[DOA] bacaan dan Rukun khatib jumat

Tata cara pelaksanaan shalat Jum’at, yaitu :
1. Khatib naik ke atas mimbar setelah tergelincirnya matahari (waktu dzuhur), kemudian memberi salam dan duduk.
2. Muadzin mengumandangkan adzan sebagaimana halnya adzan dzuhur.
3. Khutbah pertama: Khatib berdiri untuk melaksanakan khutbah yang dimulai dengan hamdalah dan pujian kepada Allah SWT serta membaca shalawat kepada Rasulullah SAW. Kemudian memberikan nasehat kepada para jama’ah, mengingatkan mereka dengan suara yang lantang, menyampaikan perintah dan larangan Allah SWT dan RasulNya, mendorong mereka untuk berbuat kebajikan serta menakut-nakuti mereka dari berbuat keburukan, dan mengingatkan mereka dengan janji-janji kebaikan serta ancaman-ancaman Allah Subhannahu wa Ta’ala. Kemudian duduk sebentar
4. Khutbah kedua: Khatib memulai khutbahnya yang kedua dengan hamdalah dan pujian kepadaNya. Kemudian melanjutkan khutbahnya dengan pelaksanaan yang sama dengan khutbah pertama sampai selesai
5. Khatib kemudian turun dari mimbar. Selanjutnya muadzin melaksanakan iqamat untuk melaksanakan shalat. Kemudian memimpin shalat berjama’ah dua rakaat dengan mengeraskan bacaan.

Adapun rukun khutbah Jumat paling tidak ada lima perkara.
1. Rukun Pertama: Hamdalah

Khutbah jumat itu wajib dimulai dengan hamdalah. Yaitu lafaz yang memuji Allah SWT. Misalnya lafaz alhamdulillah, atau innalhamda lillah, atau ahmadullah. Pendeknya, minimal ada kata alhamd dan lafaz Allah, baik di khutbah pertama atau khutbah kedua.

Contoh bacaan:


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

Innal hamdalillahi nahmaduhu wa nasta’iinuhu wa nastaghfiruhu wa na’uudzubillaahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyiaati a’maalinaa mayyahdihillaahu falaa mudhillalahu wa mayyudhlilfalaa haadiyalahu

2. Rukun Kedua: Shalawat kepada Nabi SAW
Shalawat kepada nabi Muhammad SAW harus dilafadzkan dengan jelas, paling tidak ada kata shalawat. Misalnya ushalli ‘ala Muhammad, atau as-shalatu ‘ala Muhammad, atau ana mushallai ala Muhammad.

Contoh bacaan:


اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

Allahumma sholli wa sallam ‘alaa muhammadin wa ‘alaa alihii wa ash haabihi wa man tabi’ahum bi ihsaani ilaa yaumiddiin.

3. Rukun Ketiga: Washiyat untuk Taqwa
Yang dimaksud dengan washiyat ini adalah perintah atau ajakan atau anjuran untuk bertakwa atau takut kepada Allah SWT. Dan menurut Az-Zayadi, washiyat ini adalah perintah untuk mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sedangkan menurut Ibnu Hajar, cukup dengan ajakan untuk mengerjakan perintah Allah. Sedangkan menurut Ar-Ramli, washiyat itu harus berbentuk seruan kepada ketaatan kepada Allah.
Lafadznya sendiri bisa lebih bebas. Misalnya dalam bentuk kalimat: “takutlah kalian kepada Allah”. Atau kalimat: “marilah kita bertaqwa dan menjadi hamba yang taat”.

Contoh bacaan:


يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

yaa ayyuhalladziina aamanuu ittaqullaaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna ilaa wa antum muslimuun

Ketiga rukun di atas harus terdapat dalam kedua khutbah Jumat itu.
4. Rukun Keempat: Membaca ayat Al-Quran pada salah satunya
Minimal satu kalimat dari ayat Al-Quran yang mengandung makna lengkap. Bukan sekedar potongan yang belum lengkap pengertiannya. Maka tidak dikatakan sebagai pembacaan Al-Quran bila sekedar mengucapkan lafadz: “tsumma nazhar”.
Tentang tema ayatnya bebas saja, tidak ada ketentuan harus ayat tentang perintah atau larangan atau hukum. Boleh juga ayat Quran tentang kisah umat terdahulu dan lainnya.

Contoh bacaan:


فَاسْتبَقُِوا اْلخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونوُا يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَمِيعًا إِنَّ اللهَ عَلىَ كُلِّ شَئٍ قَدِيرٌ

Fastabiqul khairooti ayna maa takuunuu ya’ tinikumullahu jamii’an innallaaha ‘alaa kulli syaiin qodiiru (QS. Al-Baqarah, 2 : 148)


أَمّا بَعْدُ

ammaa ba’du..

Selanjutnya berwasiat untuk diri sendiri dan jamaah agar selalu dan meningkatkan taqwa kepada Allah SWT, lalu mulai berkhutbah sesuai topiknya.
Memanggil jamaah bisa dengan panggilan ayyuhal muslimun, atau ma’asyiral muslimin rahimakumullah, atau “sidang jum’at yang dirahmati Allah”.

……. isi khutbah pertama ………

Setelah di itu menutup khutbah pertama dengan do’a untuk seluruh kaum muslimin dan muslimat.

Contoh bacaan:


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

barakallahu lii wa lakum fill qur’aanil azhiim wa nafa’nii wa iyyaakum bima fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim. Aquulu qowlii hadzaa wa astaghfirullaaha lii wa lakum wa lisaa iril muslimiina min kulli danbin fastaghfiruuhu innahu huwal ghafuurur rahiimu.

Lalu duduk sebentar untuk memberi kesempatan jamaah jum’at untuk beristighfar dan membaca shalawat secara perlahan.
Setelah itu, khatib kembali naik mimbar untuk memulai khutbah kedua. Dilakukan dengan diawali dengan bacaaan hamdallah dan diikuti dengan shalawat.

Contoh bacaan:


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَلِيُّ الصَّالِحِينَ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا خَاتَمُ الأَنْْْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ., أَمَّابعد,

Innal hamdalillahi robbal’aalamiin wa asyhadu an laa ilaaha illahllaahu wa liyyash shalihiina wa asyhadu anna muhammadan khaatamul anbiyaai wal mursaliina allahumma shalli ‘alaa muhammadan wa ‘alaa aali muhammadin kamaa shollayta ‘alaa ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim, innaka hamiidum majiid.Wa barok ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa baarokta ‘alaa ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim, innaka hamiidum majiid.
Ammaa ba’ad..

Selanjutnya di isi dengan khutbah baik berupa ringkasan, maupun hal-hal terkait dengan tema/isi khutbah pada khutbah pertama yang berupa washiyat taqwa.

……. isi khutbah kedua ………

5. Rukun Kelima: Doa untuk umat Islam di khutbah kedua
Pada bagian akhir, khatib harus mengucapkan lafaz yang doa yang intinya meminta kepada Allah kebaikan untuk umat Islam. Misalnya kalimat: Allahummaghfir lil muslimin wal muslimat . Atau kalimat Allahumma ajirna minannar .

Contoh bacaan do’a penutup:


اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين.

Allahummagh fir lilmuslimiina wal muslimaati, wal mu’miniina wal mu’minaatil ahyaa’I minhum wal amwaati, innaka samii’un qoriibun muhiibud da’waati.
Robbanaa laa tuaakhidznaa in nasiinaa aw akhtho’naa. Robbanaa walaa tahmil ‘alaynaa ishron kamaa halamtahuu ‘alalladziina min qoblinaa.Robbana walaa tuhammilnaa maa laa thooqotalanaa bihi, wa’fua ‘annaa wagh fir lanaa war hamnaa anta maw laanaa fanshurnaa ‘alal qowmil kaafiriina.
Robbana ‘aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qinaa ‘adzaabannaar. Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.

Selanjutnya khatib turun dari mimbar yang langsung diikuti dengan iqamat untuk memulai shalat jum’at. Shalat jum’at dapat dilakukan dengan membaca surat al a’laa dan al ghasyiyyah, atau surat bisa juga surat al jum’ah, al kahfi atau yang lainnya.

Demikian bacaan khutbah semoga bermanfaat bagi kita semua.

Links:

  • [HOTD] haRi jumat
  • [HOTD] teRlambat shalat
  • [HOTD] shalat di masjid
  • Links:


    [khutbah jumat haRus bahasa aRab?]
    http://walausetitik.blogspot.com/2006/12/khutbah-jumat-harus-bahasa-arab.html

    • Sudah ada ketentuan bahwa saat khatib sedang berkhutbah, maka tidak boleh ada orang yang berbicara, menyela, berkomentar atau apapun pembicaraan lainnya. Meksipun tujuannya untuk menterjemahkan isi khutbah kepada orang yang tidak mengerti isinya.
    • Memang ada sedikit polemik di masa lalu tentang keharusan berkhutbah Jumat dengan menggunakan bahasa Arab. Sebagian kalangan bersikeras bahwa khutbah Jumat itu harus dilakukan dalam bahasa Arab. Namun sebagian lagi menolaknya.
    • Dapat pula di ambil jalan tengah yaitu mereka yang mewajibkan bahasa Arab dalam khutbah, sesungguhnya hanya mewajibkannya pada rukun khutbah saja. Tidak pada semua bagian khutbah. Di luar kelima rukun itu, boleh saja seorang khatib berbicara dalam bahasa yang dipahami oleh kaumnya. Bahkan kelima rukun tadi boleh diterjemahkan juga ke dalam bahasa mereka, asalkan bahasa Arabnya tetap dibaca.
    • Seorang khatib boleh menambahi khutbahnya dengan bahasa lainnya, asalkan pada kelima rukun itu dia menggunakan bahasa Arab, walau hanya sepotong saja.

    [ingin bisa khutbah dan ceRamah]
    http://www.dakwatuna.com/2008/ingin-bisa-khutbah-dan-ceramah/

    • Kemampuan, potensi, dukungan dan jerih payah apa saja yang dimiliki oleh umat Islam ini, bisa dan harus disumbangkan untuk dakwah, sesuai dengan daya dukung masing-masing.
    • Seorang dai, secara kauni seperti umumnya manusia lainnya, ia akan terus belajar dan berlatih. Dan secara syar’i, ia memang diwajibkan (bahkan dalam bahasa hadits: di-fardhu-kan) untuk menuntut ilmu, ilmu syar’i, ilmu kaun (alam), ilmu madani-hadhari (kemajuan-peradaban) dan pengembangan potensi.
    • Kalau selama ini Anda berkeinginan untuk bisa berceramah secara massal, berkhuthbah dan semacamnya, keinginan seperti ini adalah wajar dan bahkan Anda diperintahkan untuk mempelajarinya. Dan jika Anda telah mempelajarinya, berusaha secara maksimal, dan sampai wafat Antum tetap belum menguasainya, maka tanggung jawab Anda untuk belajar hal ini sudah terpenuhi, insya Allah dan insya Allah, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan meminta pertanggungjawaban dari Anda.
    • Belajarlah mulai dari yang kecil dan sederhana. Misalnya, menyampaikan taushiyah (pesan) atau mau’izhah di hadapan teman-teman Anda, bisa 2 orang, 3 orang atau 5 orang dalam tempo 2-3 menit. Lalu, secara gradual, periodik dan terus menerus Anda melakukan peningkatan. Baik dari sisi tempo waktu yang Anda sampaikan, maupun dari sisi jumlah pendengar yang mengikuti taushiyah atau mau’izhah Anda itu.
    • Jaga kebersihan hati (tazkiyatun-nafs), khususnya yang terkait dengan ikhlash dan shidiq: Sebab, apa yang keluar dari hati yang ikhlash dan shidiq akan masuk dan diterima oleh hati para pendengarnya dan akan memberikan pengaruhnya di sana.

    [menyusun khutbah jum'at]
    http://istiqomahkapu.multiply.com/journal/item/5

    • Khutbah jum’at memiliki kedudukan penting dalam islam. Bagaimana tidak,karena ia merupakan penopang utama dalam penyebaran dak’wah islam di seluruh dunia. ia juga merupakan salah satu sarana penting guna menyampaikan pesan dan nasehat kepada orang lain atau suatu kaum. Hal ini sebagaimana kaidah yang ada dalam islam : “menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran”.
    • Khutbah jumat dilakukan sebelum salat jum’at. Maka diantara syarat sahnya salat jum’at adalah khutbah, yang dilakukan saat waktu dzuhur. Dengan maksud tujuan pembelajaran dan pemberi peringatan atas segala ni’mat Allah swt. Semua ini adalah keutamaan islam yang slalu menjunjung tinggi peranan ilmu dan para ulama. Karena dengan ilmu kita mengetahui agama serta mengetahui hukum-hukumnya. Sehingga tidaklah seorang muslim melakukan sesuatu kecuali atas dasar ilmu.
    • Sesungguhnya tujuan utama dari khutbah juma’at adalah saling menasehati dalam kebaikan dan memberi peringatan, selain memberi peringatan juga memberi solusi atas problematika yang ada di tengah masyarakat. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat terdahulu. Mereka berkhutbah di depan kaumnya. Menyeru mereka untuk senantiasa mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
    • Ada 4 fese penyusunan khutbah: [1]. fase pemilihan judul. [2]. fase penyusunan kerangka pembicaraan. [3]. fase pemilihan dalil yang tepat sesuai dengan judul dan jalannya pembicaraan. [4]. fase untuk mulai berlatih atau mengaplikasikan apa yang telah di susun.
    • Aspek yang menjadi pertimbangan sebelum menentukan judul: [1]. Hendaknya seorang khatib melihat standar akal pikiran masyarkat setempat. [2]. Hendaknya seorang khatib memperhatikan psikologi para pendengar.
    • Kerangka pembicaraan dilakukan agar pembahasan khutbah lebih terfokus dan tidak terlalu melebar. Sehingga pembicaraan tidak keluar dari judul yang telah ditentukan. Dan semua unsur-unsur yang ada dalam kerangka pembicaraan berhubungan satu sama yang lainnya tidak terpisah.

    [pengeRtian shalat jum'at, hukum, syaRat, ketentuan, hikmah dan sunah sOlat jumat]
    http://organisasi.org/pengertian-shalat-jumat-hukum-syarat-ketentuan-hikmah-dan-sunah-solat-jumat

    • Shalah Jum’at memiliki hukum wajib ‘ain bagi laki-laki / pria dewasa beragama islam, merdeka dan menetap di dalam negeri atau tempat tertentu. Jadi bagi para wanita / perempuan, anak-anak, orang sakit dan budak, solat jumat tidaklah wajib hukumnya.
    • Syarat Sah Melaksanakan Solat Jumat: [1]. Shalat jumat diadakan di tempat yang memang diperuntukkan untuk sholat jumat. [2]. Minimal jumlah jamaah peserta salat jum’at adalah 40 orang. [3]. Shalat Jum’at dilaksanakan pada waktu shalat dhuhur / zuhur dan setelah dua khutbah dari khatib.
    • Shalat jumat memiliki isi kegiatan sebagai berikut : [1]. Mengucapkan hamdalah. [2]. Mengucapkan shalawat Rasulullah SAW. [3]. Mengucapkan dua kalimat syahadat. [4]. Memberikan nasihat kepada para jamaah. [5]. Membaca ayat-ayat suci Al-quran. [6]. Membaca doa.
    • Sunat-Sunat Shalat Jumat: [1]. Mandi sebelum datang ke tempat pelaksanaan sholat jum at. [2]. Memakai pakaian yang baik (diutamakan putih) dan berhias dengan rapi seperti bersisir, mencukur kumis dan memotong kuku. [3]. Memakai pengaharum / pewangi (non alkohol). [4]. Menyegerakan datang ke tempat salat jumat. [5]. Memperbanyak doa dan salawat nabi. [6]. Membaca Alquran dan zikir sebelum khutbah jumat dimulai.

    [khatib jumat banyak salahnya]
    http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/19/news_id/3272

    • Imam yang memimpin shalat haruslah bacaan ayat-ayatnya baik dan benar. Jika bacaannya keliru khususnya Alfatihah maka shalat yang dipimpinnya menjadi tidak sah. Dalam hal ini, makmun harus mengulangi shalat Jumatnya – atau melakukan shalat dzuhur sebagai pengganti shalat Jumat yang tidak sah itu.

    [bab shalat jum'at]
    http://alislamu.com/index.php?option=com_content&task=view&id=200&Itemid=6

    • Menghadiri Shalat Jum’at adalah fardhu ‘ain atas setiap muslim, kecuali lima orang: budak, perempuan, anak kecil, orang sakit, dan musafir.
    • Khutbah Jum’at, hukumnya wajib, karena Rasulullah selalu mengerjakannya dan tidak pernah meninggalkannya.
    • Dari Jabir bin Abdullah r.a., ia berkata, “Adalah Rasulullah saw. apabila berkhutbah, merah kedua matanya, meninggi suaranya, dan memuncak marahnya, lalu beliau menyampaikan peringatan kepada pasukan, yaitu beliau berkata “Awas musuh akan menyerang kalian pada waktu pagi, dan awas musuh akan menyerbu kalian diwaktu sore!” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir 4711, irwa-ul Ghalil no: 611, Muslim II: 591 no: 866, dan Tirmidzi II: 9 no: 505).
    • Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zaadul Ma’ad I: 116, menulis, “Barang siapa memperhatikan semua khutbah Nabi saw. dan khutbah para sahabatnya, niscaya ia mendapatkan materi khutbah meliputi penjelasan perihal hidayah, tauhid, sifat-sifat Rabb Jalla Jalaluh prinsip-prinsip pokok keimanan, dakwah (seruan) kepada Allah, dan penyebutan tentang aneka ragam nikmat Allah Ta’ala yang menjadikan dia cinta kepada makhluk-Nya dan hari-hari yang membuat mereka takut kepada adzab-Nya, menyuruh jama’ah agar senantiasa mengingat-Nya dan mensyukuri nikmat-Nya yang menyebabkan mereka cinta dengan tulus kepada-Nya. Kemudian para sahabat menjelaskan tentang keagungan Allah, sifat dan nama-Nya yang menyebabkan dia cinta kepada akhluk-Nya, dan menyuruh jama’ah agar ta’at kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya dan mengingat-Nya yang membuat mereka dicintai oleh-Nya sehingga seluruh jama’ah ketika meninggalkan masjid mereka telah berada dalam keadaaan cinta kepada Allah dan Allah pun cinta kepada mereka. Dan adalah Rasulullah senantiasa berkhutbah dengan menyebut banyak ayat Qur’an, terutama surah Qaaf.”
    • Shalat jum’at adalah dua raka’at secara berjama’ah. Karenanya, siapa saja yang tidak mengerjakan shalat jama’ah jum’ah dari kalangan orang-orang yang tidak wajib shalat Jum’ah, atau berasal dari kalangan orang-orang yang berudzur, maka hendaklah mereka shalat dzuhur empat raka’at. Dan barang siapa yang mendapatkan satu raka’at dengan (bersama) Imam berarti ia mendapat shalat jama’ah jum’at.
    • Barangsiapa datang ke masjid sebelum khatib berkhutbah, hendaklah ia shalat sunnah (intidzar) semampunya, tanpa ada batasnya sampai khatib hendak naik mimbar. Adapun shalat sunnah yang dewasa ini dikenal dengan sebutan shalat sunnah qabliyah jum’at, maka termasuk amalan yang sama sekali tidak mendasar yang kuat. Adapun sesudahnya, maka kalau mau shalatlah empat raka’at atau dua raka’at.
    • Yang Dianjurkan Dibaca Pada Hari Jum’at: [1]. Memperbanyak shalawat dan salam kepada Nabi saw. [2]. Membaca Surat al-Kahfi. [3]. Memperbanyak Do’a Demi Mendambakan Ketepatannya Dengan Waktu Istijabah (terkabul).
    • Apabila hari raya jatuh pada hari Jum’at, maka gugur kewajiban shalat jama’ah Jum’at dan orang-orang yang sudah mengerjakan shalat jama’ah.'”(Fiqhus Sunnah I : 267)
    • Dari Abul Ja’d adh-Dhamri r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan shalat jum’at tiga kali karena mengabaikannya, niscaya Allah menutup hatinya.” (Hasan Shahih: Shahih Abu Daud no: 923, Abu Daud III: 377 no: 1039, Tirmidzi II: 5 no: 498, Nasa’i III: 88 dan Ibnu Majah I:357no: 1125).

    [gROgi, jamaah tertawa]
    http://trimudilah.wordpress.com/2007/03/12/khatib-jumat/

    • Para ulama semua mazhab sepakat bahwa paling tidak untuk sebuah khutbah jumat itu harus terpenuhi 5 rukun. Dan kelima rukun tersebut harus diucapkan dalam bahasa arab. Selebihnya, boleh digunakan bahasa yang sesuai dengan bahasa hadirin yang ikut dalam khutbah tersebut. Seandainya salah satu dari kellima hal itu tidak terpenuhi, maka khutbah itu tidak sah. Maka jamaah diwajibkan untuk melakukan shalat Dzhuhur dengan 4 rakaat, atau harus ada seseorang yang menyelematkan khutbah itu dengan memenuhi kelima rukunnya.
    • Khusus rukun yang keempat dan kelima, ada perlakuan khusus. Untuk khutbah yang pertama, rukunnya adalah nomor 1, 2, 3 dan 4. Untuk khutbah kedua, rukunnya adalah nomor 1, 2, 3 dan 5. Berarti pada khutbah pertama, tidak perlu mengucapkan doa. Sedangkan pada khutbah kedua tidak perlu membaca lafadz ayat Al-Quran.
    • Takmir masjid harus tanggap dalam mengantisipasi keadaan. Seandainya terjadi kasus di mana khatib tidak mampu menyemprnakan rukunnya, entah karena tidak tahu atau karena tidak mampu mengucapkan dalam bahasa arab yang benar, maka harus ada seorang dari takmir yang ‘menyelamatkan’. Sesudahnya khatib turun mimbar, dia harus naik mimbar dan berkhutbah dua kali, cukup rukunnya saja dan bisa dilakukan dalam satu helaan nafas.

    [adzan jumat dua kali]
    http://gp-ansor.org/?p=4645

    • Adzan shalat pertama kali disyari’atkan oleh Islam adalah pada tahun pertama Hijriyah. Di zaman Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar bin Khathab mengumandangkan adzan untuk shalat Jum’at hanya dilakukan sekali saja. Tetapi di zaman Khalifah Utsman bin Affan RA menambah adzan satu kali lagi sebelum khatib naik ke atas mimbar, sehingga adzan Jum’at menjadi dua kali. Ijtihad ini beliau lakukan karena melihat manusia sudah mulai banyak dan tempat tinggalnya berjauhan. Sehingga dibutuhkan satu adzan lagi untuk memberi tahu bahwa shalat Jumat hendak dilaksanakan.
    • Apalagi adzan kedua yang dilakukan sejak zaman Utsman bin Affan RA itu, sama sekali tidak ditentang oleh sahabat atau sebagian dari para sahabat di kala itu. Jadi menurut istilah ushul fiqh, adzan Jum’at dua kali sudah menjadi “ijma’ sukuti”. Sehingga perbuatan itu memiliki landasan yang kuat dari salah satu sumber hukum Islam, yakni ijma’ para sahabat.
    • Terdapat perbedaan dalam masalah furu’iyyah yang mungkin akan terus menjadi perbedaan hukum di kalangan umat, tetapi yang terpenting bahwa adzan Jum’at satu kali atau dua kali demi melaksanakan syari’at Islam untuk mendapat ridla Allah SWT.

    untuk mendOwnlOad aRtikel lengkap [DOA] bacaan dan Rukun khatib jumat ini, silahkan klik di bawah ini:

    Download kumpulan aRtikel
    Share file dapat Dolar

    ps: insyaAllah akan di posting kumpulan kutbah jum’at dalam bentuk e-book (chm) ;-)

    UPDATE:
    [DKMB] e-bOOk kumpulan aRtikel khutbah jum’at lengkap
    silahkan download e-book nya..
    :)

    About these ads

    137 Tanggapan to “[DOA] bacaan dan Rukun khatib jumat”

    1. andyan males2an Says:

      klo seandainya ketinggalan khotbah tu gimana ya?
      ada yg bilang sah solat jumatnya
      ada jg yg bilang g sah
      *sering ketinggalan khotbah*

      :: oRiDo™ ::
      tidak ada ketentuannya bahwa ketinggalan khutbah maka tidak sah sholat jum’at nya..
      yang menentukan sah atau tidak nya shalat jumat adalah keikutsertaan dalam shalat jumat, minimal dapat mengikuti 1 rakaat maka sah shalat jumat nya (setelah ditambah satu rakaat lagi)

      Para ulama telah bersepakat bahwa shalat jumat itu dua rakaat. Mereka juga sepakat bahwa siapa yang ketinggalan shalat jumat, maka harus shalat empat rakaat yaitu shalat zhuhur.
      Sedangkan batas apakah seseorang itu bisa dikatakan masih ikut shalat jumat atau tidak adalah bila minimal masih mendapat satu rakaat bersama imam dalam shalat jumat.
      Misal, pada shalat jumat ada seorang yang terlambat. Lalu dia ikut shalat bersama imam, sedangkan saat itu imam sudah berada pada rakaat kedua tapi belum lagi bangun dari ruku�. Maka bila makmum itu masih sempat ruku� bersama imam, berarti dia telah mendapat satu rakaat bersama imam. Dalam hal ini, dia mendapatkan shalat jumat karena minimal ikut satu rakaat. Jadi bila imam mengucapkan salam, maka dia berdiri lagi untuk menyelesaikan satu rakaat lagi.

      Tapi bila dia tidak sempat bersama imam pada saat ruku� di rakaat kedua, maka dia tidak mendapat minimal satu rakaat bersama imam. Yang harus dilakukannya adalah tetap ikut dalam jamaah itu, tapi berniat untuk shalat zhuhur.
      Misal, dia masuk masjid, tetapi imam sedang sujud rakaat terakhir, maka saat itu dia harus takbiratul ihram dan langsung ikut sujud bersama imam tapi niatnya adalah shalat zhuhur. Bila imam mengucapkan salam, maka dia berdiri lagi untuk shalat zhuhur sebanyak 4 rakaat.
      Ketentuan ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW: Dari Abi Hurairah ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda,“Siapa yang mendapatkan satu rakaat bersama imam, maka dia terhitung (mendapat) shalat itu”. (Hadits Muttafaq Alaihi: Bukhari no. 580, Muslim 607).
      Dari Abdullah bin Umar ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mendapatkan satu rakaat pada shalat jumat atau shalat lainnya, maka dia terhitung (mendapat) shalat itu”. Selain kedua dalil ini adalah beberapa hadits lain yang senada yang diriwayatkan oleh An-Nasai, Ad-Daruquhtuni dan lainnya.

      semoga berguna..

      • bagus Says:

        Assalaamu’alaikum wr wb.
        Mas aku izin diposting doa bacaan dan rukun khatib jumat di blog ku ya.
        semoga menjadi ladang pahala.
        Bagus Asprianto

        oRiD™ bilang:
        wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh..
        silahkan..
        dengan senang hati..
        semoga menjadi ladang amal utk kita semua.. :)

        • Muhammad is Afandi Says:

          MU Tanyak niii Tentang Hukumnya Solat Jumat Yang pada kotbah kedua solawat dan doanya lupa dibaca bagai mana hukum solat jumatnya sah apa tidak….Tolong juga dilengkapi dengan Hadits nya….cz disini terjadi prermasalahan

    2. Anggie Says:

      Ass.. Mau nanya nih…Kalau dulu waktu saya sempat tinggal di Rusia, proses Sholat jum’at disana.. Sholat jum’at dulu, baru khotbah. Itu sah tidak?

      Salam :)

      :: oRiDo™ ::
      wa’alaikum salam wr.wb.
      sejauh yang saya ketahui, khutbah Jumat itu dilakukan sebelum shalat Jumat. Berbeda dengan khutbah Idul fitri atau Idul Adha yang justru dilantunkan setelah selesai shalat Id.

      utk masalah sah atau tidak, saya tidak bisa pastikan..
      nanti klo saya dapatkan dasarnya utk menentukan sah atau tidak, saya konfirm di sini..
      terimakasih utk masukannya :)

    3. Ajaran Says:

      Bid’ah apalagi ini!

      :: oRiDo™ ::
      saya hanya Hamba Allah yang sedang belajar dan beramal..
      hambaNYA yang gak lepas dari dosa dan salah..
      tolong koreksi saya jika salah..
      tetapi dengan dasar2 (Qur’an maupun Hadist) yang jelas..
      insyaAllah saya akan perbaiki selama hal itu berpegang pada Qur’an dan Sunnah..

    4. sulaiman Says:

      Ketika menginjakkan kaki di masjid jiwa raga dalam keadaan bersih dan suci, dan jangan berbicara masalah duniawi. Kalau jadi khotib salah bicara tidak bisa diralat dan tidak bisa diulang khotbahnya.

      :: oRiDo™ ::
      untuk melengkapi rukun khatib jum’at, pihak DKM bisa menambahkan di akhir khutbah.. :)

      • andi Says:

        kata siapa di khutbah jum’at tidak boleh membicarakan dunia ? dimohon untuk tidak mengada-ngada.

        • hendra Says:

          kata Allah swt
          Saya pernah membaca buku agama barangsiapa yang berbicara ketika khotib ber khutbah maka shalatnya sia-sia
          Jgnkan berbicara msalah dunia berbicara msalah agama saja tdk boleh ktika khotib ber khutbah waktu shalat jum’at

          • Hamba Allah Says:

            anda menjawab “kata Allah swt”? kapan Allah berbicara kepada anda? surat apa? ayat berapa?
            jawabannya bukan dalam al-qur’an, tp dalam hadis.
            coba anda simak hadits yang diriwayatkan dari Abu
            Hurairah y, Sesunguhnya Rasulullah a bersabda: “Apabila engkau mengatakan kepada temanmu pada Hari Jum’at,
            ”Diamlah.” Sementara khatib sedang berkhutbah, maka sungguh
            engkau telah berbuat sia-sia.”
            (Muttafaq ’alaih. HR. Bukhari Juz 1 : 892
            dan Muslim Juz 2 : 851)- 31 –
            Dan diriwayatkan pula dari Abu Hurairah y ia berkata,
            Rasulullah a bersabda; Barangsiapa yang menyentuh kerikil, maka sungguh ia telah
            berbuat hal yang sia-sia.”
            (HR. Muslim Juz 2 : 897 dan Tirmidzi Juz 2 : 498)

    5. Masenchipz Says:

      wah… makasih dah ngingetin soal rukun khatib.. tapi gw cuma masih sebagai muadzin… he..he.. makasih ya…

      ===============================================================================
      Blognya dah gw add di blogroll gw dengan nama Orido, silahkan cek di http://masenchipz.com/links

      :: oRiDo™ ::
      alhamdulillah…
      dari muadzin.. lama2 jd khatib deh.. ;-)

      thx udh di add..
      insyaAllah aku nge-add juga.. :D

    6. alex© Says:

      Itu panduan umum yang memang berlaku di banyak tempat ya?

      Di daerah saya masih ada yang mempertanyakan perbedaan di beberapa adab yang ada. Misalnya, masalah khutbah kedua. Ada yang menggunakan bahasa Indonesia (atau bahasa lokal), tapi ada juga yang bersikukuh mesti dalam bahasa Arab. Itu gimana ya benarnya, Mas?

      Terus, masalah meng-amin-kan khatib di penghujung khutbah. Saya sendiri lebih memilih diam, dan tidak menadahkan tangan, meski ada doa seperti “rabbana attina fiddunya hasanah” yang lazim dibaca di penghujung khutbah. Mengaminkan dalam hati saja.

      Yang sering jadi bikin saya miris itu, ada orang2 tua kalo lagi khutbah negor anak2: Jangan ribut! Lagi khutbah gak boleh ngomong! Ibadah jumatnya bisa batal!”

      Lha… itu yang ngomong gimana ya? :mrgreen:

      :: oRiDo™ ::
      yang utama dalam pelaksanaan khutbah jumat ini adalah 5 rukun yang tersebut diatas..
      penggunaan bahasa arab hanya lebih di tekankan pada ke lima rukun tersebut.

      mengenai mengangkat tangan saat doa, ada ulama yang membolehkan dan ada yang melarang, masing2 memiliki dalil yang sama2 kuat.
      Terdapat tiga pendapat yang saling berbeda, karena setidaknya ada tiga dalil yang berbeda.
      1. Pendapat Pertama: Mengangkat Tangan Hukumnya Sunnah
      2. Pendapat Kedua: Mengangkat Tangan Haram kecuali Dalam Shalat Istisqa”
      3. Pendapat Ketiga: Mengangkat Tangan Haram dalam Semua Doa
      sebagai hambaAllah, marilah kita memandang masalah khilaf ini secara elegan dan dewasa serta luas wawasan. Sekarang ini sudah bukan zamannya lagi kita merasa benar sendiri dan mengklaim bahwa kebenaran itu hanya milik saya sendiri atau milik kelompok saya sendiri. Perbedaan adalah berkah, selama kita menilainya dalam sebuah kebersamaan..

      mari sama2 belajar dan beramal..
      mari sama2 memperbaiki diri.. :)

    7. namada Says:

      Subhanallah, komplit sekali..
      bener2 salut deh sama bang Orido, da’wah terus ya bang..
      Allahu akbar :)

      :: oRiDo™ ::
      alhamdulillah..
      insyaAllah.. bantu do’a yah, mudah2an istiqamah..
      Allahu akbar.. :)

    8. siwi Says:

      Kalo waktu dengerin khutbah terus tidur, hukumnya gimana?

      :: oRiDo™ ::
      Memang secara hukum, bila seseorang telah ikut shalat Jumat bersama imam, maka hukum shalat Jumatnya telah sah, bahkan meski dia hanya ikut imam di rakaat terakhir pada saat imam sedang ruku”. Itu adalah batasan akhirnya.
      Jadi kesimpulannya memang seorang yang tidak sempat ikut mendengarkan khutbah jumat, tetap terhitung telah mendapatkan shalat Jumat.
      Hanya saja secara kualitas ibadah, tertidur saat mengengarkan khutbah Jumat patut disesalkan. Karena kesempurnaan ibadah shalat Jumat tentu saja dengan cara ikut dalam khutbah.

    9. Supermance Says:

      Gw pernah solat di daerah bandung, abis jumatan langsung disambung sholat dzuhur …. nah lo

      ga cumen di bandung, di bogor, di garut juga pernah

      malahan yang di Bogor, imam nya pake tongkat gitu, tongkatnya gede, ga tau buat apaan, aneh ~~~

      :: oRiDo™ ::
      shalat jum’at adalah shalat yang dilakukan pada hari jumat, apabila sudah melakukan shalat jum’at (terpenuhi semua rukun nya), maka tidak ada kewajiban utk melaksanakan shalat zhuhur.

      Mengenai memegang tongkat, Memang ada beberapa hadits yang menerangkan bagaiamana dahulu
      Rasulullah SAW berkhutbah, salah satunya dijelaskan bahwa Rasulullah SAW memegang atau bertumpu pada tongkat. Ada juga yang menggambarkan bahwa Rasulullah SAW memegang pedang pada saat khutbah.
      Namun apakah memegang tongkat atau pedang saat khutbah itu selalu dilakukan oleh Rasulullah SAW ? Dan apakah hal itu menjadi rukun khutbah yang bila tidak dilakukan, membuat khutbah itu tidak syah?

      Syarat-syarat khutbah jum`ah:
      1. Khutbahnya dilaksanakan dua kali
      2. Dilaksanakan pada waktu sholat dzuhur
      3. Dilaksanakan sebelum sholat jum`ah
      4. Dua khutbah dilaksanakan secara berurutan
      5. Khotib yang melaksanakannya menutup Aurat.
      6. Khotib yang melaksanakannya suci dari hadas besar maupun kecil
      7. Khotib duduk sebentar diantara dua khutbah
      8. Dihadiri oleh jama`ah sholat jum`ah,

      sunah-sunah khutbah Jum`ah antara lain :
      1. Khutbah dilaksankan di atas minbar
      2. Duduk di atas mimbar sebelum khutbah dimulai
      3. Khotib menghadap ke arah jama`ah
      4. Adzan dihadapan khotib apabila di duduk
      5. Khutbah dengan nada yang tinggi (suara yang keras)
      6. Khutbah tidak terlalu lama dan khutbah kedua harus lebih pendek dari khutbah yang pertama

      Demikianlah syarat, rukun dan sunah-sunah dalam pelaksanaan khutbah jum`ah yang disebutkan oleh para ulama kita. Ternyata tak satu pun yang mewajibkan bahkan menyunnahkan untuk memegang tongkat. Tidak di dalam syarat, tidak di dalam rukun dan tidak juga dalam sunnah khutbah.

      Sehingga kesimpulan para ulama tentang Rasulullah SAW memegang tongkat saat berkhutbah karena kondisi beliau yang di masa tuanya sering membawa atau memegang tongkat. Itu beliau lakukan baik saat khutbah maupun di luar khutbah.

      wallahu’alam bishshowab..

    10. dikma Says:

      syah kah kalau kita datang pada saat kutbah sedang berjalan.
      wassallam

      :: oRiDo™ ::
      syah..
      sudah di bahas pada komentar sebelumnya.. :)

    11. cebong ipiet Says:

      kalo hukum sholat jumat bwt perempuan?

      :: oRiDo™ ::
      Seorang wanita pada dasarnya tidak diwajibkan untuk menghadiri shalat Jumat.Yang wajib bagi mereka untuk dikerjakan adalah shalat Dzhuhur.

      Pernyataan seperti ini langsung disebutkan oleh Rasulullah SAWpada salah satu hadits beliau:
      Dari Thariq bin Syihab ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak diwajibkan) atas 4 orang. [1] Budak, [2] Wanita, [3] Anak kecil dan [4] Orang sakit.” (HR Abu Daud)

      Namun bila seorang wanita ikut shalat Jumat, maka tetap sah dan cukup baginya shalat Jumat itu tanpa perlu lagi melakukan shalat Dzhuhur.

      semoga berguna..

    12. fajar Says:

      Yuk ikutan Lomba Blog, Hadiah total 10jt + handphone+ internet speedy. lihat info di http://www.audiochute.com

    13. agunk agriza Says:

      wah susah juga ya jadi khotib jumat..
      ak kira gmpang,
      tinggal duduk, cerita, trus doa. wkwkkw

      :: oRiDo™ ::
      khan cuma lima tuh rukunnya..
      gak banyak tho.. :D

    14. Mendapat Award IRita Says:

      Ta’anterin langsung, diterima yaaa ;D

      :: oRiDo™ ::
      waduh..
      jd ngerepotin…:D
      makasih yah Bu.. :)

    15. subpokjepang Says:

      wah,
      kalau kutbah dalam bahasa yang tidak dimengerti jamaahnya,
      saya khawatir pesan yang terkandung tidak tersampaikan.

      :: oRiDo™ ::
      isi khutbah bisa disesuaikan dengan bahasa daerah masing2…
      tapi klo rukun yang ada 5 itu, mesti berbahasa Arab..

    16. Didien® Says:

      ilmu yg bermanfaat sekali mas, belajar menjadi khotib ah…biar bisa khotbah insyaAllah amin.. ;)
      Salam hangat, salam kenal, salam silaturrahmi… :smile:

      :: oRiDo™ ::
      alhamdulillah..
      mudah2an bisa menjadi khotib yah.. :)
      salam kenal juga.. ;-)

    17. sarahtidaksendiri Says:

      Assalaamu alaikum
      wiw, super duper lengkp nicgh…bgs untuk adek gw yg cow..
      hehe..
      sukses degh, keep writing y yg kayak gini
      makasih juga udah mampir ke blog saya
      salam kenal
      Wassalam

      :: oRiDo™ ::
      alhamdulillah…
      mudah2an adik nya bisa menjadi khatib yg baek.. :D

      makasih juga udh mampir balik..
      wa’alaikum salam wr.wb.

    18. mang shanny Says:

      Met malem, pa kabar nih hari ini? Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin dan besok kita masih diberi umur panjang untuk dapat terus ngeblog, tetap semangat! O ya, kalo mo promosi blog biar bisa dapat kunjungan lebih banyak lagi, bisa langsung http://shanny.web.id/?p=862 aja, makasih yah, maaf nih mang udah lama ga mampir. Sekalin juga kalo tertarik dengan program bisnis internet, bisa dilihat juga disini http://shannypersonalblog.wordpress.com/2008/11/21/tabanas-program-bisnisku/.

      :: oRiDo™ ::
      oke deh mang..
      insyaAllah mampir.. :)

    19. realylife Says:

      mau minta maaf ni pak, saya dah lama ngga mampir ke sini

      :: oRiDo™ ::
      santey aja..
      yg peting tetep jaga ukhuwah..
      insyaAllah.. ;-)

    20. LieZMaya Says:

      simkuringmah tara jumatan, diajar teh aya dina ujian kapungkur heuheu

      :: oRiDo™ ::
      si Teteh mah emang nteu wajib jumatan atuh..
      kumaha ujian na Teh? :)

    21. nur muhajir Says:

      mau tanya doa muadzin setelah khatib naik mimbar apa yach

      :: oRiDo™ ::
      setelah khatib naik mimbar, biasanya muadzin melakukan Adzan kedua..

    22. Alexhappy Says:

      makasih mas rido atas postingannya :)

      :: oRiDo™ ::
      alhamdulillah…
      makasih udh mampir dan berkomentar.. :)

    23. rocknoida Says:

      kalo ngomong pas solat jumat batal langsung ya kang rido ???

      :: oRiDo™ ::
      bila seseorang telah ikut shalat Jumat bersama imam, maka hukum shalat Jumatnya telah sah, bahkan meski dia hanya ikut imam di rakaat terakhir pada saat imam sedang ruku”. Itu adalah batasan akhirnya. Dan bila ikutnya seorang makmum kepada imam di shalat Jumat itu telah lewat dari ruku”nya imam, maka dia tidak mendapatkan shalat Jumat. Baginya wajib melakukan shalat Dzhuhur sebanyak empat rakaat.
      memang seorang yang tidak mendengarkan khutbah jumat, tetap terhitung telah mendapatkan shalat Jumat. Hanya saja secara kualitas ibadah, tertidur saat mengengarkan khutbah Jumat patut disesalkan. Karena kesempurnaan ibadah shalat Jumat tentu saja dengan cara ikut dalam khutbah.

      Dua orang laki-laki yang berbincang-bincang ketika imam sedang barkhutbah, Keduanyapun terjatuh kedalam yang terdapat dalam hafits Abu Hurairah: “Jika engkau berkata kepada temanmu pada hari jumat: ‘Diamlah,’ ketika imam sedang khutbah, maka engkau telah melakukan prbuatan yang sia-sia.” (Al Hadits)
      Jadi berbicara ketika imam sedang berkhutbah akan membatalkan amalan dan memutuskan pahala.

      Jadi kesimpulannya, selama dapat melaksanakan shalat jumat, maka sah shalat nya, tetapi jika mengobrol bahkan menegur orang pada saat sedang khutbah maka pahala nya akan hilang..

    24. feriadi isander Says:

      wah, wawsan saya tentang islam akan semakin bertambah..
      terimakasih mas,
      nice postingan

      :: oRiDo™ ::
      alhamdulillah..
      semoga berguna…
      mari sama2 belajar dan beramal.. :)

    25. Gelandangan Says:

      terima kasih atas pencerahaannya mas

      :: oRiDo™ ::
      alhamdulillah..
      semoga berguna.. :)

    26. Rindu Says:

      Ya ALLAH jadikan pemilik blog ini manusia pilihanMU yang berkeyakinan bahwa bumiMU yang terhampar luas adalah masjid baginya, kantornya adalah musholahnya, meja kerjanya adalah sajadah,

      Kemudian fungsikan setiap tatapan matanya penuh rahmat dan kasih sayang sebagai refleksi dari penglihatanMU, jadikan pikirannya husnuzhan, tarikan napasnya tasbih, gerak hatinya sebagai doa, bicaranya bernilai dakwah, diamnya full zikir, gerak tangannya berbuat sedekah, langkah kakinya jihad fi sabillillah.

      Selamat hari raya IDUL ADHA …

      RINDU a.k.a ADE

      :: oRiDo™ ::
      amin… amin.. amin..
      makasih banyak utk do’a nya De..
      semoga Ade juga selalu di berkahi Allah swt.
      tetep istiqamah yah De.. ;-)

    27. wi3nd Says:

      [ooT] dolo..
      maaf blm sempet baca panjan9 amaadd hdhehheh..

      besok ajah yaa..mampir bentar
      makasii uda sin99ah diharumhutan yaa..:)

      :: oRiDo™ ::
      makasih juga udh mampir balik…
      sampe ketemu lagi.. :)

    28. wi3nd Says:

      duch daku nda pernah jumatan neeh,9imana dunks?

      :: oRiDo™ ::
      alasannya?

    29. Nin Says:

      Teruslah berbagi Pak…

      :: oRiDo™ ::
      insyaAllah..
      selagi bisa..
      bantu doa yah mudah2an diberikemudahan.. :-)

    30. masndaru Says:

      numpang donlot artikel khutbah jumatnya.

      sukron katsiir.

      salam.

      :: oRiDo™ ::
      silahkan..
      semoga berguna.. :)

    31. yodama Says:

      Terkadang, saat khutbah kedua, ada beberapa khatib yg tdk menyampaikan ringkasan khutbahnya, namun langsung membaca do’a. Itu bgmn pak :?:

      :: oRiDo™ ::
      selama ke lima rukun nya telah dilakukan.. maka tidak masalah.. ;-)

    32. omiyan Says:

      mas boleh request ga…terserang ntar diposting atau email gpp…saya minta doa-doa setelah selesai Shalat ya….istilahnya Panduan Doa Sebelum dan Sesudah Shalat..makasih banyak…semoga Allah senantiasa memberikan kita Hidayah…Amin

      :: oRiDo™ ::
      monggo di liat di posting ini
      [DKMB] ebOOk shalat Nabi ;-)

    33. cantigi™ Says:

      yuu.. ikutan IBSN Blog Award di cantigi.. ^_^

      :: oRiDo™ ::
      makasih utk undangannya.. :)
      nulis ttg apa yah?? :D

    34. Sassie Kirana Says:

      Semoga pemilik blog ini selalu mendapatkan limpahan rahmat dan hidayah dariNYA, diberi kemudahan didalam segala urusan. Amin

      :: oRiDo™ ::
      amin… amin.. amin…
      makasih banyak utk doa nya,.. :)

    35. Didien® Says:

      assalamu’alaikum….

      :: oRiDo™ ::
      wa’alaikum salam wr.wb. :)

    36. heri Says:

      @ saya gak tahu dengan orang ini.. kalo komen kayaknya asal aja… di blog saya juga gitu… padahal kayaknya dia orang berpendidikan :(

      :: oRiDo™ ::
      siapa yah??

    37. yanubest Says:

      Tanya mas ridho, kalo khotbah jum’at pake salam di akhir khotbah syah gak ya? soalnya kmaren ada khotib yang pake salam di akhir khotbah, sedangkan biasanya para khotib kan gak pake salam di akhir khotbah?

      :: oRiDo™ ::
      mmmm…
      memang biasanya seperti itu, tanpa mengucapkan salam, biasanya di akhiri dengan “Aqimis solah..”
      tapi yang jelas, selama rukun khutbahnya terpenuhi, maka insyaAllah sah shalat jum’atnya..
      wallahu’alam bishshawab..

    38. riyanto Says:

      1. bagaimana jika sedang safar, laki2 muslim tidak sholat berjamaah? trus sholatnya sebagai pengganti sholat jumat berapa rekaat?
      2. jika batal sholat, trus berwudhu, tapi setelah kembali ke masjid sholat jumat dah selesai, kita sholat jumat berapa rekaat?
      jazakallah.

      :: oRiDo™ ::
      jika sedang safar, dan tidak terkejar shalat jum’atnya, maka dilakukan shalat zhuhur saja.. 4rakaat.

    39. ajib Says:

      terimakasih ya…, wah itu sngat membantu pak…..

    40. zahra Says:

      mas, numpang download tentang khutbahnya ya ..
      ada tugas agama suruh khutbah 5 menit .
      aku kan cewek, ga tau soal khutbah sholat jumat .
      taunya ceramah aja .
      hehehe .
      thanks …

      :: oRiDo™ ::
      oke..
      semoga berguna.. :)

    41. vanessa Says:

      holla

      thanks a lot ya bwt yg ng-bwt nie blog!!!!!!!

      pr w bwt ng-buat ceramah sholat jum’at jd beressssssssssss !!!

      :: oRiDo™ ::
      alhamdulillah..
      semoga gak cuma sebatas pe-er..
      insyaAllah di amalkan dan berguna utk banyak orang.. ;-)

    42. somantri Says:

      Mas, kalo bisa huruf arabnya diganti, jadi susah baca huruf arabnya.
      Over all, Good.
      Aslm.

      :: oRiDo™ ::
      makasih utk masukannya.. :)

    43. Ridwan Says:

      ass sy mau tanya? kalau saya seorang penjaga warnet dihari jumat saya bagian pagi mau shalat jumat saya tdk bsa karena tidak ada orang yang menghendel saya jaga warnet, jd skp sy sbaiknya bagaimana?

      :: oRiDo™ ::
      Setiap laki-laki muslim yang sudah aqil baligh, sehat tidak sakit, serta bermukim di tempat itu, wajib hukumnya melakukan shalat Jumat. Ini berlaku dalam segala kondisi, kecuali salah satu syarat wajib di atas tidak terpenuhi.

      Misalnya, orang itu bukan laki-laki tapi perempuan, maka tidak ada kewajiban atasnya untuk melakukan shalat jumat. Atau orang itu dalam keadaan sakit, maka gugurlah kewajiban atasnya melakukan shalat jumat. Atau orang tersebut tidak muqim, maksudnya sedang dalam keadaan safar (perjalanan), maka tidak ada kewajiban atasnya untuk melakukan shalat jumat.

      Dari syarat-syarat yang mewajibkan shalat Jumat di atas, beberapa alternatif solusi bisa dipikirkan. Sebelum kita sampai kepada lingkup darurat. Kalau pun alasan darurat itu mau dimasukkan, tentu berada pada urutan terakhir.

      Solusi yang masih mungkin adalah memberikan kesempatan untuk datang terlambat ke masjid, yaitu saat imam sudah mulai shalat. Secara fiqih hitam putih, seseorang yang ikut shalat Jumat masih dianggap sah meski tertinggal ikut khutbah, yang penting masih dapat ikut shalat berjamaah dengan imam. Hal itu ditandai dengan masih sempatnya ikut ruku” rakaat kedua bersama imam.

      Dan pada lapis terakhir, solusi yang mungkin adalah dengan alasan darurat. Namun alasan ini hanya boleh digunakan sesekali saja, tidak boleh rutin terjadi. Misalnya, karena satu dan lain hal, sehingga tertinggal dari shalat Jumat, maka bisa dimaklumi asalkan tidak setiap waktu.

    44. baginda Says:

      kk.bisa tolong ngasih contoh khubah jum’at yg lengkap ‘?
      please…

      :: oRiDo™ ::
      insyaAllah saya sedang mmbuat kumpulan khutbah jumat.
      semoga sempat dan segera selesai.. :)

    45. alifa Says:

      ASSALAMU’ALAIKUM wr wb

      sukron atas postingannya ya mas..

      sangat bermanfaat sekali bagi saya..

      WASSALAMU’ALAIKUM wr wb

      :: oRiDo™ ::
      wa’alaikum salam wr.wb.
      alhamdulillah..
      semoga berguna tidak saja untuk diri sendiri.. :)

    46. [DKMB] kumpulan aRtikel khutbah jum’at lengkap « oRiDo™ On wORds Says:

      [...] maRhaban yaa Ramadhan..[DOA] setelah shalat faRdhu[DOA] bacaan dan Rukun khatib jumat[DKMB] widget animasi islami untuk dipasang di WORdpRess dan BlOgspOt[DOA] adab membaca al-quR'an + [...]

    47. hmcahyo Says:

      saya donlod :D

      :: oRiDo™ ::
      semoga bermanfaat.. :)

    48. alfin Says:

      Assalamu’alaikum,

      Mas, boleh minta / tolong terjemahkan doa yg “barakallahu lii wa lakum fill qur’aanil azhiim….” Kedengarannya manjur, tp gak tau artinya :D

      Jazakallah.

      :: oRiDo™ ::
      wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh..
      artinya:
      “Semoga Allah memberikan berkah kepadamu dalam nilai2 kebenaran Al-Qur’an..”

    49. Ajang Lomba Terkini » Blog Archive » e-bOOk kumpulan aRtikel khutbah jum’at lengkap Says:

      [...] seperti janji saya di postingan sebelumnya, akhiRnya sudah selesai pembuatan e-bOOk kumpulan aRtikel khutbah jum’at (dalam bentuk [...]

    50. leena Says:

      gimana kalo suamiq kerja di daerah terpencil, (tengah laut/offshore), di benua lain .g” ada masjid ato apapun ato kawan muslim sekalipun, masihkah kewajiban sholat jumat itu ada padanya??? mohon jawabnya, disertai Al’quran n” hadist, thanks

      :: oRiDo™ ::
      Shalat jum’at adalah dua raka’at secara berjama’ah. Karenanya, siapa saja yang tidak mengerjakan shalat jama’ah jum’ah dari kalangan orang-orang yang tidak wajib shalat Jum’ah, atau berasal dari kalangan orang-orang yang berudzur, maka hendaklah mereka shalat dzuhur empat raka’at.

      begitu penting nya shalat jum’at sehingga sahabat melakukan perjalanan jauh utk dapat shalat jum’at, seperti tertulis dalam hadist berikut:
      Dari az-Zuhri, bahwa penduduk Dzul Hulaifah pada hari Jum’at berkumpul (shalat Jum’at) bersama Nabi saw. padahal jaraknya dan Madinah sejauh perjalanan enam mil. (Baihaqi III: 175)

      Jika tidak memungkinkan utk pindah tempat utk melakukan shalat jum’at, maka lakukan berjamaah dengan muslim yang ada, jika memang tidak ada kawan muslim lainnya, maka tidak wajib shalat jum’at, karena shalat jum’at dilakukan dengan berjamaah.

      wallahu’alam..

    51. deddy_ds Says:

      assalamu’alaikum…

      syukron jzk atas artikel yang bermanfaat ini. saya sangat membutuhkannya…

      ^_^

      salam ukhuwah…

      oRiD™ bilang:
      wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh..
      alhamdulillah..
      salam ukhuwah juga,. :)

    52. Jampang Says:

      Assalamualaikum Wr Wb,

      Ya akhi, saya dikota Pangkalpinang Bangka Belitung, menjadi makmun pada suatu masjid. Penyelenggaraan shalat Jumat yang berbeda dengan di pulau Jawa.

      Ada pembukaan pada awal berlangsung yang disampaikan oleh pembaca azan ke-2. Sebut saja secara terjemahannya kira-kira begini urutannya :

      1. Selamat datang para muslimin
      2. Penyampaian selamat berbahagia menghadiri sholat jumat ini.
      3. Hari yang mulia ini kita hendak mendengarkan dulu ceramah sang khatib yang sudah siap di mimbar
      4. Marilah kita dengarkan dengan penuh keseriusan, agar dapat diterima dan diamalkan ilmunya.

      Setelah itu, dia duduk di shaf terdepan …

      Pertanyaannya :
      1. Apakah yang dia ucapkan tersebut dalam bahasa arabnya?
      2. Mohon dapat ditulis dalam bahasa arab maupun lafaz latinnya.
      3. Dimana saya bisa mendapat referensi lengkap, tentang apa yang disebut pembantu khatib, sebagai contoh :

      Ada yang disampaikan pembantu khatib pada saat perpindahan ceramah-1 dan ke-2, bagaimana bahasa arabnya …

      Demikian. Terima kasih.

      oRiD™ bilang:
      wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh…
      maaf..
      untuk saat ini saya belum dapatkan bahannya..
      insyaAllah apabila saya dapatkan bahannya, saya akan share di sini..

    53. Halo dunia! « Marhamahsaleh's Weblog Says:

      [...] http://orido.wordpress.com/2008/11/18/doa-bacaan-dan-rukun-khatib-jumat/ [...]

    54. david santoso Says:

      mau tanya,doa di selah – selah antara khotbah pertama dan kedua itu gmn?

    55. John Hario Says:

      Terima kasih atas infonya…
      Sangat membantu…
      Wassalam…

      oRiD™ bilang:
      wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh..
      alhamdulilllah.. :)

    56. Bacaan dan Rukun khatib jumat « Alhakiki's Blog Says:

      [...] [DOA] Bacaan dan Rukun khatib jumat [...]

    57. prihandono Says:

      Terima kasih atas infonya mengenai tata cara penyelenggaraan shalat jumat.

      oRiD™ bilang:
      alhamdulillah..
      semoga bermanfaat.. :)

    58. nida Says:

      boleh kah wanita mnjadi imam ?

      oRiD™ bilang:
      jika sesama akhwat/wanita tidak apa..
      tetapi jika utk meng-imam-i lelaki tidak boleh.

      utk lebih jelasnya, silahkan lihat di artikel “Bila Wanita Menjadi Imam Jumat”

    59. aditkus Says:

      nice inpoh mas, ayo shalat jumat. sekarangkan jumat

      oRiD™ bilang:
      yuks.. :)

    60. al habsy Says:

      Syahadatnya mana mas? bukannya itu merupakan rukun ya

      oRiD™ bilang:
      berdasarkan sumber2 yang saya peroleh, tidak disebutkan mengenai syahadat,
      mungkin bapak bisa memberikan pencerahan terkait dengan hal tersebut?

    61. Nandi Says:

      terima kasih mas yang telah membikin situs tentang rukun2 khutbah jumat ini saya tertolong sekali terutama bacaan arabnya Terimakasih.

      oRiD™ bilang:
      alhamdulillah.. :)

    62. reza Says:

      seharusnya rukun khutbah itu ada 6.
      di sini tidak adayang waktu membaca syahadad.

      oRiD™ bilang:
      bisa kasih link utk info terkait?

    63. jaka Says:

      alhamdullillah…
      akhirnya, saya temukan juga

      oRiD™ bilang:
      alhamdulillah…

    64. iqy gzz Says:

      huft,,,, makasih yae dari web ini akhirnya aq bisa selesain tugas aq….. makasih… :)

    65. Muhammad Arif Says:

      Assalamualaikum Wr. Wb.

      Bukannya setelah membaca hamdalah kita membaca syahadat dulu, baru setelah itu membaca sholawat nabi?
      terimakasih

    66. emir musa Says:

      jazaakumullah akh…,
      salam kenal

    67. Contoh bacaan/doa Khutbah Jum’at « TIADA KEMULIAAN TANPA ISLAM Says:

      [...] [DOA] bacaan dan Rukun khatib jumat [...]

    68. M Ibnu Kafy Says:

      ada contoh isi khutbah nya ga?? penting nehh..soalnya d pondok psantren butuh banyak materi tentang khutbah jum’at. bhasa arab, inggris, ataupun indonesia

      oRiD™ bilang:
      ada kok..
      silahkan dilihat di [DKMB] e-book kumpulan khutbah jumat
      bisa di donlod.. ;-)

    69. indra Says:

      apakah dlm khotbah yang ke dua pada solat jum’at . rukunnya sama dengan khotbah pertama ?
      dan apakah hukumnya(sah atau tidak ) seorang khotib menyampaikan khotbah kedua didahului istighfar ada unkapan sedikt lansung doa dan penutup. tanpa mengucap hamdalah- shalawat dll nya ???

      oRiD™ bilang:
      saya rasa isi postingan ini sudah cukup menjawab pertanyaanya..
      silahkan di baca lagi..

    70. trio susanto Says:

      mas, bacaan/prolog untuk membuka majelis kajian/pertemuan sama dengan prolog sholat jumat?

    71. rizky Says:

      pak ustadz, maaf sebelumnya kayaknya rukunnya ada yg ketinggalan “membaca syahadat tauhid dan Rosul”

    72. Roelis Says:

      Akhi.., izin copy artikelnya ya…

      :: oRiD™ bilang ::
      silahkan ..
      semoga dapat menjadi amal kita semua.. :)

    73. arifin hadiarso Says:

      Ass.W.Wustd. mohon dijelaskan perbedaan antara retorika khotbah jumat dan ceramah agama biasa apakah ada ? misalnya sedikit joke agar jamaah solat jumat gak ngantuk.
      Lalu bagaimana rukunnya khotbah jumat yg mesjidnya pakai ‘tongkat’. Apakah ada dalilnya mengenai ‘tongkat’ tsb.
      Kemudian ada yg azan 1 X atau 2 X. tks atas penjelasannya. maklum baru belajar Khotbah. mohon doanya semoga Khotbah2 jumat yg sy lakukan sesuai dgn sunah Rosulullah. Wass.WW

      :: oRiD™ bilang ::
      wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh..
      untuk khutbah jum’at tidak di sarankan untuk ketawa-i,
      dalam khutbah jum’at disarankan dibawakan dengan penuh semangat seperti yang di contohkan oleh Rasulullah..
      sedangkan dalam ceramah keagamaan selain khutbah jum’at, boleh di bawakan dengan lebih kondusif.. ;-)

      saya belum menemui dalil terkait dengan penggunaan tongkat..

      dalam kumpulan artikel ini, ada artikel terkait mengenai adzan dua kali.. silahkan di cek..
      disebutkan:
      adzan Jum’at dua kali sudah menjadi “ijma’ sukuti”. Sehingga perbuatan itu memiliki landasan yang kuat dari salah satu sumber hukum Islam, yakni ijma’ para sahabat

      semoga bermanfaat..

    74. rolly Says:

      semoga bermanfaat amin….izin copy

    75. Asep Ahmad Ramdhani Says:

      idzin cofast

    76. sekar ayu Says:

      “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfa’at bagi orang-orang yang beriman.”
      (Q. Az Zariat 55)

      “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.”
      (Al Qur’an 002:159)

      “F A K T A”

      SIAPAPUN PRESIDEN DAN WAKILNYA – PANCASILA IDEOLOGINYA
      APAPUN AGAMA PRESIDEN DAN WAKILYNA – KUHP HUKUM-HUKUMNYA

      ISLAM DAN BERIMANKAH KITA DI HADAPAN ALLAH SWT?

      Assalamu’alaikum Wr. Wb.

      Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang seiman.

      Siapakah yang dinyatakan oleh Allah Swt orang-orang yang beriman, yang mereka itu diseru untuk mematuhi Allah dan rasul-Nya secara kaffah?

      – Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya; kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar beriman. (Q. Al Hujurat 15)

      Dan siapakah pula yang dinyatakan oleh Allah Swt orang-orang yang kafir?

      – Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (Q. Al Baqarah 6)

      – Hai orang-orang yang beriman, ber-Dinnul Islam-lah kamu secara kaffah (secara keseluruhan), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari Dinnul Islam) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q. Al Baqarah 208-209)

      – Pada hari ini, telah Aku sempurnakan Agamamu (Pedoman Hidup dan Kehidupanmu) untukmu. Telah Aku cukupkan nikmat-nikmat-Ku untukmu. Dan telah Aku ridhai (Aku setujui dan Aku restui) Islam sebagai Pedoman Hidup dan Kehidupanmu. (Q. Al Maidah 3)

      – Siapa saja yang mencari (apalagi yang memakai) pedoman hidup dan kehidupan selain Dinnul Islam, maka tidaklah akan diterima (tidak dinilai ibadah) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. (Q. Ali Imran 85)

      Bagi seluruh umat manusia, tidak terkecuali bangsa Indonesia yang telah bersyahadat menyatakan diri mereka Islam dan beriman, tentu mengimani Kebenaran Ketetapan Allah Swt yang tersebut di atas. Jika tidak, tentu mereka bukan orang-orang yang beriman.

      Intinya adalah, tidak ada agama atau pedoman hidup dan kehidupan yang lain bagi mereka, selain Dinnul Islam dan Nabi Muhammad Rasulullah Saw adalah panutan, contoh dan tauladan bagi mereka di dalam menata dan mengatur semua aspek hidup dan kehidupan mereka, baik di kala mereka hidup sendiri-sendiri berpribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara.

      Berdinnul Islam secara kaffah dengan mematuhi segala perintah adalah Perintah Allah Swt yang wajib dipatuhi oleh seluruh umat Islam yang beriman, sebagaimana realisasinya yang benar telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Rasulullah Saw pada masanya.

      Rasulullah Saw berpribadi, Rasulullah Saw berkeluarga, Rasulullah Saw bermasyarakat, Rasulullah Saw berbangsa, dan Rasulullah Saw bernegara. Bahkan, Beliau adalah kepala negaranya. Semua aspek hidup dan kehidupan Beliau berserta umat Islam yang beriman, begitu juga yang belum beriman yang berada di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah pada saat itu, ditata dan diatur berazastunggalkan Dinnul Islam seutuhnya atau yang lazim disebut dengan “secara kaffah”.

      Nabi Muhammad Rasulullah Saw tidak pernah mengajak bangsa Arab, baik yang kafir maupun yang beriman, dengan seruan Beliau yang seperti ini, misalnya: “Wahai saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Demi persatuan dan kesatuan bangsa Arab, marilah sama-sama kita rekayasa suatu ideologi yang baru, selain Dinnul Islam, kemudian kita lengkapi ideologi tersebut dengan hukum-hukum dan undang-undang serta peraturan-peraturan yang kita butuhkan. Kemudian, kita jadikan dan kita pergunakan ideologi kita tersebut berserta hukum-hukumnya sebagai satu-satunya azas pedoman hidup dan kehidupan kita berbangsa dan bernegara, baik bagi yang beriman maupun yang kafir, agar kita semua dapat selamat dan sejahtera di dunia dan akhirat”.

      Pernahkah Rasulullah Saw mencontohkan ber-Dinnul Islam seperti misal ajakan Beliau yang tersebut di atas?

      Bukankah misal ajakan Rasulullah Saw itu seperti kita beragama, berbangsa dan bernegara di Indonesia?

      Kalaulah kita, seluruh bangsa Indonesia yang telah bersyahadat menyatakan diri kita islam dan beriman, dan kita beriman sesuai dengan Ketetapan Allah Swt dan sesuai pula dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, tentu kita tidak akan pernah berideologi yang lain, selain Dinnul Islam, Pancasila misalnya, di dalam kita menata dan mengatur semua aspek hidup dan kehidupan kita, baik di kala kita beragama, berbangsa maupun bernegara. Seluruh aktifitas hidup dan kehidupan kita, bahkan mati kita pun hingga cara penguburan mayat kita haruslah berazas-tunggalkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Itulah Ketetapan Allah Swt bagi seluruh manusia yang mau digolongkan sebagai orang-orang yang beriman, yang imbalannya, adalah Jannah. Beriman dulu yang benar sesuai dengan Ajaran-Nya, barulah kemudian beramal saleh, yang harus juga sesuai dengan Bimbingan Allah Swt dan contoh serta tauladan yang telah diberikan oleh Rasulullah Saw. Maka barulah hidup dan kehidupan kita bernilai ibadah di sisi-Nya. Sebagaimana KetetapanNya atas penciptaan diri manusia.

      – Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.
      (Q. Az-Zaariyaat 56)

      Apakah Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam memang tidak berlaku atas umat Islam Indonesia?

      Ataukah kita, Umat Islam Indonesia yang jumlahnya mayoritas di Indonesia ini, telah mendapatkan dispensasi atau keringanan dari Allah Swt untuk tidak berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam tetapi kita masih dianggap beriman oleh Allah Swt di hadapan-Nya?

      Ataukah kita, umat islam Indonesia, yang tidak mau ber-Syariat Islam karena kita merasa berat mematuhinya, walaupun itu untuk kebaikan kita? Dan kalaupun kita mau ber-Syariat Islam, bagaimana mungkin kita dapat melaksanakannya karena kita masih tetap ber-Pancasila? Bukankah Pancasila juga mempunyai hukum-hukumnya sendiri yang harus dipatuhi oleh kita-kita yang ber-Pancasila? Sementara Allah Swt, yang kita imani dengan Dinnul Islam-Nya, juga mewajibkan kita, Umat Islam Indonesia, berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum-Nya atau Syariat Islam. Bahkan, Dia mengkafirkan siapa saja manusianya yang tidak mau, dan juga yang menolak atau tidak setuju atas pelaksanaan Syariat Islam.

      Bagaimanakah kita berpedoman di dalam menata dan mengatur semua aspek hidup dan kehidupan kita sebagai orang-orang yang telah bersyahadat menyatakan diri kita Islam dan beriman di dalam berbangsa dan bernegara?

      Siapa yang harus kita patuhi? Tuhan kita, Allah Swt, dengan Syariat Islam-Nya, ataukah Pancasila kita Nan Sakti dengan hukum-hukum thaghutnya?

      Bukankah ini artinya kita berdualisme dalam berpedoman, alias beragama “suka-suka”? Kita beragama sesuai dengan selera kita. Mana yang cocok dengan selera kita, kita patuhi. Dan mana yang tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu kita, kita ingkari. Kita beriman akan sebagian isi Al Qur’an dan kufur akan sebagian yang lainnya. Seperti inikah Rasulullah Saw mengajarkan dan mencontohkan kepada kita ber-Dinnul Islam? Koq kita tidak bermalu mengklaim diri kita sebagai umat Beliau?

      Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam tidak berlaku di Negara Republik Indonesia, karena NKRI bukanlah Negara Islam. Padahal, kabarnya, mayoritas penduduknya beragama Islam (?). Apakah ada Allah Swt memerintahkan dan meridhoi kita, seluruh Umat Islam Indonesia, untuk mendirikan suatu negara yang berideologikan ideolgi manusia dan berhukum serta berhakim kepada hukum-hukum buatan manusia alias hukum-hukum thaghut?

      Sewaktu berjuang merebut kemerdekaan kita berteriak, “Allahu Akbar!” Tetapi, setelah merdeka, di mana kita letakan Ideologi dan Hukum-Hukum Allah? Koq malahan ideologi manusia dan hukum-hukum thaghutnya yang kita jadikan pedoman hidup dan kehidupan kita berbangsa dan bernegara? Dengan cara seperti inikah kita bersyukur kepada Allah Swt?

      Wahai saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang seiman.

      Ini adalah FAKTA cara kita beragama. Kita ber-Dinnul Islam dengan cara kita, berdualisme dalam berpedoman, bukan dengan cara Rasulullah Saw yang hanya ber-Dinnul Islam secara kaffah. Beliau tidak berideologikan yang lain, selain Dinnul Islam, dan begitu juga para sahabat serta umat Islam yang beriman lainnya pada saat itu.

      Dan yang sangat naïfnya bagi kita adalah, kita selalu berdo’a memohon dan mengharapkan syafa’at beliau di kemudian hari. Tetapi ironinya adalah, disuruh beriman sebagaimana Rasulullah Saw beriman sajapun kita tidak mau. Koq, bisa-bisanya kita mengharapkan syafa’at beliau dan menginginkan Surga Allah?

      Oh, alangkah rancunya kita ber-Dinnul Islam karena kita berdualisme dalam berpedoman. Kita buat tandingan bagi Ideologi Allah Swt, yaitu Ideologi Panca Sila. Dan kita anugerahkan Pancasila kita itu dengan ungkapan yang hebat, yaitu “Nan Sakti” atau Yang Sakti, walaupun kita tahu Pancasila kita Nan Sakti itu tidak bisa menciptakan apa-apa, walau sehelai rambutpun, karena memang Pancasila itu bukan apa-apa, kecuali ideologi manusia yang membawa pengikutnya ke jurang neraka.

      Tidakkah cukup Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya) menjadi pedoman hidup dan kehidupan bagi orang-orang yang beriman?

      Ini adalah suatu perbuatan syirik yang tidak akan pernah diampuni oleh Allah Swt, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali kita bertaubat nasuha dengan meninggalkan Pancasila untuk selama-lamanya, dan kembali ke Dinnul Islam secara kaffah.

      Apakah orang-orang yang beriman seperti kita-kita ini yang dimaksud oleh Allah Swt sebagai pewaris surga? Surga itu milik siapa? Milik Allah Swt, atau milik Pancasila kita Nan Sakti? Atau memang ada Pancasila kita Nan Sakti memiliki Surga sehingga kita mau berhukum dan berhakim kepadanya? Ataukah kita yang memang tidak mempergunakan akal sehat kita? Tetapi yang jelas, kita mendahului hawa nafsu kita yang tidak terbimbing oleh Bimbingan Allah, yaitu Al Qur’an dan Sunnah Rasul, sehingga kita tidak saja beragama suka-suka, tetapi ternyata, kita juga berbangsa dan bernegara sesuka-suka kita. Ini adalah FAKTA yang ada di depan mata kita. Maukah kita kafir selamanya sampai ajal tiba menjemput kita?

      – Menetapkan Hukum itu hanyalah Hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi Keputusan yang paling baik. (Q. Al An’am 57)

      – Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Namun (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (Q. Al Ma’idah 50)

      – Siapa saja yang kafir sesudah beriman (karena tidak mau berhukum kepada Hukum-Hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. (Q. Al Ma’idah 5)

      – Siapa saja yang memutuskan (suatu perkara) tidak menurut apa yang diturunkan Allah, berarti mereka adalah orang-orang kafir. (Q. Al Ma’idah 44)

      Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang seiman.

      Orang-orang kafir atau masyarakat kafir, bangsa-bangsa kafir, negara-negara kafir, pemerintahan-pemerintahan kafir dan pemimpin-pemimpin kafir di seluruh penjuru bumi Allah ini tentu mereka semuanya tidak berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam karena mereka memang kafir atau tidak beriman kepada Dinnul Islam. Mereka berhukum dan berhakim kepada hukum-hukum thaghut, yaitu hukum-hukum yang dibuat oleh mereka sendiri, sesuai dengan apa yang mereka kehendaki, yang mereka anggap benar dan adil. Mereka tidak diperintahkan oleh Allah Swt untuk menata dan mengatur semua aspek hidup dan kehidupan mereka dengan berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam karena mereka memang tidak beriman kepada Dinnul Islam. Dan bagi mereka, Allah Swt telah menetapkan Ketetapan-Nya, yaitu Jahannam tempat kembali mereka. Itulah seburuk-buruknya tempat kembali.

      Hanya orang-orang yang beriman atau masyarakat yang beriman, bangsa-bangsa yang beriman, negara-negara yang beriman dan para pemimpin yang beriman yang tidak berideologikan yang lain, selain Dinnul Islam, yang mau dengan ikhlas karena iman, menata dan mengatur semua aspek hidup dan kehidupan mereka dengan berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

      Dan ber-Dinnul Islam secara kaffah dengan mematuhi segala Perintah, termasuk berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam hanya dapat dilaksanakan di suatu Negara atau Pemerintahan yang berazas-tunggalkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul, yaitu yang lazim disebut dengan Daulah Khilafah Islamiyah. Dan Daulah Khilafah Islamiyah tersebut tidaklah mungkin terbentuk dengan sendirinya atau orang-orang kafir yang mendirikannya kemudian dipersembahkan kepada Umat Islam Indonesia untuk mengelolanya. Ini adalah suatu hal yang mustahil. Tetapi sayang, sedikit sekali di antara kita yang memikirkannya. Padahal, Allah Swt telah mengisyaratkan dan Rasulullah telah mencontohkan kepada orang-orang yang beriman untuk memiliki suatu wadah pemerintahan yang berazas-tunggalkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul.

      – Wahai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q. An Nisa’ 59)

      Bahkan di dalam tatanan Pemerintahan Islam sekalipun di mana ada orang-orang kafir atau non muslim yang di lindungi oleh Pemerintah atau Negara Islam, Allah Swt telah memperingatkan kita untuk berhati-hati di dalam memilih para pemimpin, jangan sampai Pemerintahan Islam tercemar dengan unsur-unsur kafirun dan munafikun.

      – Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu jadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Siapa saja di antara kamu memilih mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim. (Q. Al Ma-idah 51)

      – Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Siapa saja yang berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apa pun dari Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembalimu. (Q Ali Imran 28)

      – Wahai orang-orang yang beriman!
      Janganlah kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu menjadi pemimpin-pemimpinmu, jika mereka memilih kekafiran daripada keimanan. Siapa saja di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Q. At-Taubah 23)

      Akankah kita beriman di kala kita berbangsa dan bernegara sesuai dengan Petunjuk dan Ketetapan Allah Swt seperti apa yang disampaikan di atas agar kita tidak tergolong orang-orang yang merugi di kemudian hari, ataukah kita harus selamanya beragama seperti nenek moyang kita beragama walaupun mereka tidak berada di atas Kebenaran Illahi?

      Oleh sebab itu, marilah kita semua, Bangsa Indonesia yang telah bersyahadat menyatakan diri kita Islam dan beriman, bertaubat nasuha dengan meninggalkan semua ideologi yang bukan Ideologi Allah, Pancasila misalnya, dan kembali ke jalan yang benar, yaitu Ideologi Allah – Dinnul Islam – Al Qur’an dan Sunnah Rasul agar kita semua dapat selamat di dunia dan akhirat.

      – Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menta’ati orang-orang yang kafir, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (menjadikan kamu kembali kafir), lalu jadilah kamu orang-orang yang merugi. (Q. Ali Imaran 149)

      – Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir. (Q. Ali Imran 32)

      – Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Qur’an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali. (Q. Al Qasas 85)

      Wahai saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang seiman.

      Sebagai Bangsa Indonesia yang telah bersyahadat menyatakan diri kita Islam dan beriman, maka haruslah kita sadari dan kita insyafi bahwasanya:

      1. Pancasila bukanlah Agama Islam. Bahkan, bukan pula agama Bangsa Indonesia. Dan Agama Islam tentu bukan pula Pancasila karena Pancasila memang bukan Agama. Maka benarlah pernyataan para pancasilaist, “Pancasila bukan agama!”.

      2. Pancasila adalah ideologi manusia, sedangkan Dinnul Islam adalah Ideologi Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Allah Swt, Tuhannya orang Islam yang benar-benar beriman, yang beriman sesuai dengan Petunjuk dan Ketetapan-Nya.

      3. Ber-Pancasila bukanlah berarti ber-Dinnul Islam ataupun beragama yang lain karena tidak ada satupun agama yang dianut oleh bangsa Indonesia yang berakidahkan Pancasila. Berdinnul islam bukanlah berarti berpancasila karena memang tidak ada sangkut pautnya diantara Dinnul Islam dengan Pancasila. Sungguh sangat nyata perbedaannya. Bagaikan siang dengan malam. Yang satu adalah Ideologi Allah Swt, Yang Haq, dan yang lain adalah ideologi manusia atau Yang Bathil. Al Qur’an adalah pembeda diantara yang Haq dan yang Bathil.

      4. Berpancasila berarti harus berhukum dan berhakim kepada hukum-hukum Pancasila, yaitu hukum-hukum yang dibuat oleh manusia. Diberlakukan atas seluruh bangsa Indonesia. Suka atau tidak suka, wajib dipatuhi oleh seluruh warganegara Republik Indonesia yang berazastunggalkan Pancasila. Kalau tidak dipatuhi, tentu ada sanksi atau hukumannya, baik pidana maupun perdata.

      5. Beragama Islam berarti harus pula berhukum dan berhakim kepada hukum-hukum Islam atau Syariat Islam, yaitu Hukum-Hukum yang Diciptakan dan Diwajibkan oleh Allah Swt atas seluruh umat manusia yang telah bersyahadat menyatakan diri mereka Islam dan beriman agar dapat diakui oleh Allah Swt, sesuai dengan Ketetapan-Nya, sebagai orang Islam yang benar-benar beriman. Dengan kata lain, bagi manusia yang telah bersyahadat menyatakan dirinya Islam dan beriman, dengan suka rela ataupun terpaksa, mereka harus berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah, karena kalau tidak, berarti mereka bukanlah orang-orang yang beriman. Dan fakta membuktikan, memang orang-orang yang tidak beriman alias orang-orng kafir yang tidak berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam di dalam mereka menata dan mengatur semua aspek hidup dan kehidupan mereka di dunia ini.

      6. Allah Swt mengkafirkan siapa saja manusianya yang tidak mau beriman kepada Dinnul Islam, dan yang memutuskan suatu perkara tidak menurut apa yang telah diturunkan-Nya. Dia juga menjadikan kembali kafir di hadapan-Nya, siapa saja manusianya yang telah bersyahadat menyatakan dirinya Islam dan beriman, tetapi tidak mau menerima atau menolak Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam diberlakukan atas dirinya, atas keluarganya, atas masyarakatnya, atas bangsanya dan atas negaranya. Maka hapuslah amalannya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.

      7. Sesungguhnya Allah Swt telah memberi kebebasan kepada manusia untuk menentukan pilihannya, di antara keimanan dan kekafiran, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari seperti apa yang telah menjadi Ketetapan-Nya berikut ini.

      – Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka siapa saja yang ingin (beriman) silahkan ia beriman dan siapa saja yang ingin (kafir) silahkan ia kafir. (Q. Al Kahf 29)

      8. Dan apabila kita mengikuti dan mematuhi dengan senang hati alias ridho kepada para pemimpin dan pembesar negeri yang kafir, yang memimpin tidak berazastunggalkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul, maka kita akan menerima balasan seperti apa yang telah menjadi Ketetapan Allah Swt berikut ini.

      – Tidakkah kamu perhatikan orang-orang (para pemimpin) yang telah menukar nikmat Allah (Bimbingan Allah) dengan kekafiran (yang bukan Bimbingan Allah) dan menjatuhkan pengikutnya (rakyatnya) ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruknya tempat kediaman.
      (Q. Ibrahim 28 – 29)

      – Orang-orang (para pemimpin) kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah (tandingan bagi Ideologi Allah) supaya mereka menyesatkan (rakyatnya) dari Ideologi-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah kamu karena sesungguhnya tempat kembalimu adalah neraka.” (Q. Ibrahim 30)

      – Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Tetapi mereka masih mau berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya. ( Q. An Nisa’ 60)

      – Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (patuh) kepada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul,” niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati)mu.
      (Q. An Nisa’ 61)

      – Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Q. An Nisa’ 65)

      – Apakah kamu beriman (mendengar dan mematuhi) kepada sebahagian Al Kitab (Bimbingan Allah) dan kafir (mendengar dan mengangkangi) terhadap sebahagian yang lain? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. (Q. Al Baqarah 85)

      – Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain),” serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir), mereka itulah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya (dedongkot kafir). Kami telah menjadikan untuk orang-orang kafir seperti itu siksaan yang menghinakan. (Q. An Nisa’ 150-151)

      – Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang dzalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. (Q. Al An’am 44 – 45)

      – Siapa saja yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.
      (Q. An Nahl 106-107)

      – Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukanlah orang-orang yang beriman.
      (Q. Al Baqarah 8)

      – Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran dan untuk memecah belah (persatuan dan kesatuan) di antara orang-orang yang beriman, serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, “Kami hanya menghendaki kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta (dalam sumpahnya).
      (Q. At Taubah 107)

      – Jangalah engkau melaksanakan sholat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan sholat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih (akidahnya).
      (Q. At Taubah 108)

      – Demi masa.
      Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasehati untuk menta’ati kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. (Q. Al ‘Asr 1-3)

      – Dan ta’atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.
      (Q. Ali Imran 132)

      Wahai saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang seiman.

      Jadi sudah jelaslah bagi kita, seluruh Umat Islam Indonesia, bahwasanya kalau ada di antara kita, siapa pun dia adanya dan apa pun status sosial dan profesinya, yang telah bersyahadat menyatakan dirinya Islam dan beriman, tetapi pada kenyataannya, dengan suka rela dan senang hati mengambil dan menjadikan Ideologi Pancasila berserta undang-undang dan hukum-hukumnya sebagai pedoman hidup dan kehidupannya, baik untuk dia berpribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara, maka dia sesungguhnya bukanlah tergolong orang-orang yang beriman di hadapan Allah Swt.

      – Katakanlah: “Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling merugi perbuatannya?”. Yaitu orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat.

      – Berkatalah orang yang beriman,
      “Wahai kaumku!
      Ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar.

      Wahai kaumku!
      Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.

      Siapa saja mengerjakan perbuatan jahat, maka dia akan dibalas sebanding dengan kejahatan itu. Dan siapa saja mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tidak terhingga.

      Dan wahai kaumku!
      Bagaimanakah ini, aku menyerumu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeruku ke neraka?

      (Mengapa) kamu menyeruku agar kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang aku tidak mempunyai ilmu tentang itu, padahal aku menyerumu (beriman) kepada Yang Maha Perkasa, Maha Pengampun?

      Sudah pasti bahwa apa yang kamu serukan aku kepadanya bukanlah suatu seruan yang berguna baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya tempat kembali kita pasti kepada Allah, dan sesungguhnya orang-orang yang melampui batas, mereka itu akan menjadi penghuni neraka..

      Maka kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepadamu. Dan aku menyerahakn urusanku kepada Allah. Sungguh Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”. (Q. Al-Mu’min 38 – 44)

      – Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu Ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan siapa saja mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.
      (Q. Al-Ahzab 36)

      – Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.

      Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).

      Dan ikutilah sebaik-baiknya apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Qur’an) dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu secara tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya”. (Q. Az-Zumar 53 – 55)

      Wahai saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang seiman.

      – Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al Qur’an), mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat, kecuali mereka yang telah bertaubat, mengadakan perbaikan dan menjelaskan(nya), mereka itulah yang Aku terima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang. (Q. Al Baqarah 159-160)

      – Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling dari padanya?
      (Q. As-Sajdah 22)

      PEMILU 2014 telah di depan mata
      Saat yang tepat untuk kita bertaubat nasuha
      Kalau kita memang masih beriman kepada-Nya
      Tentu kita tidak akan dapat menyertainya, karena Allah Swt melarangnya.

      Para pemimpin yang dipilih
      Dan semua rakyat yang memilih
      Semua mereka wajib berhukum dan berhakim kepada hukum-hukum Pancasila
      Itulah yang membuat kita menjadi kembali kafir di hadapan-Nya

      Membersihkan qalbu setiap hari
      Setelah bersih, dengan apa diisi?
      Apakah diisi dengan Pancasila Nan Sakti
      Ataukah diisi dengan Wahyu Illahi?

      Inilah fakta hidup dan kehidupan kita
      Bangsa Indonesia yang telah menyatakan diri kita Islam dan beriman
      Ternyata di hadapan Allah kita belum beriman
      Karena kita masih mau berideologi yang lain selain Dinnul Islam, yang membuat kita tidak berhukum dan berhakim kepada Syariat Islam

      Ini hanyalah sebuah peringatan
      Yang disari dari kitab suci Al Qur’an.

      Mau beriman, silahkan beriman
      Mau kafir, silahkan kafir
      Sudah jelas mana yang haq dan mana yang bathil
      Orang lain tidak menanggung dosa orang lain

      Maha Suci Allah Yang Mengkafirkan manusia yang tidak mau berhukum dan berhakim kepada hukum-hukum-Nya. Dan hukum-hukum-Nya hanya dapat dilaksanakan di Pemerintahan Islam, suatu pemerintahan yang berazastunggalkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Dan Pemerintahan Islam tidak akan pernah ada sampai hari kiamat kalau umat islamnya tidak pernah mau mengadakannya.

      Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain Dia. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya). (Q. Al A’raf 3)

      Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. (Q. Al Buruj 10)

      Dan siapa saja yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal dia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya. (Q. An Nisa’ 93)

      Sesungguhnya orang-orang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. (Q. An Nisa’ 150-151)

      Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q. Al Baqarah 208-209)

      Apakah kamu beriman (mendengar dan mematuhi) kepada sebagian Al Kitab (Bimbingan Allah) dan kafir (mendengar dan mengangkangi) terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (Q. Al Baqarah 85)

    77. riskimohamad Says:

      welcome kaum muslimin
      lengkap dgn doa nya ya ini namanya untk memperkokoh isla betu…………………/tidak?

    78. riskimohamad Says:

      dan semoga bermanfaat bagi kaum mislim :)

    79. AcerNoval Says:

      waduh !!! makasih banyak yaa ~~~!!!! ini yang saya cari2 !!
      situs ini yang saya temukan,., hanya di situs ini !!
      sama saya follow yya

      • reN Says:

        ohya,, mau nanya Nich..
        Klo bacaan pada khutbah kedua setelah do’a, itu terdapat dalam al – qur’an, surat apa yach??
        makasih yach..
        N jangan Lupa tuch jawabannya yang benar,, heheh

    80. sukma Says:

      thank’s ya………….:D :D :D

      • sukma Says:

        ass……..
        saya mw nanya nih kk………rukun khutbah-nya sesuai nggak dengan pelajaran di smp kelas 7…….??????bls ya kk…….

    81. diana tyas ristanti Says:

      kok,,,,,,,
      cuma ada 4 sich… kta guru saya ada 5
      mas,,,, tlong d ksih tau sampe komplit y….
      soalnya sya d suruh mempelajari ttg solat jumat
      jdi sya mohon tlong d bls y dgn cepat sebelum tgl 20,04 2011
      PLEASE……….

      :: oRiD™ bilang ::
      silahkan di share utk ke lima item tersebut di sini.. :)

    82. aa eki Says:

      Wah bagus sekali,, pas dengan yg saya lagi cari..
      pendapat saya: akan lebih bagus lagi bila ditambah arti dari bacaannya.. terima kasih..

    83. dimas Says:

      bagus jga y

    84. akhmad Says:

      kang,doa apa yg di baca seorang khotib jumat selagi turun mimbar pertama?

    85. iip Says:

      mas, rukun khurbahnya kok tidak ada bacaan syahadatnya???

    86. Andy Syatria Says:

      ass wr wb
      apakah arti dari doa penutup khutbah kedua??

    87. suhendricreative Says:

      Assalamu aalaikum sahabat.

      Nice post membantu sekali ini artikel step-step-Nya pas bngt!
      Cocok ni jadi referensi tugas agaman teman saya. hehe
      Visit my blog sahabat.

      http://berbagi-kreativitas.blogspot.com/

    88. Tanto Says:

      Ass.W.W. Ustadz.
      Mohon penjelasan… Seperti biasanya kalau kita sudah Sholat Jumat di mesjid berarti kita tidak perlu lagi melaksanakan sholat Dzuhur lagi. Yanga saya mau tanya, Adakah Hadist yang menyebutkan bahwa sholat Jumat dapat memnggantikan sholat Dzuhur…. Sampai sekarang saya masih penasaran… Tolong pencerahannya Ustadz.
      Wass W. W.

    89. Penghasilan Multi dari UangDownload Says:

      artikel yang bagus, nunut copi buat koleksi pribadi, terima kasih

    90. imam sahroni Says:

      Ass.saya mau mtk do’a. .untuk naikan khotib.setelah azan pertama?ok trim’s

    91. izzul Says:

      syukron kasiran..

    92. haidir Says:

      assalamualaikum…

      berguna bgt nih mas artikelnya…

      izin copas ya mas, tugas sekkolah nih…hehehe
      makasih

    93. Moh Johan ŚēnŚēīī-' Says:

      Dzikir sehabis subuh apa boleh dipakai sehabis shalat jum’at

    94. Rixas Says:

      bang bisa diartiin ga doa doa sholat jumat yg diatas ?

    95. susie Says:

      subhanalloh, terimakasih telah membuat blog ini, saya banya dapat ilmu

    96. ivan Says:

      Ass.Wr.Wb Pak Ustadz..kalau diantara 2 khutbah khotib jum’at tidak duduk..gimana hukumnya? duduk diantara 2 khutbah termasuk syarat. Mohon penjelasannya!

    97. kristo tasty Says:

      Alhamdulilillah ktemu jg …
      izin download y .. mga yg mempost dpt pahala dr ALLAH SWT. amin

    98. nofri Says:

      alhmdulillah…sangat membantu ….
      mohon izin copy..
      wat tugaz besok neh..

      moga yang mempost sllu d limpahkan pahala oleh ALLAH SWT
      amiennn

      maksih…

    99. fyan achmed Says:

      Reblogged this on fyan svnfoldism and commented:
      mas ijin reblog ya buat

    100. yanti Says:

      mengapa khotib tidak bebas dalam melaksanakan khotbah sesuai keinginannya ?

    101. arif Says:

      alhamdulillah, rukun khotib tsb dpt membabtu saya
      saya ucapkan jazakumullah khoirunjaza jazaan kasyiro

    102. suhada Says:

      Assalamu’alaikum… Apa sih yg di bca ktika khatib du2k sbntar antra khutbah ke 1 dan ke 2 mnurt al-qur’an n hadits… Di tnggu jwaban ny… Trima kash.. Assalamu’alaikum…

    103. misgi Says:

      request khotbah temanya “cinta tanah air”

    104. andi Says:

      izin copy ya,…
      makasih sebelumnya.

    105. MUHAMMAD TAQI NABILUL LUBAB Says:

      waaa..h Do’anya bagus banget’z makasihya !!! JAZAKUMULLAH

    106. lolita imut Says:

      baguss nihh..lngkp bgt..

      • lolita imut Says:

        izin copy jg y..buat tugas..

    107. bintan Says:

      terima kasih ,,,,sangat bermanfaat

    108. Raden Noor Ariefien Says:

      Assalamualaikum,
      ane mau ikut berkomentar.

      Khutbahnye bagus amat.

      ane share ya. :)

    109. wahyu Says:

      Syukron, Mohon buat khutbah jum’a yang up to date, untuk bahan ane pas giliran khotib

    110. kelik sigit Says:

      maaf mas mau tanya materi berbeda, kalau ada ikhwan shalat fardhu sendiri di musholla,kemudian datang akhwat bermaksud ingin mnjadi makmum, bagaimana caranya memberi tau ikhwan tersebut yg sedang shalat,, trimakasi…

    111. abdul rohman Says:

      mas q ijin copy ya ,,,,buat belajar

    112. darma Says:

      asalamualaikum.
      terimakasih atas saran saran rukun khutbahnya ya gan. semoga dengan ini saya bisa menag lomba, amin

    113. فيصل (@irfaishol) Says:

      khutbah merupakan rukun sholat jum’at, pengganti 2 raakaat awal sholat dzuhur. tidak saha apabila sholat jum’at tapi ketinggalan khutbah. wallahu a’lam

    114. tyo Says:

      assalamualaikum wr wb. terima kasih atas informasi mengenai sholat jumat nya,. mohon izin telah mengcopy data doa khutbahnya

    115. muhammad faisal Says:

      ini contoh penutupnya bgai mna..? tolong bimbingannya…

    116. hendra Says:

      kata allah swt
      saya pernah membaca buku agama islam
      Barangsiapa yang berbicara pada saat khotib berkhutbah bada shalat jum’at maka shalatnya sia-sia
      Jgnkan berbicara msalah dunia berbicara msalah agama saja tida dibolekan pada saat khotib berkhutbah

    117. KUMPULAN DOA « Dedi Hermawan Says:

      [...] [DOA] bacaan dan Rukun khatib jumat [...]

    118. Friday Sermon 1 | Herry Santosa Says:

      [...] http://orido.wordpress.com/2008/11/18/doa-bacaan-dan-rukun-khatib-jumat/ [...]

    119. Friday Sermon 2 | Herry Santosa Says:

      [...] http://orido.wordpress.com/2008/11/18/doa-bacaan-dan-rukun-khatib-jumat/ [...]

    120. Friday Sermon 3 | Herry Santosa Says:

      [...] http://orido.wordpress.com/2008/11/18/doa-bacaan-dan-rukun-khatib-jumat/ [...]

    121. Friday Sermon 4 | Herry Santosa Says:

      [...] http://orido.wordpress.com/2008/11/18/doa-bacaan-dan-rukun-khatib-jumat/ [...]

    122. iwan Says:

      assalamu’alaykum mau ngasih masukan saja , pengucapannya ada yg salah “alaynaa ishron kamaa halamtahuu ‘alalladziina min qoblinaa” harusnya bkan “halamtahuu tp hamaltahuu” makasih

    123. Hamba Allah Says:

      artikel anda bagus-bagus tp kenapa jawaban dr pertanyaan kurang mengena? apa mungkin plagiat? apapun itu, semoga Allah membalas amal kebaikan anda, Amiin Ya Robb…

    124. Adam hadi suyanto Says:

      Makasi:)

    125. trisna Says:

      Assalamualaikum wr wb ustad…
      Sekarang ini saya sedang ada di jepang bersama 2 orang teman saya.
      Karena kami ingin menjalankan kewajiban shalat jumat, maka kami melakukan shalat jumat bertiga di kamar.
      Apakah itu sah apa tidak secara hukum atau rukun jumat ?

    126. ahmad faisol Says:

      izin copas ustadz..

    127. Ratu Fitria Says:

      terimakasih atas info khutbahnya Dari : Ratu Fitria

    128. ace maxs Says:

      apa pahala bagi umatNy yang suka khutbah?
      terimakasih ;)

    129. siti fatiimah Says:

      KALAU ADA KHOTIB MENUTUP KUTBAH PERTAMA DAN KEDUA DOANYA DGN LANGSUNG DOA BAROKALLAH…SAMPAI SELESAI JUMTAN SAH APA TDK, KARENA TDK PAKAI ALLHUMAFIR…


    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 444 pengikut lainnya.

    %d bloggers like this: