IBSN: [HOTD] seputaR haid dan peRmasalahannya

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri[bersetubuh] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.
[QS. Al Baqarah, 2 : 222]

Hadis riwayat Aisyah ra.:
Bahwa seorang wanita bertanya kepadanya: Apakah salah seorang di antara kami harus mengganti salat pada masa haid? Aisyah berkata: Apakah engkau termasuk golongan Haruriyyah (salah satu golongan Khawarij)? Dahulu, pada masa Rasulullah saw. di antara kami ada yang haid, tetapi tidak diperintahkan mengganti (salat)

Hadis riwayat Asma ra., ia berkata:
Seorang wanita datang kepada Nabi saw., ia berkata: Salah seorang di antara kami, pakaiannya terkena darah haid. Apa yang harus dilakukannya? Beliau bersabda: Mengerik darah itu, lalu menggosoknya dengan air, kemudian dibasuh. Setelah itu ia boleh salat dengan pakaian tersebut

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Fatimah binti Abu Hubaisy datang kepada Nabi saw. dan berkata: Wahai Rasulullah saw, saya adalah wanita yang beristihadhah sehingga saya tidak bersih. Apakah saya boleh meninggalkan salat? Beliau bersabda: Tidak. Itu hanya darah sakit, bukan darah haid. Apabila haidmu datang, tinggalkanlah salat dan jika sudah berhenti, bersihkan darah itu dari dirimu kemudian salat

Hadis riwayat Maimunah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. biasa menggauli (tanpa senggama) istri-istri beliau yang sedang haid dari luar izaar (kain bawahan menutupi bagian tubuh dari pusar ke bawah)

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Seorang wanita bertanya kepada Nabi saw. tentang cara wanita mandi wajib dari haid? Perawi hadis berkata: Kemudian Aisyah menjelaskan bahwa beliau mengajarkannya cara mandi. (Di antara sabda beliau): Engkau ambil kapas yang diberi misik, lalu bersihkan dengan kapas itu. Wanita itu berkata: Bagaimana cara membersihkannya? Beliau bersabda: Maha suci Allah! Bersihkan saja dengan kapas itu. Dan beliau bersembunyi. (Sufyan bin Uyainah memberi isyarat tangan kepada kami pada wajahnya). Perawi hadis melanjutkan: Aisyah berkata: Aku tarik wanita itu mendekati aku. Aku tahu apa yang diinginkan Nabi saw, lalu aku berkata kepadanya: Bersihkan bekas darah haidmu dengan kapas itu

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Adalah Nabi saw. apabila beriktikaf, beliau mendekatkan kepalanya padaku, lalu aku menyisir rambut beliau. Beliau tidak masuk rumah, kecuali jika ada hajat kemanusiaan

sebagai tambahan info..
berikut ada program yang bisa dipake untuk membantu memprediksi masa kesuburan.. ;-)

tampilan Program Prediksi Masa Kesuburan Wanita

tampilan Program Prediksi Masa Kesuburan Wanita


program nya bisa di donlod gratis disini..

Links:

[hukum seputaR daRah wanita: haid]
http://muslimah.OR.id/fiqh-muslimah/hukum-seputaR-daRah-wanita-haid.html

  • Sebagian ulama melaRang seORang wanita masuk dan duduk di dalam masjid dengan dalil:“Aku tidak menghalalkan masjid untuk wanita yang haidh dan ORang yang junub.” (DiRiwayatkan Oleh Abu Daud nO.232, al Baihaqi II/442-443, dan lain-lain). Akan tetapi hadits di atas meRupakan hadits dhO’if (lemah) meski memiliki bebeRapa syawahid (penguat) namun sanad-sanadnya lemah sehingga tidak bisa menguatkannya dan tidak dapat dijadikan hujjah. Syaikh Albani -Rahimahullaah- telah menjelaskan hal teRsebut dalam ‘DhO’if Sunan Abi Daud’ nO. 32 seRta membantah ulama yang menshahihkan hadits teRsebut sepeRti Ibnu Khuzaimah, Ibnu al QOhthOn, dan Asy Syaukani. Beliau juga menyebutkan ke-dhO’if-an hadits ini dalam IRwa’ul GhOlil’ I/201-212 nO. 193.
  • Wanita yang sedang haid dipeRbOlehkan masuk dan duduk di dalam masjid kaRena tidak ada dalil yang jelas dan shOhih yang melaRang hal teRsebut. Namun, hendaknya wanita teRsebut menjaga diRi dengan baik sehingga daRahnya tidak mengOtORi masjid.
  • Sebagian ulama beRpendapat bahwa wanita yang haid dilaRang untuk membaca Al QuR’an (dengan hafalannya) dengan dalil: “ORang junub dan wanita haid tidak bOleh membaca sedikitpun daRi Al QuR’an.” (DiRiwayatkan Oleh Imam TiRmidzi I/236; Al Baihaqi I/89 daRi Isma’il bin ‘Ayyasi daRi Musa bin ‘Uqbah daRi Nafi’ daRi Ibnu ‘UmaR). Syaikh Al Albani beRkata, “Hadits ini diRiwayatkan daRi penduduk Hijaz maka hadits ini dhOif.” (DiRingkas daRi LaRangan-laRangan SeputaR Wanita Haid daRi IRwa’ul GhOlil I/206-210).
  • SeORang yang melakukan haji dipeRbOlehkan untuk beRdzikiR dan membaca Al QuR’an. Maka, kedua hal teRsebut juga dipeRbOlehkan bagi seORang wanita yang haid kaRena yang teRlaRang dilakukan Oleh wanita teRsebut -beRdasaR hadits di atas- hanyalah thOwaf di Baitullah. (Jami’ Ahkamin Nisa’ I/183).
  • Imam Asy Syaukani beRkata dalam Nailul AuthOR, Kitab ThOhaROh, Bab Wajibnya BeRwudhu Ketika Hendak Melaksanakan ShOlat, ThOwaf, dan Menyentuh Mushhaf: “Hamba-hamba yang disucikan adalah hamba yang tidak najis, sedangkan seORang mu’min selamanya bukan ORang yang najis (Muttafaqun ‘alaih). Maka tidak sah membawakan aRti (hamba) yang disucikan bagi ORang yang tidak junub, haid, ORang yang beRhadats, atau membawa baRang najis. Akan tetapi, wajib untuk membawanya kepada aRti: ORang yang tidak musyRik sebagaimana dalam fiRman Allah Ta’ala yang aRtinya, “Sesungguhnya ORang-ORang musyRik itu najis.” (QS. At Taubah: 28).
  • Mengenai hadits “Tidak bOleh menyentuh Al QuR’an kecuali ORang yang suci”, Syaikh NashiRuddin Al Albani Rahimahullah beRkata, “Yang paling dekat -Wallahu a’lam- maksud “ORang yang suci” dalam hadits ini adalah ORang mu’min baik dalam keadaan beRhadats besaR, kecil, wanita haid, atau yang di atas badannya teRdapat benda najis kaRena sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam: “ORang mu’min tidakah najis” dan hadits di atas disepakati keshahihannya. Yang dimaksudkan dalam hadits ini (yaitu hadits Tidak bOleh menyentuh Al QuR’an kecuali ORang yang suci) bahwasanya beliau melaRang membeRikan kuasa kepada ORang musyRik untuk menyentuhnya. Meski demikian, bagi seseORang yang beRhadats kecil sedang ia ingin memegang mushaf untuk membacanya maka lebih baik dia beRwudhu teRlebih dahulu.

[catatan untuk paRa suami]
http://www.alsOfwah.OR.id/index.php?pilih=lihatannuR&id=463

  • Hendaklah seORang suami senantiasa beRtakwa kepada Allah subhanahu wata’ala dalam mempeRgauli dan mempeRlakukan istRinya.
  • Hendaklah seORang suami memiliki peRangai dan tabiat yang mulia. Janganlah ia mencaci istRinya, menjelek-jelekkannya, dan mendiamkannya.
  • Hendaklah seORang suami banyak beRsabaR dan baik dalam beRmu’amalah dengan istRinya.
  • Hendaklah seORang suami memiliki kecembuRuan teRhadap istRinya, tetapi tidak beRlebihan, sehingga beRbuRuk sangka kepadanya.
  • Hendaklah seORang suami beRsikap lemah lembut dan bijaksana dalam menyikapi kesalahan dan kekeliRuan.
  • Hendaklah seORang suami membeRikan nafkah kepada istRinya dengan ma’Ruf (layak).
  • Hendaklah seORang suami mempelajaRi fiqih kewanitaan sehingga ia mengetahui caRa menggauli istRinya saat haidh dan nifas, dan hendaklah ia mengajaRkan kepada istRinya tentang masalah teRsebut, jika ia belum mengetahuinya.
  • Hendaklah seORang suami mengeRti, bahwasannya tidak bOleh baginya beRhubungan (beRsetubuh) dengan istRinya waktu haidh, dan tidak pula pada dubuRnya. Dan dibOlehkan baginya untuk beRmesRa-mesRaan dengannya waktu haidh, kecuali melakukan jima’ (beRsetubuh), kaRena hal teRsebut dihaRamkan.
  • Di antaRa etika melakukan jima’: Memulai dengan basmalah (membaca bismillah dan beRdO’a), beRsenda guRau, beRpelukan, mencium sebelum melakukannya. KaRena hal itu lebih dapat membeRikan kepuasan bagi suami dan istRi. Dan jika seORang suami telah selesai menunaikan hajatnya, maka hendaklah ia tidak teRgesa-gesa (menyudahinya), sampai sang istRi mendapatkan haknya. Dan baRangsiapa yang ingin mengulanginya (jima’), maka hendaklah ia membasuh kemaluannya, lalu beRwudhu.
  • Hendaklah seORang suami menjauhkan diRi daRi menyebaRkanluaskan Rahasia-Rahasia hubungan suami-istRi.

[daRah kebiasaan wanita]
http://muslimah.OR.id/fiqh-muslimah/daRah-kebiasaaan-wanita.html

  • Haid bagi wanita meRupakan salah satu bentuk nikmat daRi Allah. KebeRadaan daRah haid pada wanita menunjukkan bahwa wanita teRsebut memiliki kemampuan untuk memiliki ketuRunan. Islam membeRikan penjelasan tentang bebeRapa hal beRkaitan dengan daRah haid wanita.
  • MenuRut istilah syaR’i, haid adalah daRah yang teRjadi pada wanita secaRa alami, bukan kaRena suatu sebab dan teRjadi pada waktu teRtentu. Jadi, daRah haid adalah daRah nORmal, bukan disebabkan Oleh suatu penyakit, luka, gangguan atau pROses melahiRkan. DaRah haid antaRa wanita yang satu dengan yang lain memiliki peRbedaan, misalnya jumlah daRah yang keluaR, masa dan lama keluaR daRah haid setiap bulan. PeRbedaan teRsebut teRjadi sesuai kOndisi setiap wanita, lingkungan, maupun iklimnya.
  • AkhiR masa haid wanita dapat ditentukan dengan dua caRa, yaitu ketika daRah haid telah beRhenti, tandanya jika kapas dimasukkan ke dalam tempat keluaRnya daRah setelah dikeluaRkan tetap dalam kOndisi keRing, tidak ada daRah yang melekat di kapas (-ed.). Yang kedua yaitu ketika telah teRlihat atau keluaR lendiR putih agak keRuh. Pada saat teRsebut seORang wanita muslimah diwajibkan untuk segeRa mandi dan mengeRjakan shOlat jika telah masuk waktu shOlat. Hal ini sekaligus meRupakan nasehat agaR paRa wanita tidak beRmudah-mudah untuk meninggalkan shOlat padahal dia telah suci, dengan alasan bahwa meReka belum mandi suci.
  • Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni mengatakan “Jika beRhentinya daRah kuRang daRi sehaRi maka seyOgyanya tidak diangap sebagai keadaan suci. BeRdasaRkan Riwayat yang kami sebutkan beRkaitan dengan nifas, bahwa beRhentinya daRah yang kuRang daRi sehaRi tidak peRlu dipeRhatikan dan inilah pendapat yang shahih, insyaa Allah. Alasannya adalah bahwa dalam keadaan keluaRnya daRah yang teRputus-putus (sekali keluaR dan sekali tidak) bila diwajibkan bagi wanita pada setiap saat teRhenti keluaRnya daRah untuk mandi”.
  • SeORang wanita biasanya haid selama enam hingga tujuh haRi setiap bulan. Pada haRi ke-5 biasanya daRah hanya akan keluaR sedikit sepeRti nOktah seukuRan uang lOgam (beRbekas pada pakaian dalamnya). Pada malam haRi (saat aktivitas sedikit) daRah tidak keluaR. Pada haRi ke-6 daRah akan tetap keluaR namun sangat sedikit. Dalam kasus ini, wanita teRsebut belum dianggap suci pada malam di haRi ke-5 kaRena menuRut kebiasaan haidnya, pada haRi-haRi akhiR haid daRah hanya akan keluaR pada pagi hingga sORe haRi (yaitu di saat dia banyak melakukan aktivitas). Kemudian pada pagi di haRi ke-7 dia melakukan banyak aktivitas tetapi daRah haid tidak lagi keluaR sama sekali dan telah keluaR pula lendiR putih yang biasanya memang muncul jika masa haidnya telah selesai. Pada haRi ke-7 itulah, wanita teRsebut telah suci daRi haid.
  • Hal-hal yang teRlaRang Ketika seORang wanita sedang dalam keadaan haid:
      1. Shalat, baik shalat faRdhu maupun shalat sunnah. Wanita haid tidak disyaRiatkan untuk mengganti shalat faRdhu yang tidak dikeRjakannya selama masa haid.
      2. Puasa, baik puasa faRdhu maupun puasa sunnah. Akan tetapi, puasa faRdhu (misalnya puasa Ramadhan) wajib diganti (qadha’) di haRi lain di luaR masa haidnya.
      3. Thawaf.
      4. Jima’. Suami tidak bOleh melakukan jima’ (senggama) dengan istRinya yang sedang haid
  • Hal-hal yang tetap bOleh dilakukan Oleh wanita yang sedang haid adalah:
      1. BeRdiam diRi di masjid.
      2. Membaca Al-QuR’an dan menyentuh mushaf.
  • BeRikut ini adalah amalan-amalan beRnilai ibadah yang bisa dilakukan di masa haid:
      1. MempeRbanyak dzikiR kepada Allah.
      2. MenghadiRi majelis-majelis ta’lim.
      3. Membaca buku-buku agama.
      4. BeRgaul dengan ORang-ORang shalihah yang dapat menjaga semangatnya.
      5. Mengisi waktu luang dengan hal-hal yang beRmanfaat bagi akhiRatnya.
      6. Membaca Al-QuR’an.

[hukum seputaR daRah wanita: istihadlah]
http://muslimah.OR.id/fiqh-muslimah/hukum-seputaR-daRah-wanita-istihadlah.html

  • Di kalangan wanita ada yang mengeluaRkan daRah daRi faRji’ (vagina)-nya di luaR kebiasaan bulanan dan bukan kaRena sebab kelahiRan. DaRah ini diistilahkan sebagai daRah istihadlah. Al Imam An Nawawi Rahimahullaah dalam penjelasaannya teRhadap Shahih Muslim mengatakan: Istihadlah adalah daRah yang mengaliR daRi kemaluan wanita bukan pada waktunya dan keluaRnya daRi uRat.” (Shahih Muslim bi SyaRhin Nawawi 4/17, Fathul BaRi 1/511).
  • PeRbedaan antaRa daRah istihadlah dengan daRah haid adalah daRah haid meRupakan daRah alami, biasa dialami wanita nORmal dan keluaRnya daRi Rahim sedangkan daRah istihadlah keluaR kaRena pecahnya uRat, sifatnya tidak alami (tidak mesti dialami setiap wanita) seRta keluaR daRi uRat yang ada di sisi Rahim.
  • Ada peRbedaan lain daRi sifat daRah haid bila dibandingkan dengan daRah istihadlah:
      1. PeRbedaan waRna. DaRah haid umumnya hitam sedangkan daRah istihadlah umumnya meRah segaR.
      2. Kelunakan dan keRasnya. DaRah haid sifatnya keRas sedangkan istihadlah lunak.
      3. Kekentalannya. DaRah haid kental sedangkan daRah istihadlah sebaliknya.
      4. AROmanya. DaRah haid beRaROma tidak sedap/busuk.
  • Meninggalkan shalat dan puasa di haRi-haRi kebiasaan haidnya dan beRlaku padanya hukum-hukum wanita haid, adapun di luaR kebiasaan haidnya bila keluaR daRah maka daRah teRsebut adalah daRah istihadlah dan beRlaku padanya hukum-hukum wanita yang suci.
  • Untuk membedakan haid dan istihadlahnya jika sifatnya sama atau tidak jelas peRbedaannya adalah dengan melihat kebiasaan kebanyakan wanita yaitu dia menganggap diRinya haid selama enam atau tujuh haRi pada setiap bulannya dan dimulai sejak awal dia melihat keluaRnya daRah. Selebihnya beRaRti istihadlah.
  • Hukum wanita yang istihadlah sama sepeRti hukum wanita yang suci kecuali pada hal beRikut ini:
      1. Wanita istihadlah bila ingin wudlu maka ia mencuci bekas daRah daRi kemaluannya dan menahan daRahnya dengan kain (pembalut).
      2. PeRintah wudlu bukanlah datang daRi Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam dan peRintah yang datang dalam masalah ini adalah lemah sebagaimana dilemahkan Oleh paRa ulama. Namun jangan sampai dipahami bahwa yang wajib adalah mandi setiap shalat dan sudah lewat penyebutan kami tentang masalah mandi bagi wanita istihadlah ini.

[haid membaca al-quRan]
http://mhamzah.multiply.cOm/Reviews/item/17

  • Hukum Wanita Haidh beRdzikiR Kepada Allah Dan Membaca Al QuR’an PeRmasalahan membaca Al QuR’an bagi wanita haid ini memang ada peRselisihan di kalangan ulama. Ada yang membOlehkan dan ada yang tidak membOlehkan.
  • Abu Hanifah beRpendapat bOlehnya wanita haid membaca Al QuR’an dan ini meRupakan pendapat yang masyhuR dalam madzhab Syafi’i dan Ahmad, dan pendapat ini yang dikuatkan Oleh Ibnu Taimiyah. MeReka mengatakan : “Asal dalam peRkaRa ini adalah halal. Maka tidak bOleh memindahkan kepada selainnya kecuali kaRena ada laRangan yang shahih yang jelas.” Oleh kaRena itu wanita haid disyaRiatkan untuk beRdzikiR kepada Allah Ta’ala, dan Al QuR’an teRmasuk dzikiR. Apabila seORang yang beRhaji dibOlehkan membaca Al QuR’an maka demikian pula bagi wanita haid, kaRena yang dikecualikan dalam laRangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam kepada ‘Aisyah yang sedang haid hanyalah Thawaf.
  • Hukum Menyentuh Mushaf Bagi Wanita Haid BeRkata Asy Syaikh Mushthafa Al Adawi : “MayORitas Ahli Ilmu beRpendapat wanita haid tidak bOleh menyentuh mushaf Al QuR’an. Namun dalil-dalil yang meReka bawakan untuk menetapkan hal teRsebut tidaklah sempuRna untuk dijadikan sisi pendalilan. Dan yang kami pandang benaR, Wallahu A’lam, bahwasannya bOleh bagi wanita haid untuk menyentuh mushaf Al QuR’an.
  • Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla beRpendapat: “Membaca Al-QuR’an, dan sujud di dalamnya, menyentuh mushaf dan dzikiR kepada Allah bOleh dilakukan baik dalam keadaan punya wudhu atau tidak, bagi yang junub maupun wanita haidh. Penjelasan hal teRsebut, kaRena Membaca Al-QuR’an, dan sujud di dalamnya, menyentuh mushaf dan dzikiR kepada Allah meRupakan peRbuatan baik yang disunnahkan dan pelakunya akan dibeRi pahala. BaRangsiapa yang beRpendapat adanya laRangan melakukannnya dalam keadaan teRtentu, maka ORang teRsebut wajib menunjukkan dalilnya” (Al-Muhalla Bil AatsaaR I/94-95 Masalah NO. 116)

[benaRkah kaum wanita tidak bOleh masuk masjid kaRena meReka adalah najis]
http://www.alsOfwah.OR.id/index.php?pilih=lihatfatwa&id=63

  • Manusia bukanlah najis, baik pRia maupun wanita, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, kaRena itu wanita dibOlehkan untuk masuk ke dalam masjid kecuali jika ia dalam keadaan junub atau haidh, maka tidak bOleh baginya untuk masuk ke masjid kecuali hanya sekadaR lewat, dengan syaRat ia haRus beRhati-hati agaR daRah haidhnya itu tidak menOdai masjid.
  • Al-Lajnah Ad-Da’imah telah mengeluaRkan fatwa tentang shalat wanita beRsama jama’ah di masjid, fatwa itu beRbunyi sebagai beRikut: DibeRi keRinganan bagi wanita yang datang ke masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at dan untuk melaksanakan shalat-shalat lainnya dengan beRjama’ah, dan bagi suaminya tidak bOleh melaRangnya melakukan hal itu, namun shalatnya seORang wanita di Rumahnya adalah lebih baik baginya. Dan jika seORang wanita akan peRgi ke masjid maka ia haRus mempeRhatikan etika Islam dengan menggunakan pakaian yang dapat menutupi auRatnya, jangan menggunakan pakaian yang tipis (tRanspaRan) atau ketat yang dapat mempeRlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya, tidak menggunakan minyak wangi dan tidak menyatu dalam shaf kaum pRia, akan tetapi membuat shaf teRsendiRi di belakang shaf kaum pRia.

[hukum ORang haidh beRdiam di masjid]
http://www.alsOfwah.OR.id/index.php?pilih=lihatfatwa&id=144

  • SeORang peRempuan yang dalam keadaan haidh tidak bOleh beRdiam di masjid. Adapun jika sekedaR melewati masjid maka tidak apa-apa, dengan syaRat aman daRi mengOtORi masjid teRsebut dengan daRah yang mungkin keluaR, Oleh kaRena itu, apabila tidak bOleh baginya untuk beRdiam di masjid, maka tidak bOleh baginya untuk peRgi (ke masjid) untuk mendengaRkan ceRamah atau bacaan al-QuR’an kecuali ada tempat khusus di luaR masjid yang dapat sampai suaRa penceRamah atau pembaca al-QuR’an dengan pengeRas suaRa, maka tidak apa-apa baginya untuk duduk di tempat teRsebut untuk mendengaRkan dzikiR (al-QuR’an dll. Pent.) kaRena bOleh bagi peRempuan (yang haidh) mendengaRkan dzikiR dan bacaan.

[tata caRa mandi haid dan mandi junub]
http://muslimah.OR.id/fiqh-muslimah/tata-caRa-mandi-haid-dan-mandi-junub.html

  • Maka wajib bagi wanita apabila telah beRsih daRi haidh untuk mandi dengan membeRsihkan seluRuh anggOta badan; minimal dengan menyiRamkan aiR ke seluRuh badannya sampai ke pangkal Rambutnya; dan yang lebih utama adalah dengan tata caRa mandi yang teRdapat dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Ringkasnya sebagai beRikut:
      1. Wanita teRsebut mengambil aiR dan sabunnya, kemudian beRwudhu’ dan membaguskan wudhu’nya.
      2. MenyiRamkan aiR ke atas kepalanya lalu menggOsOk-gOsOkkannya dengan kuat sehingga aiR dapat sampai pada tempat tumbuhnya Rambut. Dalam hal ini tidak wajib baginya untuk menguRaikan jalinan Rambut kecuali apabila dengan menguRaikan jalinan akan dapat membantu sampainya aiR ke tempat tumbuhnya Rambut (kulit kepala).
      3. MenyiRamkan aiR ke badannya.
      4. Mengambil secaRik kain atau kapas(atau semisalnya) lalu dibeRi minyak wangi kastuRi atau semisalnya kemudian mengusap bekas daRah (faRji) dengannya.
  • Sedangkan tata caRa untuk mandi junub bagi wanita adalah:
      1. SeORang wanita mengambil aiRnya, kemudian beRwudhu dan membaguskan wudhu’nya (dimulai dengan bagian yang kanan).
      2. MenyiRamkan aiR ke atas kepalanya tiga kali.
      3. MenggOsOk-gOsOk kepalanya sehingga aiR sampai pada pangkal Rambutnya.
      4. MengguyuRkan aiR ke badan dimulai dengan bagian yang kanan kemudian bagian yang kiRi.
      5. Tidak wajib membuka jalinan Rambut ketika mandi.

[peRkaRa-peRkaRa yang beRlaku ketika haid]
http://www.hafizfiRdaus.cOm/ebOOk/DaRahWanita/tiga.htm

  • PeRbezaan masa haid: 1. TempOh mengaliRnya. 2. PeRmulaan masa mengaliRnya (putaRan haid).
  • Sesungguhnya paRa ilmuan beRbeza pendapat dalam dua kes di atas. Namun pendapat yang teRkuat dan benaR ialah apabila seORang wanita melihat daRah mengaliR keluaR beReRti dia haid dan apabila daRah beRhenti mengaliR beReRti dia suci (tidak haid).
  • CecaiR yang kekuningan (SufRah) atau kekeRuhan antaRa kuning dan hitam (KudRah): jika ia (sufRah dan KudRah) mengaliR keluaR ketika sedang haid atau beRsambungan di akhiR masa haid, sebelum suci, maka ia dikategORikan sebagai haid dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum yang beRsamaan dengan daRah haid biasa. Jika ia (sufRah dan KudRah) mengaliR keluaR secaRa teRpisah daRipada masa haid, yakni dalam masa suci, maka ia tidak dikategORikan sebagai haid.
  • Haid yang teRputus-putus: 1. Jika ia beRlaku secaRa beRteRusan, maka ia adalah daRah istihadah dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum istihadah. 2. Jika ia tidak beRlaku secaRa beRteRusan, bahkan hanya sekali-sekala sehingga ada tempOh waktu suci yang jelas baginya. Bagi kes kedua ini, paRa ilmuan beRbeza pendapat.
  • Jika daRah haid tidak mengaliR, sepeRti menjadi keRing atau hanya lembab, maka hukumnya teRbahagi kepada dua kes: 1. Jika ia beRlaku ketika sedang haid atau atau beRsambungan di akhiR masa haid, sebelum suci, maka ia dikategORikan sebagai haid. 2. Jika ia beRlaku selepas haid, yakni dalam masa suci, maka ia tidak dikategORikan sebagai haid.

[hukum-hukum haid]
http://www.hafizfiRdaus.cOm/ebOOk/DaRahWanita/empat.htm

  • Hukum-hukum Haid:
      1. SHALAT: DihaRamkan sOlat ke atas wanita yang sedang haid, sama ada sOlat sunat mahupun sOlat faRdhu. Bahkan tidak sah jika dia tetap melaksanakannya. Namun teRdapat satu pengecualian, iaitu apabila dia sempat mempeROleh satu Rakaat sOlat faRdhu dalam waktunya, sama ada di awal waktu atau akhiR waktu, maka wajib ke atasnya untuk melaksanakan sOlat faRdhu teRsebut.
      2. BERZIKIR dan MEMBACA AL-QUR’AN: Wanita yang sedang haid bOleh beRzikiR, beRtasbih (membaca Subhanalah), beRtahmid (membaca alhamdulillah), membaca Bismillah ketika makan dan sebagainya. BOleh juga membaca buku-buku hadis, fiqh (buku agama), beRdOa, mengaminkan dOa dan mendengaR bacaan a-QuR’an. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah dalam kitabnya Majmu’ al-Fatawa, jld. 26, ms. 191 menyatakan, “Sejak asal tidak ada laRangan daRipada al-Sunnah (bagi wanita yang sedang haid) membaca al-QuR’an. Hadis: “Wanita haid tidak bOleh membaca sesuatu daRipada al-QuR’an” adalah hadis yang lemah (dha‘if) yang disepakati Oleh paRa ahli hadis.”
      3. PUASA: DihaRamkan bagi wanita yang sedang haid untuk beRpuasa, sama ada puasa sunat mahupun puasa faRdhu. Jika dia tetap beRpuasa maka tidak sah puasanya. Akan tetapi dia wajib mengqadha puasa faRdhunya. Apabila seORang wanita sedang beRpuasa lalu dia didatangi haid, maka puasanya menjadi batal sekalipun waktu beRbuka (waktu MaghRib) sudah sangat hampiR. Apabila seORang wanita tamat haidnya sebelum teRbit fajaR (belum masuk waktu Subuh), maka dia bOleh beRpuasa dan puasanya adalah sah sekalipun dia belum sempat mandi wajib.
      4. TAWAF di KA’BAH: DihaRamkan bagi wanita yang sedang haid untuk tawaf, sama ada tawaf sunat mahupun tawaf faRdhu. Jika dia tetap tawaf maka tidak sah tawafnya. Akan tetapi dihaRuskan melaksanakan lain-lain amalan daRipada haji dan umRah sepeRti sa’e antaRa Safa dan MaRwah, wuquf, beRmalam di Mudzalifah dan Mina, melOntaR jamRah dan sebagainya. Apabila seORang wanita telah menyempuRnakan ibadah haji dan umRah lalu dia didatangi haid yang beRteRusan sehingga saat hendak balik ke negeRinya, dia bOleh balik tanpa melakukan tawaf wida’ (tawaf selamat tinggal).
      5. DUDUK DALAM MASJID: DihaRamkan bagi wanita yang sedang haid untuk beRada atau duduk dalam masjid.
      6. BERSETUBUH: DihaRamkan bagi seORang suami untuk menyetubuhi isteRinya yang sedang haid. Demikian juga, dihaRamkan bagi seORang isteRi yang sedang haid untuk membiaRkan suaminya menyetubuhinya. Selain itu, dihalalkan bagi suami untuk memuaskan nafsunya dengan beRciuman, beRpelukan, beRsentuhan dan lain-lain, asalkan bukan faRaj. Malah lebih utama jika tidak beRsentuhan kulit pada kawasan yang teRletak antaRa pusat dan lutut kecuali dengan beRlapik.
      7. TALAK (CERAI): DihaRamkan ke atas suami untuk menceRaikan isteRinya yang sedang haid [al-Talaq 65:01]. SeORang suami tidak bOleh menceRaikan isteRinya yang sedang haid keRana masa haid tidak dikiRa sebagai peRmulaan iddah. Hukum haRam menceRaikan isteRi yang sedang haid memiliki 3 pengecualian: a. Sejak beRnikah pasangan suami isteRi teRsebut belum peRnah beRsamaan atau beRsetubuh. b. IsteRi yang didatangi haid ketika sedang hamil. c. Jika beRlaku penceRaian secaRa tebus talak (khulu’).
      8. DIKIRA BILANGAN TALAK DENGAN HAID: Apabila seORang suami menceRaikan isteRinya selepas menyetubuhinya, maka wajib ke atas isteRi teRsebut menghitung iddahnya dengan kedatangan tiga kali haid yang sempuRna. SyaRat ini adalah bagi isteRi yang masih didatangi putaRan haid dan tidak hamil.
      9. MENGHUKUM KEKOSONGAN RAHIM: KekOsOngan Rahim beRmaksud tidak hamil. Sebagai cOntOh, seORang isteRi yang kematian suami beRkahwin dengan suami yang baRu. Suami yang baRu tidak bOleh menyetubuhinya sehingga dia didatangi haid atau jelas hamil.
      10. WAJIB MANDI: Apabila haid beRhenti, wajib mandi dengan mengenakan aiR ke seluRuh anggOta badan. SyaRat paling minimum bagi mandi wajib adalah dikenakan aiR pada seluRuh anggOta badan teRmasuklah ke bawah Rambut. Tidak wajib membuka ikatan Rambut kecuali jika ia teRikat dengan kuat keRana dibimbangi aiR tidak akan sampai ke kulit kepala. Jika haid beRhenti sesudah masuk waktu sOlat maka wajib segeRa mandi supaya dapat dilaksanakan sOlat dalam waktunya. Jika menghadapi kesukaRan untuk mandi sepeRti musafiR, tidak ada aiR, mudaRat menggunakan aiR atau sakit, maka bOleh beRtayamum sebagai ganti kepada mandi. Apabila faktOR kesukaRan hilang, maka wajib mandi.

IBSN™adalah sebuah wadah insan indonesia dalam jaringan internet dengan berbagai jenis blog platform yang memiliki konsep keindahan berbagi berbagai hal bermanfaat untuk kebaikan pada sesama, dengan tujuan untuk membuat hidup ini makin bermakna.
visit Indonesians’ Beautiful Sharing Network™

Untuk mendownload file kumpulan artikel, silahkan klik link berikut:

https://orido.files.wordpress.com/2008/12/downloadfile.jpg

About these ads

18 Tanggapan to “IBSN: [HOTD] seputaR haid dan peRmasalahannya”

  1. zoel Says:

    wah ada software nya jga.. postingan yg bermanfaat

    :: oRiDo™ ::
    alhamdulillah…
    saya coba utk selengkap mungkin..
    walo ada yg protes kepanjangan..
    hehehhe,.. :)

  2. SanG BaYAnG Says:

    Kenapa sedikit sekali penafsiranya,apa gak ada rencana membuat sesuatu yang bermanfaat tapi singkat dan padat.
    InsyaAllah orang akan lebih mudah mengerti.
    Amiin..

    :: oRiDo™ ::
    saya hanya mencoba utk menampilkan tulisan yang selengkap mungkin kaitannya dengan topik sesuai hadist diatas..
    saya buat bold inti2 yang mungkin bisa jadi pegangan..
    silahkan mas SangBayang kalo punya tulisan yang lebih singkat dan padat.. silahkan di share di sini..

  3. iephe Says:

    Postingan yang lengkap…. :)

    :: oRiDo™ ::
    alhamdulillah..
    semoga berguna.. :)

  4. siwi Says:

    Waaaaahhh.. Lengkap sekaliii..
    terima kasih infonya, sangat bermanfaat :D

    :: oRiDo™ ::
    alhamdulillah…
    silahkan disebarkan..
    semoga berguna… :)

  5. shalimow Says:

    assalamualaikum bos
    thanks atas kunjungannya
    wah panjang banget tulisanya, heheheh
    asyik. manfaat

    :: oRiDo™ ::
    wa’alaikum salam wr.wb.
    makasih juga udh balik berkunjung.. :)
    semoga berguna.. :)

  6. Menik Says:

    saya suka bacanya.. :)
    boleh dikopas ? :D

    :: oRiDo™ ::
    alhamdulillah…
    monggo Bund..
    silahkan..
    dituker ama masakan Bund yah.. yah.. yah..
    nyam..nyam..nyam… :D

  7. shalimow Says:

    assalamualaikum
    bos, kalo berkenan tukar link ya?
    punya bos sudah saya link di page/tukar link?
    thanks ya

    :: oRiDo™ ::
    wa’alaikum salam wr.wb.
    insyaAllah..
    oke, saya masukkan ke list warnawarnisahabat (lihat bawah) yah.. :)

  8. antown Says:

    bagus mas tulisannya, saya minta penjelasan soal kenapa perempuan yang haid boleh
    1. BeRdiam diRi di masjid.
    2. Membaca Al-QuR’an dan menyentuh mushaf.

    bisa balas di blog saya saja :D
    makasih banyak atas pencerahannya.

    :: oRiDo™ ::
    alhamdulillah..
    untuk lebih jelas nya, mungkin tanya di link terkait..
    saya copas sedikit penjelasan dari link tersebut:

    Sedangkan hal-hal yang tetap boleh dilakukan oleh wanita yang sedang haid adalah:

    1. Berdiam diri di masjid.
    Dalam masalah ini terdapat perbedaan yang luas dikalangan ulama (-ed.). tetapi, pendapat yang lebih kuat menurut kami, wanita yang sedang haid tetap boleh berdiam diri di masjid karena suatu kebutuhan (misalnya, mengikuti kajian yang dilangsungkan di masjid). Hal ini didasarkan pada kisah seorang wanita di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bertugas mengurus masjid. Dia membangun tenda di dalam masjid dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari hal tersebut.
    2. Membaca Al-Qur’an dan menyentuh mushaf
    Sebagian wanita menghentikan sama sekali rutinitasnya membaca Al-Qur’an, padahal tidak ada larangan sama sekali membaca Al-Qur’an bagi wanita haidh. Masalah yang diperselisihkan adalah boleh tidaknya menyentuh mushaf Al-Qur’an (-ed.). Sebagian ulama’ berpendapat bahwa wanita haid tidak boleh menyentuh mushaf Al-Qur’an. Mereka berdalil dengan ayat Al-Qur’an yang artinya,“Dan dia (Al-Qur’an) tidaklah disentuh kecuali oleh al-muthohharuun (orang-orang yang suci).” (Qs. Al-Waaqi’ah: 79)
    Hal tersebut tidaklah benar, sebagaimana penjelasan Syaikh Al-Albani bahwa yang dimaksud al-muthohharuun pada ayat tersebut adalah para malaikat. Pendapat lain yang menyatakan bolehnya wanita haid menyentuh mushaf Al-Qur’an, yaitu pendapat Ibnu Hazm.

    semoga berguna…

  9. indah rephi Says:

    wah mas..saya seneng banget baca artikel ini..banyak pengetahuan yang saya dapatkan :) krn sebelumnya banyak yg bilang wanita haid tdk boleh memegang apa lagi membaca AlQuran. dan larangan itu membuat saya sedih krn walaupun saya bukan muslimah yang baik tapi Alquran membuat saya nyaman :)
    makasih mas Orido…
    maaf ya saya baru bs berkunjung :)

    :: oRiDo™ ::
    alhamdulillah…
    silahkan di pelajari dan di amalkan.. :)

  10. thegands Says:

    makasih atas kunjungannya pak. terimakasi atas responnya
    salam kenal
    -gandamanurung.com-

    :: oRiDo™ ::
    salam kenal juga… :)

  11. D 1 JA Says:

    Alhamdulilliah…makasih mas atas artikelnya…
    kalo gitu..permisi mas ya..mw sebarin ke temen2q yang lagi gontok2an seputar masalah ini…hehehe..

    :: oRiDo™ ::
    semoga gak terusmenerus gontok2an.. apalagi gontok beneran.. :D

  12. nakjaDimande Says:

    Alhamdulillah..
    terimakasih Orido sudah berbagi ilmu :)

    :: oRiDo™ ::
    alhamdulillah…
    semoga berguna.. :)

  13. utaminingtyazzzz Says:

    terima kasih atas sharingnya :)

    :: oRiDo™ ::
    alhamdulillah..
    semoga berguna.. :)

  14. laisya Says:

    Jazakillah informasinya … saya juga izin download programnya ya … :)

    :: oRiDo™ ::
    alhamdulillah…
    silahkan..
    semoga berguna.. :)

  15. [DOA] Adab Dimudahkan MempeROleh Anak « oRiDo™ On wORds Says:

    [...] [HOTD] seputaR haid dan peRmasalahannya [...]

  16. g"ra Says:

    terima kaseh di atas penerangannya tpi apakh bacaan bgi mandi wajib itu?sila terangkn dgn lebih jelas

    :: oRiDo™ ::
    Fardlu Mandi Wajib
    1. Niat: pada saat memulai membasuh tubuh. Lafazh niat mandi wajib: “nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari janabati fardlal lillaahi ta’aalaa” (artinya: aku berniat mandi wajib untuk menghilangkan hadats besar dan najis fardlu karena Allah).
    2. Membasuh seluruh badan dengan air, yakni meratakan air ke semua rambut dan kulit.
    3. Keramas,lalu membasuhnya sebanyak 7 kali
    4. Lalu berwudhu, namun membasuh semua setiap bagiannya dengan penuh.berbeda dengan berwudhu biasa.
    5. Terakhir menyiram seluruh anggota tubuh sebanyak 3 kali,dimulai dari kanan lalu di lanjutkan yang kiri.
    6. setelah selesai mengucapkan “Alhammdulillah”.

    semoga bermanfaat.. :)

  17. g"ra Says:

    smoga mereka yg mbaca nya mdpt hidayah

    :: oRiDo™ ::
    amin.. :)

  18. About haidh « My short life journey Says:

    [...] dua, tiga Like this:LikeBe the first to like this [...]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 432 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: