat al-QuR’an (Hafidzah).

    Aisyah binti Abu BakaR; Tentang usia peRnikahan Aisyah yang katanya masih beRusia 9 tahun, ini hanya beRdasaR satu hadits dhaif yang diRiwayatkan Oleh Hisyam bin ‘URwah saat beliau sudah ada di IRaq, dalam usia yang sangat tua dan daya ingatnya sudah jauh menuRun. BeRdasaRkan kajian peRjalanan hidup keluaRga dan anak-anak daRi Abu BakaR Ash-Shiddiq, maka akan dipeROleh keteRangan kuat bahwa Asiyah sesungguhnya telah beRusia 19-20 tahun ketika menikah dengan Rasululah SAW.

  • Inilah peRnikahan-peRnikahan agung yang dilakukan Rasulullah SAW. Beliau banyak menikahi paRa janda tua dengan banyak anak sebelum menikah dengan dua gadis (MaRiyyah dan Aisyah), itu pun atas peRintah Allah SWT dan di saat usia Beliau sudah tidak muda lagi. POligami yang diajaRkan, yang disunnahkan Rasulullah SAW adalah pOligami yang beRdasaRkan syaRiat yang sejati, bukan beRdasaR akal-akalan, bukan beRdasaRkan syahwat yang beRlindung di balik ayat-ayat Allah SWT.
  • Untuk mendownload file kumpulan artikel, silahkan klik link berikut:
    https://orido.files.wordpress.com/2008/12/downloadfile.jpg

    Iklan

    18 Tanggapan to “[RASUL] mencintai istRi shalehah”

    1. hanif Says:

      Karena susahnya itu aku tak berniat berpoligami nanti

      :: oRiDo™ ::
      semoga dapat istiqamah..
      😉

    2. ceznez Says:

      insya4JJI istri saya jadi istri yang shalehah

      :: oRiDo™ ::
      amin..
      🙂

    3. wanti annurria Says:

      artikel ini wajib dibaca para lelaki,, heheheh… 😀

      Qu selalu kagum dengan kesetiaan dan ketegaran Khadijah serta kecerdasan Aisyah dalam mendampingi Rasulullah saw dalam menyebarkan panji2 Islam di muka bumi ini…

      :: oRiDo™ ::
      semua wajib baca..
      karena Rasulullah adalah teladan bagi kita semua..
      😉

      semoga kita semua termasuk dalam golongan orang2 yang selalu istiqamah dalam menegakkan agama islam..
      🙂

    4. Jafar Soddik Says:

      Salah satu alasan kenapa Rasulullah Saw. diperintahkan oleh Allah Swt. untuk menikahi beberapa wanita adalah akan ada ‘skenario’ yang telah ditentukan oleh Allah melalui ayat-ayat Qur’an yang akan diturunkan. Seperti contoh ketika Nabi demi istri-istrinya sempat mengharamkan bagi dirinya untuk meminum madu, lalu Allah tegur melalui ayat Qur’an. Dan juga dari para istri-istrinya ini, wanita-wanita Muslim di zaman itu bisa bertanya banyak kepada mereka perihal masalah fiqih keseharian yang berhubungan dengan kaum wanita, hal itu akan sulit dilakukan oleh mereka jika harus bertanya langsung kepada Rasulullah Saw karena malu.

      Begitu banyak hikmah yang dipetik ketika Allah Swt. memerintahkan agar Rasulullah Saw. menikahi beberapa wanita. Dan itu bukanlah karena dorongan nafsu.

      :: oRiDo™ ::
      yups..
      Rasulullah menikahi bbrp wanita atas dasar perintah Allah swt untuk mendukung penyebaran agama islam..
      dari 12 istri Rasulullah, hanya 2 orang terakhir yang masih gadis, 10 lainnya adalah janda dan budak..
      tapi klo yang terjadi sekarang, mengedepankan nafsu, yang cantik dan masih gadis, tapi alasannya mencontoh Rasulullah..
      phhhh… 😦

      semoga kita semua dapat memetik hikmahnya

    5. Andioka Says:

      wanita sebagai perhiasan dunia. jempol dah buat mas Orido , punten saya print ya mas . oleh oleh buat sang penyejuk hati. matur kesuwun

      :: oRiDo™ ::
      alhamdulillah..
      🙂
      semoga berguna..
      mudah2an bukan buat di jadikan alasan poligami yah..
      heheh ..
      😀

    6. M. Surya Ikhsanudin Says:

      Rasulullah adalah Idolaku!

      maka keluarganya adalah panutanku!

      :: oRiDo™ ::
      mari kita tegakkan agama Allah..
      😉

    7. Aden Kejawen Says:

      Semoga Aku bisa mencontoh perilaku Rasulullah terhadap istri2 beliau, Amiiinnnn

      :: oRiDo™ ::
      amin..

    8. mahfuzhoh Says:

      Subhanallah……

      Ummu ‘Aisyah……ku ingin sepertimu
      Semoga ku bisa dan penulis pun bisa mendapatkan si shalihah

      :: oRiDo™ ::
      amin…
      🙂

    9. emfajar Says:

      di balik seorang pria yang tangguh pasti terdapat wanita yang tangguh di belakangnya..

      *semoga saia jg bisa mencontoh tauladan Rasulullah bila berkeluarga kelak..

      :: oRiDo™ ::
      yups..
      amin..
      🙂

    10. uvi07 Says:

      bismillah….

      “imroah shoolihah, idzaa roaitahaa sarrotka, wa idzaa amartahaa athoo’atka, wa idzaa taroktahaa hafidhotka fii nafsihaa wa maalika…/ masyaallah…!

      Allahumaarzuqnaa imroatan shoolihah….amien…

      :: oRiDo™ ::
      amin..

    11. newbiedika Says:

      Mdah2An aq ntar jd istri shalehah dh

      :: oRiDo™ ::
      amin..
      amin..

    12. Siti Fatimah Ahmad Says:

      Assalaamu’alaikum….

      Salam kenal…menjadi isteri solehah adalah impian semua muslimah yang mencintai suaminya kerana Allah swt.

      :: oRiDo™ ::
      wa’alaikum salam wr.wb.
      salam kenal juga dari indonesia..
      🙂

    13. .lala Says:

      semoga semoga semoga..

      amin ya Allah.

      :: oRiDo™ ::
      amin..
      🙂

    14. vaepink Says:

      Subhanallah 🙂

      :: oRiDo™ ::
      🙂

    15. D 1 JA Says:

      Ya Allah…hamba mohon hidayahMu..bimbing hamba menjadi istri yang soleha..menjadi penyejuk hati…

      :: oRiDo™ ::
      amin..
      amin..

    16. D 1 JA Says:

      Harus cari calon suami yg soleh jg kan….waduh mesti bdoa lg neh…buat calon..hehe..

      :: oRiDo™ ::
      wanita shalehah, insyaAllah mendapatkan suami shaleh juga..
      😉

    17. nisa frizani Says:

      MassaAllah.betapa adilx rasullaulah kpd istri2x.dan betpa beruntngx Aiysah.ketika.akhr hayat rasul.meninggal d’pangkuan Aisyah..

    18. nilawati Says:

      numpang ngopy ya akhi…..syukron


    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: