[HOTD] lalaikah kita dalam shalat?

bismillahhiRRahmaniRRahim

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
[QS. Al A’raaf (7) ayat 205]

Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang lupa salat, maka hendaklah melakukannya ketika ia ingat. Tidak ada kifarat baginya kecuali hanya segera melaksanakannya

Links:

[ketiduRan tidak shalat isya’ menggantinya gimana?]
http://genenetto.blogspot.com/2008/07/ketiduran-tidak-shalat-isya.html

  • Kalau sudah masuk waktu shubuh, uRutannya haRus shalat Isya’ dulu baRu shalat shubuh. Kecuali bila waktu shubuh pun sudah hampiR lewat, maka segeRa lakukan dulu shalat shubuh baRu shalat isya’, biaR tidak lewat dua-duanya.
  • Bagaimana kalau sudah lewat dua-duanya (isya+Shubuh)? PeRtama, bangun dulu, kedua wudhu’, ketiga shalat Isya, teRus shalat shubuh. Lalu tObat, minta ampun dan janji tidak mengulangi lagi. ORang yang malas shalat sampai lewat, wah balasannya seRem. Akan dijeblOskan di neRaka SaqaR (QS. Al-MuddatstsiR: 42-43).
  • LOgikanya, daRi pada absen itu kOsOng, mendingan teRisi walau teRlambat. Tetap saja ada beda besaR sekali antaRa sama sekali tidak mengeRjakan shalat dengan mengeRjakan shalat tapi teRlambat.

[beRbaRing sejenak setelah shalat sunnah fajaR]
http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/item/66/Berbaring_Sejenak_Setelah_Shalat_Sunnah_Fajar

  • BeRbaRing sejenak setelah shalat sunnah fajaR adalah salah satu kebiasaan yang seRing dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah melaksanakan shalat sunnah fajaR, dimana beliau tidak langsung beRangkat ke masjid, melainkan beRbaRing sejenak di atas bahu kanan. Namun demikian, hal ini tidak lepas daRi aktivitas beliau pada malam haRinya yang sebagiannya dihabiskan untuk beRmunajat kepada Rabb-nya dengan penuh kekhusyu’an. Ini daRi sisi kemanusiaan seORang Nabi yang juga bisa capai dan letih, sehingga bisa saja beliau melakukan hal ini sekadaR untuk melemaskan OtOt-OtOtnya. Di sisi lain, beRbaRing sejenak selepas shalat sunnah fajaR adalah untuk memisahkan antaRa shalat sunnah dan shalat wajib.
  • Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan, bahwa teRdapat banyak sekali peRbedaan pendapat di antaRa paRa ulama dalam menyikapi kebiasaan Nabi ini. Itulah makanya, kita peRlu menceRmati bebeRapa hal beRikut:
    PeRtama; Nabi melakukan hal ini di Rumah, tidak teRdapat hadits yang menceRitakan bahwa beliau melakukannya di masjid.
    Kedua; SekiRanya setiap ORang melakukannya, niscaya masjid akan sepi jamaah pada saat-saat awal masuk waktu subuh, kaRena masing-masing menyempatkan diRi beRbaRing teRlebih dahulu di Rumah. Imam Ahmad bin Hambal ditanya tentang beRbaRing sejenak setelah shalat sunnah fajaR, beliau beRkata, “Aku tidak melakukannya. Tetapi jika seseORang melakukannya, itu adalah baik.”
    Ketiga; Waktu subuh adalah saat-saat Rawan datangnya kantuk kaRena sebagian ORang baRu saja bangun tiduR di waktu ini. Sehingga dikhawatiRkan jika seseORang, manakala dia beRbaRing sejenak setelah shalat sunnah dua Rakaat fajaR, dia akan dikalahkan Oleh Rasa kantuk dan teRlelap dalam tiduR. KaRena memang pada saat-saat inilah, pasukan setan sedang gencaR-gencaRnya melancaRkan seRangan teRhadap hamba-hamba Allah.
    Keempat; Rumah istRi-istRi Nabi beRada di dekat masjid. Sehingga Nabi tidak memeRlukan banyak waktu untuk melangkah menuju masjid.
    Kelima; Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke masjid, paRa sahabat telah menunggu kehadiRan beliau untuk melaksanakan shalat subuh beRjamaah beRsama beliau. ARtinya, paRa sahabat Radhiyallahu ‘Anhum menunaikan shalat sunnah fajaRnya di masjid dan tidak beRbaRing sejenak sebagaimana yang dilakukan Oleh Nabi. Dan, Nabi tidak peRnah meneguR ataupun menyalahkan meReka.
    Keenam; Nabi melakukan ini sekadaR untuk melemaskan OtOt-OtOtnya dikaRenakan letih setelah semalaman shalat tahajjud. Dan ini manusiawi. Sedangkan yang tidak shalat di malam haRinya, tentu saja dia tidak letih sepeRti yang shalat malam. Meski bukan beRaRti dia tidak peRlu meniRu Nabi dalam hal ini. KaRena bagaimanapun juga, apa yang dilakukan beliau adalah sunnah.
  • Kesimpulan daRi apa yang kami uRaikan, bahwa beRbaRing sejenak di atas bahu kanan setelah shalat sunnah dua Rakaat fajaR adalah sunnah. Akan tetapi, sekiRanya seseORang melakukan shalat fajaR di masjid, dia tidak bOleh melakukannya. KaRena akan teRjadi pemandangan yang tidak sedap di mata jika ORang-ORang yang beRada di masjid, semuanya tiduR-tiduRan setelah shalat sunnah fajaR. Kemudian, bagi yang Rumahnya jauh daRi masjid dan dikhawatiRkan akan teRlambat jika beRbaRing teRlebih dahulu, sebaiknya dia segeRa ke masjid daRipada teRlambat shalat beRjamaah. Sebab, beRsegeRa ke masjid lebih utama daRipada beRbaRing sejenak setelah shalat sunnah fajaR.
  • Bagi yang khawatiR akan teRtiduR beneRan jika ia tiduR-tiduRan, sebaiknya tidak usah melakukannya. Namun demikian, alangkah idealnya apabila seseORang dapat menyiasati hal ini dengan baik. Dimana dia dapat melakukan semua sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tanpa ada yang lewat, jika memungkinkan. Maksud kami, sekiRanya seseORang begitu selesai adzan subuh dia segeRa shalat sunnah fajaR dua Rakaat dengan Ringan di Rumah, lalu dia menyempatkan diRi beRbaRing sejenak menghadap ke kanan, kemudian tanpa beRlama-lama dia beRgegas beRangkat ke masjid, dan dia sampai di masjid sebelum iqamat.

[mending jamaah tapi telat atau sendiRi tapi tepat waktu?]
http://www.kafemuslimah.com/article_detail.php?id=284

  • Jawabannya sebenaRnya adalah, shalat beRjamaah dan tepat waktu. KaRena shalat beRjamaah itu pahalanya adalah 27 deRajat lebih banyak daRipada shalat sendiRi dan shalat yang tepat waktu (di awal waktu shalat) adalah sebuah peRbuatan yang paling dicintai Oleh Allah.
    BukhaRi dalam Fathul BaaRi-nya, menjelaskan bahwa peRbedaan angka (25 dan 27) itu, adalah meRujuk kepada pengkhususan. Ada yang mengatakan bahwa angka 27 itu ditujukan khusus untuk shalat fajaR (shubuh) sedangkan 25 deRajat khusus utnuk shalat isya. Ada juga yang mengatakan bahwa 27 deRajat khusus untuk shalat subuh dan ashaR dan 25 deRajat bagi shalat-shalat lainnya. Disamping itu ada juga yang mengatakan bahwa 27 deRajat itu khusus untuk shalat-shalat jahRiyah (yakni shalat yagn dikeRaskan bacaannya) sedangkan 25 khusus untuk shalat-shalat siRRiyah (yakni shalat yang tidak dikeRaskan bacaannya). Meski demikian, sesungguhnya hikmah penyebutan angka teRsebut secaRa khusus tidak dapat diketahui maksudnya.
  • Dengan kata lain, saya lebih menyaRankan untuk memilih shalat beRjamaah meski sedikit lebih telat daRi waktunya (telat-telat dikit atau tidak teRlalu telat yang disebabkan Oleh kesengajaan). Sambil menunggu paRa jamaah lain siap, bisa juga dilakukan bebeRapa hal yang bisa menambah pahala ibadah sepeRti melaksanakan shalat sunnah Rawatib, atau membaca Al QuRan atau membeRsihkan tempat yang akan dipakai untuk shalat, dll.

[keutamaan shOlat shubuh]
http://dinda-anggiana.blog.friendster.com/2008/11/keutamaan-sholat-shubuh/

  • Keajaiban shOlat Subuh antaRa lain :
    1. ShOlat Subuh adalah faktOR dilapangkannya Rezeki
    2. ShOlat Subuh menjaga diRi seORang muslim
    3. ShOlat Subuh sama dengan shOlat malam semalam suntuk
    4. ShOlat Subuh adalah tOlOk ukuR keimanan
    5. ShOlat Subuh adalah penyelamat daRi neRaka
    6. ShOlat Subuh adalah salah satu penyebab seseORang masuk suRga
    7. ShOlat Subuh akan mendatangkan nikmat beRupa bisa melihat wajah Allah yang mulia
    8. ShOlat Subuh adalah suatu syahadah (kesaksian, bukti), khususnya bagi yang kOnsisten memelihaRanya
    9. ShOlat Subuh adalah kunci kemenangan
    10. ShOlat Subuh lebih baik daRipada dunia dan seisinya
  • Qabliyah Shubuh yaitu shalat sunnah dua Raka’at yang dilakukan sebelum shalat Shubuh. Ia meRupakan amalan yang paling dicintai Oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana disebutkan di dalam sabdanya, aRtinya, “Dua Raka’at FajaR(sebelum Shubuh) lebih baik daRipada dunia seisinya.” Dan dalam Riwayat Muslim disebutkan, “Sungguh dua Raka’at itu (sebelum Shubuh) lebih aku cintai daRipada seluRuh dunia. ”
  • Keutamaan Shalat Shubuh Sebagai Sebab Masuk SuRga dan Selamat daRi NeRaka Disebutkan di dalam sebuab hadits bahwa siapa saja yang menjaga shalat Shubuh dan AshaR maka akan dimasukkan ke dalam SuRga dan dijauhkan daRi api neRaka.
  • Shalat Shubuh, disebut QuR’anul FajR kaRena bacaan al-QuR’an pada shalat ini lebih panjang daRipada shalat-shalat yang lain, dan shalat Shubuh ini disaksikan Oleh paRa malaikat.
  • Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan dalam sebuah haditsnya, “Malaikat saling beRgantian dalam mengawasi kalian semua pada waktu malam, dan juga malaikat pengawas di waktu siang, meReka beRkumpul pada waktu shalat Shubuh dan shalat AshaR. Kemudian malaikat yang beRjaga malam haRi naik, lalu Allah beRtanya kepada meReka tentang hamba-hamba-Nya sedangkan Allah lebih tahu keadaan meReka, “Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku ketika kalian tinggalkan? Maka paRa malaikat menjawab, “Kami tinggalkan meReka dalam keadaan shalat, dan ketika kami datang meReka pun juga sedang dalam keadaan shalat.
  • CiRi khas daRi shalat Shubuh ini adalah bahwasanya dia dapat menyegaRkan dan mempeRbahaRui keimanan, menghidupkan hati, melapangkan dada, membuat jiwa penuh dengan kebahagiaan seRta menjadikan beRat timbangan amal kebaikan.
  • SaudaRaku, apakah engkau meRasa aman ketika menuju pembaRinganmu, padahal bOleh jadi ia adalah tiduR teRakhiRmu di dunia. Engkau tidak bangun lagi setelahnya dan ketika bangun tahu-tahu engkau telah beRada di alam kubuR. Maka selayaknya kita beRsiap-siap selagi kita masih beRada di dunia ini. Siapkanlah jawaban untuk di kubuR, jawaban yang benaR dan luRus tentunya. Jangan lupa kita selalu memOhOn kepada Allah subhanahu wata’ala agaR menjadikan kita semua ORang-ORang yang mau mendengaRkan ucapan dan mau mengikuti mana yang baik di antaRa ucapan itu, menjadikan akhiR kehidupan kita dengan akhiR kehidupan yang baik dan bahagia, dan mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala menOlOng kita untuk selalu beRdzikiR mengingat-Nya, beRsyukuR kepada-Nya dan mempeRbaiki ibadah hanya kepada-Nya.
  • Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘anhu memvOnis ORang yang tidak shalat Shubuh dan AshaR dengan beRjama’ah sebagai munafiq ma’lumun nifaq (yang nyata nifaqnya) maka bagaimana dengan ORang yang sama sekali tidak mengeRjakan shalat, beRjama’ah maupun tidak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah beRsabda, aRtinya, “Tidak ada shalat yang lebih beRat bagi ORang-ORang munafiq daRipada shalat Subuh dan Isya’. Seandainya meReka mengetahui besaRnya pahala kedua shalat teRsebut, niscaya akan mendatanginya meskipun dengan meRangkak.” (HR al-BukhaRi)
  • Janganlah engkau meninggalkan shalat dengan sengaja, kaRena sesungguhnya siapa saja yang meninggalkan shalat dengan sengaja maka tanggungan Allah dan Rasul-Nya telah teRelepas daRinya.” (HR Ahmad dalam al-Musnad).
  • sOlusi yang insya Allah dapat membantu kita menjadi ORang-ORang yang dapat menjaga shalat adalah sebagai beRikut:
    1. Hendaknya mempOsisikan shalat sesuai dengan kedudukannya dalam kehidupan kita, sehingga dalam seluRuh aktivitas kehidupan kita senantiasa menekankan masalah shalat ini, bukan sebaliknya menyepelekannya.
    2. MempeRgunakan jam(bel/wekeR) untuk membangunkan kita agaR tidak teRlambat dalam menjalankan shalat Shubuh.
    3. TiduR lebih awal, agaR dapat bangun lebih awal pula, dan usahakan melakukan pekeRjaan atau aktivitas setelah selesai shalat Shubuh. KaRena Allah subhanahu wata’ala membagi Rizki-Nya pada waktu setelah Shubuh ini.
    4. Membiasakan untuk membaca dzikiR dan dO’a sebelum tiduR, dan memOhOn kepada Allah subhanahu wata’ala agaR menOlOng kita untuk selalu mengeRjakan shalat.
    5. MeRasa sangat beRsalah dan beRdOsa ketika kita ketinggalan shalat dan beRusaha sekuat tenaga untuk tidak mengulangi kesalahan itu.

[diRikanlah shalat (1): muqaddimah]
http://muslimah.or.id/fiqh-muslimah/dirikanlah-shalat-1-muqaddimah.html

  • TeRdapat peRbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum ORang yang meninggalkan shalat, namun dia tetap meyakini bahwa shalat itu wajib dikeRjakan. PeRbedaan pendapat teRsebut disebabkan Oleh hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa ORang yang meninggalkan shalat adalah kafiR, tanpa ada pembedaan yang tegas antaRa ORang yang benaR-benaR mengingkaRi kewajiban shalat (al-jaahid) dengan ORang yang sekedaR meRemehkan kewajiban shalat (al-mutahaawin). Adapun pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah bahwa ORang yang meninggalkan pelaksanaan shalat (meskipun dia yakin bahwa sebenaRnya shalat itu wajib dikeRjakan) maka dia telah kafiR.
  • Shalat wajib dikeRjakan Oleh setiap muslim dan muslimat yang telah baligh dan beRakal. Untuk membiasakan anak melaksanakan shalat, maka wajib bagi ORang tua untuk memeRintahkan anaknya yang masih kecil untuk shalat meskipun anak kecil tidak wajib melaksanakan shalat.
  • SeORang muslim wajib mengeRjakan shalat sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hak teRsebut dilaksanakan semaksimal kemampuan yang dimiliki. Oleh kaRena itu, tidak ada alasan bagi seORang muslim untuk tidak melakukan shalat ketika tidak ada udzuR syaR’i (misalnya: wanita yang sedang haid atau nifas). Jika seseORang mampu shalat beRdiRi, maka dia melakukannya sambil beRdiRi dengan menyempuRnakan syaRat sah dan Rukunnya. Jika dia sakit, maka dia mengeRjakannya sambil duduk. Jika tidak bisa sambil duduk, maka dilakukan sambil beRbaRing.

[diRikanlah shalat (2): waktu-waktu shalat]
http://muslimah.or.id/fiqh-muslimah/dirikanlah-shalat-2-waktu-waktu-shalat.html

  • Allah memeRintahkan Nabi-Nya -dan peRintah kepadanya meRupakan peRintah kepada umatnya- agaR mendiRikan shalat sesudah matahaRi teRgelinciR yaitu ketika peRtengahan haRi (ZhuhuR dan AshaR) hingga saat malam sudah gelap (MaghRib dan Isya’). Kemudian Allah menjelaskan pula untuk mengeRjakan shalat Shubuh.
  • Waktu shalat:
    1. Waktu shalat ZhuhuR mulai teRgelinciRnya matahaRi -yaitu matahaRi yang telah melintasi peRtengahan langit- hingga tatkala bayangan segala sesuatu itu menjadi sama panjang dengannya, diawali daRi bayangan ketika teRgelinciRnya matahaRi.
    2. Waktu shalat AshaR dimulai ketika keadaan bayangan sesuatu sama panjang dengannnya, sampai saat matahaRi menguning atau memeRah. Waktu ini bisa memanjang sampai teRbenam matahaRi kaRena dhaRuRi (daRuRat).
    3. Waktu shalat MaghRib mulai daRi teRbenamnya matahaRi hingga hilangnya awan meRah.
    4. Waktu shalat Isya’ mulai daRi hilangnya awan meRah di langit hingga tengah malam, dan waktunya tidak bisa dipeRpanjang sampai teRbit fajaR kaRena hal itu menyelisihi zhahiR nash (dalil) al-QuRan dan hadits.
    5. Waktu shalat Shubuh mulai daRi teRbitnya fajaR shadiq -yaitu bayangan putih yang membentang di ufuk timuR, setelahnya tidak ada lagi kegelapan hingga teRbitnya matahaRi.
  • SeORang muslim tidak bOleh mengawalkan shalat seluRuhnya atau sebagiannya sebelum masuk waktunya kaRena hal itu melanggaR ketentuan Allah dan mempeRmainkan ayat-ayat-Nya. Apabila ia melakukannya kaRena udzuR (sepeRti: jahil, lupa, atau lalai) maka ia tidak beRdOsa dan tetap mendapat pahala. Dia tetap wajib menunaikan shalat apabila waktunya telah masuk.
  • SeORang muslim tidak bOleh pula mengakhiRkan shalat daRi waktunya. Apabila ia melakukannya tanpa alasan syaR`i maka ia beRdOsa, shalatnya tidak diteRima, dan wajib atasnya beRtaubat dan mempeRbaiki amalannya di masa yang akan datang. Akan tetapi apabila ia mengakhiRkan shalat kaRena udzuR yang syaR`i (sepeRti teRtiduR, lupa, dan lain-lain), hendaklah ia shalat pada saat udzuRnya telah hilang.
  • Apabila shalat yang teRtinggal kaRena udzuR itu banyak, maka dikeRjakan secaRa beRuRutan ketika udzuRnya telah hilang dan tidak ditunda hingga esOk haRi. BeRdasaRkan hadits JabiR bin Abdullah Radhiyallu `anhu bahwasanya Nabi shallallahu `alaihi wa sallam saat peRang Khandaq beliau beRwudhu setelah matahaRi teRbenam, kemudian beliau shalat AshaR dan diikuti dengan shalat MaghRib. (Muttafaq `alaih).
  • Sebagian ahli ilmu mengatakan, apabila seseORang mempunyai shalat yang teRtinggal dan ia baRu ingat ketika waktu shalat yang ada saat itu sudah hampiR habis, maka hendaklah ia shalat yang ada pada waktu itu kemudian baRu mengeRjakan shalat yang teRtinggal, agaR ia tidak teRtinggal shalat yang ada hingga nantinya menjadi dua shalat yang teRinggal.
  • Yang sunnah (mustahab) adalah mengeRjakan shalat pada awal waktunya kecuali dua shalat:
    1. Shalat ZhuhuR, ketika siang sangat panas maka diakhiRkan hingga agak mendingin dan bayangan memanjang.
    2. Shalat Isya’, diakhirkan hingga sepeRtiga malam kecuali dikhawatiRkan akan membeRatkan. Maka haRus dipeRhatikan keadaan makmum, apabila meReka telah beRkumpul hendaklah shalat disegeRakan apabila makmum datang teRlambat, shalat bOleh diakhiRkan.
  • SeORang dianggap mendapati waktu shalat apabila mendapati satu Rakaat daRi shalat pada waktu itu.
  • ORang yang mendapati satu Rakaat daRi waktu shalat dengan dua sujudnya, maka sungguh ia telah mendapati waktu shalat teRsebut. Begitu juga pemahaman kebalikannya, baRangsiapa yang mendapati kuRang daRi satu Rakaat, dia tidak dianggap mendapati waktu shalat teRsebut. SeORang wanita mendapat haid setelah matahaRi teRbenam kuRang daRi seukuRan satu Rakaat, maka tidak wajib shalat MaghRib atasnya. Tetapi tidak wajib shalat Shubuh bila ia mendapati waktu shalat kuRang daRi seukuRan satu Rakaat.

[adzab ORang yang lalai dalam shalat]
http://muslimah.or.id/nasihat-untuk-muslimah/adzab-orang-yang-lalai-dalam-shalat.html

  • Al-Haafidz Ibnu KatsiR Rahimahullahu ta’ala beRkata, yang dimaksud ORang-ORang yang lalai daRi shalatnya adalah:
    1. ORang teRsebut menunda shalat daRi awal waktunya sehingga ia selalu mengakhiRkan sampai waktu yang teRakhiR.
    2. ORang teRsebut tidak melaksanakan Rukun dan syaRat shalat sebagaimana yang dipeRintahkan Oleh Allah Ta’ala dan dicOntOhkan Oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    3. ORang teRsebut tidak khusyu’ dalam shalat dan tidak meRenungi makna bacaan shalat.
  • Adzab bagi ORang yang lalai dalam shalat:
    DiRiwayatkan dalam Shahih Al-BukhaRi daRi sahabat SamuRah bin Junab Radhiyallahu ‘anhu sebagaimana disebutkan dalam hadits yang panjang tentang sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam kisah tentang mimpi beliau):
    “Kami mendatangi seORang laki-laki yang teRbaRing dan ada juga yang lain yang beRdiRi sambil membawa batu besaR, tiba-tiba ORang teRsebut menjatuhkan batu besaR tadi ke kepala laki-laki yang sedang beRbaRing dan memecahkan kepalanya sehingga beRhambuRanlah pecahan batu itu di sana sini, kemudian ia mengambil batu itu dan melakukannya lagi. Dan tidaklah ia kembali mengulangi lagi hal teRsebut sampai kepalanya utuh kembali sepeRti semula dan ia teRus-meneRus mengulanginya sepeRti semula dan ia teRus-meneRus mengulanginya sepeRti peRtama kali.”
    Disebutkan dalam penjelasan hadits ini “Sesungguhnya laki-laki teRsebut adalah ORang yang mengambil Al-QuR’an dan ia menOlaknya, dan ORang yang tiduR untuk meninggalkan shalat wajib.”
  • Sesungguhnya ORang yang meninggalkan shalat secaRa keseluRuhan hukumnya kafiR keluaR daRi Islam, beRdasaRkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “PeRbedaan antaRa kita dengan meReka (ORang-ORang kafiR) adalah shalat. BaRangsiapa yang meninggalkan shalat maka ia telah kafiR.” (HR. At-TiRmidzi -Shahih).

[hukum menjama` shalat di kantOR dan ketiduRan]
http://www.ustsarwat.com/search.php?id=1135636457

  • Menjama’ shalat itu pada hakikatnya meninggalkan shalat atau tidak mengeRjakan shalat pada waktunya. Padahal shalat itu wajib dilkeRjakan pada waktunya. Kalau sampai seseORang mengubah waktu shalat, haRus ada dalil yang sangat kuat yang membOlehkan hal itu.
  • Hal-hal yang membOlehkan jama:
    1. SafaR (peRjalanan) yang Panjang dan Memenuhi JaRak Minimal yaitu 4 buRd (88, 656 km ).
    2. Sakit
    3. Haji; PaRa jamaah haji disyaRiatkan untuk menjama` dan mengqashaR shalat zhuhuR dan AshaR ketika beRada di ARafah dan di Muzdalifah
    4. Hujan
    5. KepeRluan DaRuRat yang Mendesak; Bila seseORang teRjebak dengan kOndisi di mana dia tidak punya alteRnatif lain selain menjama`, maka sebagian ulama membOlehkannya. Namun hal itu tidak bOleh dilakukan sebagai kebiasaan atau Rutinitas.
  • Apabila ketiduRan dan tidak sempat shalat, haRus langsung dikeRjakan begitu teRbangun. Namun istilah yang digunakan bukan menjama’ shalat. Sebab yang namanya menjama’ shalat itu teRbatas pada shalat ZhuhuR dengan AshaR dan shalat MaghRib dengan ‘Isya saja. Tidak ada istilah jama’ dalam shalat Shubuh. Yang ada hanyalah segeRa mengeRjakan begitu teRbangun.
  • DaRi Anas bin Malik Ra. bahwa Rasulullah SAW beRsabda, “BaRang siapa yang ketiduRan (sampai tidak menunaikan shOlat) atau lupa melaksanakannya, maka ia hendaklah menunaikannya pada saat ia menyadaRinya.” (HR Muttafaq alaihi)

[apa yang haRus saya lakukan ketika lupa tidak shOlat isya’?]
http://www.ustsarwat.com/search.php?id=1213228124

  • Shalat 5 waktu adalah faRdhu ain yang wajib dikeRjakan Oleh setiap muslim. Dalam kejadian apa pun, sehaRusnya ibadah yang satu ini tidak bOleh luput daRi agenda kegiatan kita. Salah satu neRaka beRnama SaqaR, diciptakan Allah SWT khusus untuk ORang yang tidak melakukan shalat (QS. Al-MuddatstsiR: 42-43).
  • Dalam pandangan syaRiah, yang namanya ‘lupa’ punya hukum teRsendiRi. ORang yang lupa tidak bisa disamakan dengan ORang yang tidak lupa. PaRa ulama fiqih kemudian menjawab bahwa ORang yang lupa shalat dan meninggalkannya, maka dia wajib untuk menggantinya. Istilah yang seRing digunakan adalah meng-qadha’ shalat.
  • Apabila salah seORang kalian lupa shalat atau teRtiduR, maka shalatlah ketika ingat. (HR Muslim)
  • JumhuR ulama beRpendapat bahwa shalat yang teRlewat itu haRus langsung diganti, kaRena meReka beRhujjah dengan hadits yang langsung menyebutkan shalat secaRa langsung. Tetapi intinya, shalat yang tidak dikeRjakan kaRena teRlupa tetap haRus diganti. KaRena Rasulullah SAW peRnah mengalaminya langsung dan begitu juga paRa shahabat beliau Ridhwanullahi ”alaihim.

[salat subuh jam 10 pagi kaRena hObi nOntOn bOla]
http://www.ustsarwat.com/search.php?id=1192873439

  • Kalau anda mau begadang di tengah malam, ada teknik yang baik dan memang dicOntOhkan langsung Oleh Rasulullah SAW. CaRanya adalah sebelum begadang, anda membuat peRsiapan teRlebih dahulu. PeRsiapannya bukan kOpi dan kacang Rebus, tetapi peRsiapan pisik. PeRsiapan pisik inilah yang dahulu diajaRkan Oleh Beliau SAW dan dijamin tidak akan bangun shubuh kesiangan. Bagaimana bentuknya? TiduR sejak selesai shalat Isya’. Kalau waktu ‘Isya jam 19.00, maka begitu selesai shalat ”Isya, langsung segeRa masuk tempat tiduR. Beliau SAW tidak suka tiduR sebelum shalat ‘Isya’, namun beliau juga tidak suka ngObROl selepas shalat ”Isya”. Maka kesimpulannya, beliau tiduR sejak awal malam, lalu di tengah malam atau di sepeRtiga akhiR malam, beliau bangun dan begadang hingga shubuh.
  • Maka kalau mau tetap bisa nOntOn bOla, bisa tahajjud, bisa shalat shubuh tidak kesiangan, atuRlah jadwal tiduR anda. Itu jauh lebih mudah daRi pada nanti di neRaka anda haRus digebukin malaikat gaRa-gaRa shubuh kesiangan. Kalau kesiangan sesekali tidak sengaja, mungkin masih bisa diampuni. Tapi kalau kesiangannya setiap haRi, tidak ada ampun lagi. Malaikat pasti geRegetan mau nyiksa ORang yang shubuhnya kesiangan.

[haRuskah mengganti shOlat yang kita tinggalkan?]
http://www.ustsarwat.com/search.php?id=1188896817

  • PaRa ulama beRpendapat bahwa apabila seORang wanita telah sempat memasuki waktu shalat dalam keadaan suci daRi haidh, maka wanita itu diwajibkan untuk melakukan shalat. Seandainya shalat belum sempat dilaksanakan, lalu tiba-tiba diRinya mendapat haidh sehingga menjadi tidak bOleh shalat, maka shalat yang belum sempat yang dilaksanakan itu wajib diganti dengan caRa mengqadha’.
  • Hal sama beRlaku juga dengan seORang wanita yang beRhenti daRi haidhnya bebeRapa saat menjelang beRakhiRnya waktu shalat. Misalnya waktu shalat maghRib jam 18.00, lima menit sebelum masuk waktu maghRib, seORang wanita mengalami beRhenti daRi haidh, maka dia wajib mandi dan melaksanakan shalat ”ashaR. Kalau teRnyata waktunya tidak mencukupi untuk shalat ashaR, paRa ulama mengatakan bahwa wanita itu tetap haRus mengqadha’ shalatnya.

[hukum ORang yang meninggalkan shalat, kafiR?]
http://www.ustsarwat.com/search.php?id=1183604097

  • PaRa ulama sepakat bahwa seORang muslim yang sudah akil baligh bila meninggalkan shalat dengan mengingkaRi kewajibannya adalah kafiR dan muRtad (keluaR) daRi agama Islam, sehingga halal daRahnya. Pihak pemeRintah Islam melalui mahkamah syaR`iyah beRhak memvOnis mati ORang yang muRtad kaRena mengingkaRi kewajiban shalat. Namun bila seseORang tidak shalat kaRena malas atau lalai, sementaRa dalam keyakinannya masih ada pendiRian bahwa shalat itu adalah ibadah yang wajib dilakukan, maka dia adalah fasik dan pelaku maksiat.
  • JumhuR ulama sepakat bahwa muslim yang tidak mengeRjakan shalat bukan kaRena jahd (sengaja tidak mengakui kewajiban shalat), tidak dianggap ORang kafiR.
  • Pendapat yang Rajih (lebih kuat) dalam masalah ini adalah pendapat jumhuR ulama yang mengatakan bahwa bila seORang tidak shalat hanya kaRena alasan malas, lalai atau baRu masuk Islam, maka tidak dianggap kafiR. BaRulah dikatakan kafiR kalau dia secaRa tegas menOlak/ tidak meneRima adanya kewajiban shalat dalam Islam.

[bagaimana caRa mengganti shOlat yang teRtinggal?]
http://www.ustsarwat.com/search.php?id=1141620665

  • SehaRusnya kesiangan bangun atau peRjalanan tidak bOleh dijadikan alasan untuk meninggalkan shalat. Shalat itu tidak bOleh sengaja ditinggalkan dengan niat akan diganti/ diqadha’ di lain waktu, apalagi hanya kaRena sibuk atau peRjalanan.
  • Ketika seseORang bangun tiduR kesiangan dan telah habis waktu untuk shalat shubuh, kewajibannya adalah mengqadha’ shalat shubuh itu begitu dia bangun daRi tiduRnya. Waktunya tidak bOleh ditunda-tunda sampai besOk. Saat itu juga begitu bangun daRi tiduR, segeRa keRjakan shalat. Tentu saja haRus wudhu” teRlebih dahulu. Sebab shalat itu tidah sah sebelum suci daRi hadats kecil maupun besaR. Janganlah kesiangan bangun tiduR dijadikan alasan untuk tidak shalat shubuh. Lalu enak-enakan tidak shalat dengan dalih suatu ketika akan diganti atau diqadha’.
  • SyaRiat Islam membeRi keRinganan buat ORang yang sedang dalam peRjalanan untuk menggabung dua shalat dalam satu waktu. Diistilahkan dengan sebutan shalat jama’. Ketentuannya adalah shalat DhuhuR dilakukan beRsamaan waktunya dengan shalat AshaR, bOleh dikeRjakan di waktu DhuhuR atau pun di waktu AshaR. Dan shalat MaghRib bOleh dikeRjakan beRsamaan waktunya dengan shalat Isya’, bOleh dikeRjakan di waktu MaghRib atau pun di waktu Isya’. Bahkan shalat yang empat Rakaat itu bOleh dikuRangi menjadi dua Rakaat saja. Istilah adalah mengqashaR shalat.
  • Adapun sengaja meninggalkan kewajiban shalat kaRena alasan dalam peRjalanan, teRmasuk daRi melalaikan shalat, atau meninggalkan shalat. Sebab ibadah shalat itu meRupakan Ritual yang waktunya telah ditetapkan. Tidak bOleh dilakukan seenak waktunya sendiRi, semua haRus ikut ketentuan Resmi daRi utusan Allah SWT, yaitu syaRiat Nabi Muhammad SAW.
  • PaRa ulama banyak mengatakan bahwa bila seseORang kaRena satu dan lain hal telah meninggalkan kewajiban shalat, baik kaRena tidak tahu atau kaRena kelalaiannya, dia wajib untuk mengganti shalatnya yang luput itu. DR. Yunus Muhyiddin Al-Asthal menuliskan bahwa dalam kasus sepeRti itu, qadha` shalat bisa dilakukan setiap haRi setelah shalat wajib yang lima waktu dikeRjakan. Dan silahkan dihitung-hitung sendiRi jumlah shalat yang haRus digantinya.

[shalat di awal waktu di kendaRaan atau diakhiR waktu di Rumah, mana yang lebih utama?]
http://www.ustsarwat.com/search.php?id=1146120323

  • Yang lebih utama adalah shalat di akhiR waktu tapi dilakukan dengan sempuRna. Yaitu dengan menghadap kiblat dengan benaR. Juga beRdiRi dengan sempuRna, Rukuk, sujud dan lainnya dikeRjakan dengan sebenaRnya. Adapun shalat yang agak teRtunda kaRena macet misalnya, tidak mengapa dilakukan. Asalkan masih dalam batas waktu nya shalat.
  • Yang diutamakan adalah shalat dengan geRakan yang sempuRna, meski di akhiR waktu. DaRi pada shalat tidak benaR, tidak beRdiRi, tidak Rukuk dan tidak sujud sambil mengejaR keutamaan awal waktu. Padahal beRdiRi, Ruku’ dan sujud adalah Rukun shalat, yang bila ditinggalkan, shalat itu tidak sah. Sebaliknya, shalat di awal waktu bukan bagian daRi Rukun shalat. Shalat tetap sah dilakukan meski di akhiR waktu. Bahkan meski baRu satu Rakaat sudah habis waktunya.
  • Kalau dalam peRhitungan manusiawi kita, sudah pasti tidak akan teRkejaR untuk shalat MaghRib di Rumah, pilihan beRikutnya adalah tuRun daRi bus untuk shalat. Tidak haRus di masjid atau mushOlla. BOleh saja di sembaRang tempat asalkan tidak ada najis yang secaRa jelas nampak.
    Kalau semua hal di atas tidak memungkinkan juga, baRulah sebagai upaya teRakhiR, kita shalat di atas kendaRaan, tanpa menghadap kiblat, tanpa beRdiRi, tanpa Rukuk, tanpa sujud yang benaR. Dalilnya memang ada, meski masih menjadi titik peRbedaan pendapat di kalangan ulama.

[jama’ taqdim dan ta’khiR, kapan dilakukan dan apa syaRatnya?]
http://www.ustsarwat.com/search.php?id=1148050752

  • Hal-hal yang MembOlehkan Jama‘:
    1. Dalam keadaan safaR yang panjang sejauh ORang beRjalan kaki atau naik kuda selama dua haRi. PaRa ulama kemudian mengkOnveRsikan jaRak ini menjadi 89 km atau tepatnya 88,704 km.
    2. Hujan yang tuRun membOlehkan dijama”nya MahgRib dan Isya” di waktu Isya, namun tidak untuk jama” antaRa ZhuhuR dan AshaR.
    3. Keadaan sakit menuRut Imam Ahmad bisa membOlehkan seseORang menjama’ shalat.
  • SyaRat Jama’ Taqdim:
    1. Niat Sejak Shalat yang PeRtama; Bila selesai salam kita baRu beRniat untuk menjama”, jama taqdim tidak bOleh dilakukan. Sehingga shalat AshaR hanya bOleh dilakukan nanti bila waktu AshaR telah tiba.
    2. TeRtib; bila bukan jama’ taqdim, dimungkinkan untuk melakukannnya dengan teRbalik, yaitu shalat Isya’ dulu baRu shalat MaghiRib. Meski pun tetap lebih utama bila dilakukan dengan teRtib uRutan waktunya.
    3. Al-Muwalat; antaRa shalat yang awal dengan shalat kedua tidak bOleh teRpaut waktu yang lama. BOleh diselingi sekadaR lama waktu ORang melakukan shalat dua Rakaat yang Ringan. Juga bOleh diselingi dengan mengambil wudhu”. Tapi tidak bOleh bila diselingi pekeRjaan lain dalam waktu yang teRlalu lama. Disunnahkan di antaRa jeda waktu itu untuk mengulangi azan dan iqamah.
    4. Masih BeRlangsungnya SafaR Hingga TakbiRatul IhRam Shalat yang Kedua.
  • SyaRat Jama’ Ta’khiR:
    1. BeRniat untuk Menjama’ Ta’khiR Sebelum Habisnya Waktu Shalat yang PeRtama.
    2. SafaR HaRus Masih BeRlangsung Hingga Selesainya Shalat yang Kedua.
  • Bila jama’ taqdim, tidak bOleh mendahulukan shalat Isya’, tapi bOleh bila jama’ ta’khiR. Namun tetap lebih utama bila dilakukan sesuai uRutan shalatnya. Kecuali ada uzduR teRtentu yang tidak memungkinkan mendahulukan shalat MaghRib. Misalnya, di waktu Isya di suatu masjid di mana ORang-ORang sedang shalat Isya’, tidak mungkin paRa musafiR yang singgah mengeRjakan shalat MaghRib dengan beRjamaah.

[kapan kita bOleh melakukan shalat jama’?]
http://www.ustsarwat.com/search.php?id=1178464547

  • paRa ulama menetapkan bahwa sebuah safaR itu minimal haRus menempuh jaRak teRtentu dan ke luaR kOta. Di masa Rasulullah SAW, jaRak itu adalah 2 maRhalah. Satu maRhalah adalah jaRak yang umumnya ditempuh Oleh ORang beRjalan kaki atau naik kuda selama satu haRi. Jadi jaRak 2 maRhalah adalah jaRak yang ditempuh dalam 2 haRi peRjalanan. Di zaman sekaRang ini, ketika jaRak itu dikOnveRsikan, paRa ulama mendapatkan hasil bahwa jaRak 2 maRhalah itu adalah 89 km atau tepatnya 88, 704 km.
  • Bila seseORang teRjebak dengan kOndisi di mana dia tidak punya alteRnatif lain selain menjama`, maka sebagian ulama membOlehkannya. Namun hal itu tidak bOleh dilakukan sebagai kebiasaan atau Rutinitas.
  • Apakah macet “bOleh” dijadikan alasan untuk menjama’ shalat? Bisakah dalil daRuRat dijadikan alasan? Dan sebeRapakah nilai daRuRat sebuah kemacetan itu sehingga bOleh menggeseR waktu shalat? Adakah dalil yang shahih dan shaRih daRi Rasulllah SAW yang membOlehkan jama lantaRan macet? Kalau dikaitkan dengan safat, maka macet yang seRing kita alami tidak memenuhi syaRat, kaRena daRi segi jaRak tidak memenuhi standaR minimal. Kalau dikaitkan dengan kepeRluan mendesak, di sana ada syaRat bahwa hal itu tidak bOleh teRjadi tiap haRi. Dan yang namanya daRuRat itu tidak bOleh teRjadi sepanjang waktu. Bukankah kita masih bisa tuRun daRi bus atau mObil untuk shalat di mana pun? Bukankah shalat itu tidak haRus di dalam sebuah masjid atau mushOlla? Bukankah kalau tidak ada aiR kita masih dipeRbOlehkan beRtayamum? Bukankah aiR teRsedia di mana-mana, bahkan paRa penjual aiR minum kemasan pun beRkeliaRan saat macet?

Untuk mendownload kumpulan file nya, silahkan klik link berikut:

Lalaikah kita dalam shalat??

About these ads

22 Tanggapan to “[HOTD] lalaikah kita dalam shalat?”

  1. Bang Dje Says:

    masya Allah panjang banget artikelnya. lebih baik dibuat berseri Pak.
    ikutan download. jazakumullah

    :: oRiDo™ ::
    heheheh…
    iya..
    nnti deh saya edit lagi biar gak terlalu panjang.. :D

  2. madi Says:

    wahh artikelnya bagus nih.. bisa dijadikan perenungan..

    :: oRiDo™ ::
    semoga berguna.. :)

  3. muhamaze Says:

    postingannya mantabs,
    jadi merenung, seringku melalaikan sholat..

    :: oRiDo™ ::
    alhamdulillah..
    mari kita sama2 memperbaiki amal ibadah kita.. :)

  4. Siti Fatimah Ahmad Says:

    Assalaamu’alaikum

    Terima kasih atas info yang bermanfaat ini. sesuatu yang baik semestinya selalu dikongsikan bersama. semoga allah memudahkan segala urusan saudara dalam membawa kebaikan kepada seluruh manusia. Salam hormat.

    :: oRiDo™ ::
    wa’alaikum salam wr.wb.
    amin..
    jazakallah..

  5. IHSAN Says:

    terima kasih sekali

    info macam gini yang jarang kita dapatkan

    keep posting ya?

    :: oRiDo™ ::
    alhamdulillah..
    insyaAllah..
    bantu doa yah. :)

  6. Infinite Justice Says:

    panjang banget, akhi…
    tapi sangat informatif, dan sudah menjawab perbedaan antara saya dan teman-teman saya mengenai sholat…

    hatur nuhun…

    :: oRiDo™ ::
    heheheh…
    semoga berguna…

    sawangsul na.. :)

  7. Nisa Says:

    *merenung mode on*

    :: oRiDo™ ::
    semoga perenungannya dapat membawa pada peningkatan iman islam.. :)

  8. Rossa Says:

    oh my god..
    saya masih sering males shalat. :(

    :: oRiDo™ ::
    yuks kita sama2 perbaiki amal ibadah kita semua..
    umur rahasia Allah swt..
    semoga kita meninggal dalam husnul khatimah..

  9. humaini Says:

    salam kenal…

    :: oRiDo™ ::
    salam kenal juga..
    silahkan menikmati hidangan seadanya.. :)

  10. umikartikawati Says:

    ikutan nanya:
    1.kalo lg sholat, trus denger anakku kepleset di kamar mandi, trus langsung kabur ke kamarmandi, takut kenapa2 sm anak, baru sholatnya diulang. boleh ga sih begitu?
    2.dulu wkt anakku msh bayi, jam2 maghrib sering rewel, pdhal wkt maghrib kan pendek, akhirnya aku sholat sambil gendong. boleh ga? (wkt itu suami blm plg kerja, pembantu ga ada, mau nitip ke tetangga pagernya tinggi betul, mau ngetok jg takut)

    makasih….

    :: oRiDo™ ::
    Hal-hal yang membatalkan shalat adalah:
    1. Berbicara ketika sholat
    2. Tertawa
    3. Makan dan minum
    4. Berjalan terlalu banyak tanpa ada keperluan
    5. Tersingkapnya aurat
    6. Memalingkan badan dari kiblat
    7. Menambah rukuk, sujud, berdiri atau duduk secara sengaja
    8. Mendahului imam dengan sengaja
    berdasarkan pada kejadianya, maka bisa jadi telah melakukan *mungkin* poin 1 dan 6..
    berarti HARUS di mulai lagi dari awal.

    dahulu Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam kadang kala mengangkat cucunya, Hasan, Husain, Umamah rodhiallohu anhum ketika sedang sholat, bahkan suatu saat ketika beliau sedang sholat, beliau menggendong cucunya yang bernama Umamah bin Abil ‘Ash, sehingga ketika sedang berdiri, beliau menggendongnya, dan ketika ruku’ dan sujud, beliau menurunkannya, padahal kala itu beliau sholat mengimami para sahabatnya. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhori dan Muslim dan juga lainnya. Oleh karena itu para ulama menegaskan bahwa boleh bagi orang yang sedang sholat untuk mengangkat, atau menggendong anak kecil.
    Akan tetapi ada satu hal yang perlu diingat, yaitu ketika kita hendak menggendong anak kecil dalam sholat, maka anak tersebut harus dalam keadaan suci, tidak sedang ngompol, atau bajunya dalam keadaan najis, atau mengenakan popok yang tentunya berisikan najis. Sebab orang yang sedang sholat diperintahkan untuk meninggalkan atau melepaskan setiap yang najis dari pakaian, atau sandal atau kaus kaki atau tempat ia sholat.

    semoga berguna.. :)

  11. ridu Says:

    subhanallah.. terima kasih atas berbagi informasi yang sangat esensial bagi seluruh kaum muslim, yaitu ttg sholat, syukron mas

    :: oRiDo™ ::
    alhamdulillah…
    semoga berguna.. :)

  12. indra kh Says:

    Alhamdulillah. Hatur nuhun kang, panjang2 oge teu bosen macana.

    :: oRiDo™ ::
    :D
    sawangsulna kang indra.. :)

  13. 12051t4 Says:

    assalamualaikum warahmatullah….
    akhi,aQ mw minta toLong nih,akhi tau g riwayatnya Syeh Siti Jenar?itu Lho yang hidup masanya walisanga?kalau tau,sy minta dijelasin,yah( kalau akhi mau…..)
    soale ada salah 1 temanku yg mungkin agak beda dr temen2 sy laen.dy itu ngeFans sm Syeh Siti Jenar.Ya sy heran ajah,soale yg sy tau syeh siti jenar itu bukane di hukum krn nyeleweng?

    :: oRiDo™ ::
    wa’alaikum salam wr.wb.
    afwan baru balas sekarang..
    saya tidak tahu mengenai sejarah nya syekh siti jenar..
    mungkin bisa di lihat di wikipedia atau disini atau disini atau disini

    semoga berguna.. :)

  14. wanti annurria Says:

    sangat puanjang pak artikelnya,, jadi tak fokuskan kebeberapa bagian yang masih sering jadi pertanyaan buat saya :)
    Alhamdulillah terjawab..
    tapi ada satu hal,, yang masih bikin saya rancu..
    sholat fajar = sholat sunah qabliyah sebelum subuh kan pak?
    jazakallah atas artikelnya.. :)

    :: oRiDo™ ::
    shalat fajar adalah sama dengan shalat sunah qabliyah subuh
    untuk lebih jelasnya, bisa dilihat di artikel ini

    semoga berguna..

  15. Andioka Says:

    Mas, punten minta ijin , mau copy to print. oleh oleh buat kawan kawan.

    :: oRiDo™ ::
    silahkan…
    semoga berguna. :)

  16. Jafar Soddik Says:

    Kumpulan tanya-jawab tentang shalat yang panjang tapi cukup informatif. Mudah-mudahan berguna bagi kita semua dan bisa diamalkan :).

    :: oRiDo™ ::
    amin..
    semoga berguna.. :)

  17. BaNi MusTajaB Says:

    Info menarik. Semoga bermanfaat untuk kita semua. amin

    :: oRiDo™ ::
    amin…

  18. emfajar Says:

    subhanallah.. walaupun panjang namun sangat informatif, memberikan manfaat bagi kita semua,, terima kasih udah berbagi mas..

    :: oRiDo™ ::
    alhamdulillah.. :)

  19. KangBoed Says:

    Dan yang utamaaaaa.. temukanlah Jiwa shallat..
    Salam Sayang :mrgreen:

    :: oRiDo™ ::
    memahami dan menghayati shalat…
    kitu nyak kangBoed? :)

  20. 1kepinghati Says:

    Assalaamu’alaikum,

    ………………Wallaahu a’lam……………

    Salam Ukhuwah,

    :: oRiDo™ ::
    wa’alaikum salam wr.wb.
    salam ukhuwah juga.. :)

  21. ganjar prihartanto Says:

    subhanallah… tangan – tangan ALLAH langsung bekerja menempar nurani & bathin saya yg selalu lalai dalam mengerjakan sholat fardhu.. artikel2 diatas betul2 menerangi isi kepala saya yg sangat sempit & gelap ini..semoga anda selalu dlm curahan rahmah dari ALLLAH SWT karena ilmu yg sangat bermanfaat yang telah anda posting ini.. sekali lagi, terimakasih banyak atas segalanya… wassalam

    :: oRiDo™ ::
    wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh..
    amin…
    terimakasih banyak untuk doa nya Pak….
    semoga kita semua dapat menjaga diri dari kesalahan di hadapan Allah Ta’ala..
    mari kita sama2 memperbaiki iman dan amal kita.. :)

  22. AZWAR ANAS Says:

    ASSALAMUALAIKUM
    SAYA MAU TANYA, APABILA SAYA BEPERGIAN NAIK KENDARAAN UMUM DIMALAM HARI SETELAH WAKTU ISYA DAN KENDARAAN ITU TIDAK BERHENTI SAMPAI TUJUAN, KEMUDIAN WAKTU SAMPAI TUJUAN ADALAH SUDAH SIANG , MAKA SAYA HARUS MELAKUKAN SHOLAT SUBUH DIMANA?

    oRiD™ bilang:
    wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh..
    dalam kondisi apapun, kita di wajib kan utk shalat.
    dengan kondisi seperti itu, maka bisa melakukan halat dengan sambil duduk.
    untuk wudhu, jika tidak memungkin kan utk ambil air wudhu, maka dapat melakukan tayamum.

    semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita semua utk dapat meningkatkan iman dan islam kita..
    amin..


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 449 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: